Beranda

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Biografi KH. Muhammad Abubakar, Guru Besar Alkhairaat Tilamuta, Gorontalo


Kenalkan, Ini Aba Saya
(Oleh: Abdurrahman Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Tepat tanggal 8 Februari 1957, di Desa Bunuyo Kec. Bumbulan, lahirlah putra pertama dari pasangan Igris Abubakar dan Syarifah Jaini yang diberi nama Muhammad. Ketika anak kecil ini berusia tujuh tahun, ayahnya kembali berpulang ke hadirat Ilahi. Sejak saat itu sang anak tumbuh sebagai anak yatim menemani ibu dan seorang saudara laki-lakinya, yang biasa kami panggil dengan nama Ami Ale. Dari usia yang sangat dini, sebagai saudara tertua, dia merasa bertanggungjawab untuk menggantikan posisi ayahnya menghidupi ibu dan adiknya. Ia bukan dari keluarga kaya, jadi harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Masa Kecil
Sejak kelas 4 SD ia sudah mulai bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ia seringkali harus tidur di kebun untuk menjaga jangan sampai ada hewan masuk merusak tanaman. Sejak kecil ia sudah biasa hidup mandiri. Di kalangan kawan-kawannya, ia dikenal sebagai seorang yang ulet, terampil dan pekerja keras. Kawan-kawannya sering memuji hasil kerjanya dengan mengatakan “te Tuu uwito wanu mokaraja beresi daa” atau “wanu masalah mobala te Tuu ta jago liyo.”

Tekanan kehidupan yang sangat miskin itu tidak pernah membuatnya meminta-minta kepada orang lain, dalam keadaan apapun. Ia sangat menjaga diri dan melarang keras anak-anaknya untuk melakukan hal itu (minta-minta).
Kerja keras yang ia lakukan tidak sampai membuatnya kehilangan kebahagiaan masa kecil. Permainan yang paling ia sukai adalah main alanggaya (layang-layang) dan pa’i (gasing). Ia selalu unggul dalam dua jenis permainan ini. Kesibukan di kebun tak membuatnya lupa dengan sekolahnya. Ia tetap menjadi siswa yang berprestasi dalam masa-masa di sekolah itu.

Masa Remaja
Setelah lulus SD, ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia memberanikan diri menuturkan hal ini kepada ibunya. Niat mulia ini beroleh tanggapan yang luar biasa dari sang ibu. Ibunya hanya mampu menjawab dengan linangan air mata, sambil berujar Hiyambola bopotaliyala bo’o diya’a uty“ (Untuk beli baju saja tidak ada Nak, bagaimana mau sekolah?)

Sebagai seorang anak berbakti, ia paham akan arti tangisan itu. Ia mengerti bahwa ibunya ingin ia tetap sekolah tapi tidak mampu untuk membiayayinya. Seusai mendengar kata-kata itu, tanpa banyak bicara, ia langsung ke dapur mengambil parang dan pacul. Ia menuju kebun melanjutkan profesi sebagai seorang petani. Selain bertani, ia mendalami satu keterampilan lainnya yaitu membuat batu bata merah (batu tela).

Walaupun hidup bergelut dalam dunia penuh kerja keras ini, dalam hatinya masih ada perasaan cinta ilmu. Ia suka menghadiri ceramah-ceramah agama yang diadakan di kampung . Tak jarang ia menempuh jarak 10 km pulang pergi, dari Bunuyo ke Soginti, untuk menghadiri ceramah-ceramah itu. Perjalanan sejauh ini baginya sudah biasa. Sebab sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD ia sudah menempuh perjalanan ke sekolah yang berjarak delapan kilometer dari rumah dengan menggunakan sandal atau tanpa alas kaki sama sekali.

Ia juga banyak belajar dari Pak Ki’o, guru agama yang ada di Desa Bumbulan saat itu. Ia belajar Nahwu, Sharaf, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ia juga belajar memahami isi Al-Qur’an yang diajarkan oleh Pak Ki’o. Semua pelajaran ini menggunakan Bahasa Gorontalo. Pelajaran menerjemah Al-Quran bisa diselesaikan hingga juz delapan belas. Ia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar saat itu. Ia cuma paham dua bahasa yang ada di dunia, yaitu Bahasa Gorontalo dan sedikit-sedikit Bahasa Arab.

Selain belajar, ia juga mengajar anak-anak kampung mengaji. Dari mengajarkan mereka huruf hijaiyah, a ba ta tsa, sampai benar-benar bisa mengaji dengan baik. Kegiatan mengajar mengaji, belajar Nahwu-Sharaf, membuat batu bata, menemani ibu di rumah, dan bekerja menjaga tanaman di kebun menjadi kombinasi tertata dari sebuah siklus kehidupan anak manusia. Di dalam gelapnya Bumbulan saat itu, di pelosok desa yang belum terjangkau listrik, di tengah kesunyian suasana kampung yang masih menghijau, ia mengukir kisah hidupnya.

Kembali Sekolah
Enam tahun putus sekolah—dari usia 12 tahun sampai usia 18 tahun—tidak membuat semangatnya untuk menuntut ilmu menjadi luntur. Peristiwa di hari itu telah memberinya seberkas cahaya terang yang menyinari hidupnya. Saat ia belajar pada Pak Ki’o, datang Hal Umar Al-Amri, menemui Pak Ki’o. Saat itu Hal Umar sedang mengajar di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Hal Umar mengatakan akan membawanya untuk belajar di Tilamuta. Mulanya ibunya tidak mengizinkan karena tidak ada lagi yang akan membantunya dalam bekerja mencari nafkah. Namun Allah membukakan hati sang ibu untuk berbesar hati dan mengizinkan anak tercinta pergi belajar.

Di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta ia masuk Madrasah Ibtidaiyah. Tapi tak lama, hanya empat bulan. Setelah itu langsung naik ke kelas I Tsanawiyah. Tidak lama berselang, ia dipindahkan ke Madrasah Tsanawiyah Al Huda Kota Gorontalo dan langsung dimasukkan ke kelas II MTs. Tidak lama di kelas II, ia langsung dipindahkan ke kelas III MTs dan akhirnya lulus pada tahun itu juga dengan nilai yang sangat memuaskan.

Melihat prestasi gemilang yang ia tunjukkan, maka guru-guru di Madrasah Al Huda saat itu mengirimnya ke Madrasah Aliyah Alkhairaat Pusat Palu. Hanya sebentar saja berada di kelas I, ia langsung diloncatkan ke kelas III Madrasah Aliyah dan ikut ujian pada tahun itu. Walaupun statusnya sebagai santri baru, ia bisa melalui ujian akhir kelas III dengan baik dan lulus dengan nilai terbaik.

Di kota Palu, ia tidak hanya mengikuti pelajaran formal saja. Ia rajin berkunjung ke rumah Habib Saqqaf Aljufri, Habib Abdillah, Ust. Mahfudh Godal, KH. Rustam Arsyad, dan banyak guru-guru senior Al Khairaat murid dari Guru Tua, Habib Idrus bin Salim Aljufri, untuk talaqqi dan qira’ah, baca kitab secara langsung di hadapan mereka. Kemampuannya dalam Nahwu meningkat pesat dibanding kawan-kawannya yang lain. Akibat dari suhbatul ustadz ini juga, akhirnya ia sering diajak oleh Habib Saqqaf ketika ada perjalanan keluar kota.

Setelah lulus Madrasah Aliyah, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan ke Mesir. Namun karena persoalan biaya dan belum mendapatkan izin dari Ketua Utama Alkhairaat, HS Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri, keinginan mulia itu belum bisa terwujud. Ia tidak berkata apa apa. Dalam hati ia hanya berdoa agar kelak ada keturunannya yang bisa melanjutkan cita-citanya melanjutkan pendidikan ke Mesir. Doanya terkabul. Tiga orang anaknya akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Kota Seribu Menara, Kairo-Mesir.

Pengabdian
Setelah tidak mendapat izin dari Habib Saqqaf, ia kembali ke pekerjaan semula, yaitu mengabdikan diri di Alkhairaat untuk mengajar. Jiwa kealkhairaatan sudah mendarah daging dalam dirinya. Kepada anak-anaknya ia pernah berwasiat “Di manapun kamu berada, Nak, jangan pernah lupakan Alkhairaat. Kamu harus menghidupkan Alkhairaat dan bukan mencari kehidupan di Alkhairaat!

Pernah sekali waktu ada pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia ingin ikut masuk dalam pengangkatan itu. Tapi setelah berkonsultasi ke Habib Saqqaf Aljufri, ternyata Beliau belum mengizinkan. “Muhammad Ente tidak usah jadi pegawai negeri!” kata Habib. Karena Habib sudah bertitah, akhirnya setelah itu ia tidak pernah lagi ikut pengangkatan dan tetap dalam profesinya sebagai guru. Jiwa keta’atan dan kepatuhan kepada guru inilah salah satu yang —barangkali—membuat hidupnya menjadi lebih berkah.

Pindah ke Tilamuta
Tahun 1984 Hal Umar datang ke Palu untuk meminta guru, karena pada waktu itu Tilamuta kekurangan tenaga pengajar. Ia pun terpilih untuk diutus ke Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Mulanya ia agak berat meninggalkan kota Palu. Sebab itu berarti ia akan berada jauh dari guru-gurunya. Ia pun sudah bisa beradaptasi dengan masyarakat di sana. Apalagi ketika itu Tilamuta masih sebuah kecamatan yang terpencil. Akhirnya, ia dipanggil oleh salah seorang gurunya yang bernama Ust. Muhammad Lationo (mantan Sekjen Alkhairaat), menyemangatinya untuk kembali pulang ke kampung halaman. Ust. Muhammad Lationo sendiri yang mengantarnya ke Tilamuta, melalui perjalanan darat yang sangat melelahkan.

Satu hal yang paling disyukurinya ketika berada di Tilamuta adalah ia bisa kembali berkebun. Tilamuta masih sangat rimbun dan menghijau. Ia bisa kembali akrab dengan pisang, jagung, kelapa, dan berbagai tanaman lainnya. Sebab memang aslinya ia adalah seorang petani. Petani yang sempat sekolah. Ia juga aslinya adalah seorang pembuat batu bata dan tukang kayu. Tukang yang tidak punya alat dan perkakas.

Di usia yang sudah matang itu, 27 tahun, ia masih saja membujang. Hingga tibalah saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, takdir Allah mengantarkan dirinya ke depan pintu gerbang kebahagiaan selanjutnya, Guru-gurunya menawarkannya menikah dengan seorang bidadari dari Marisa, dari Abdullah Bamu, seorang tokoh masyarakat yang ada di sana. Gadis itu bernama Sa’diyah. Ia terima tawaran itu dengan ucapan alhamdulillah karena ternyata orang yang ditawarkan itu adalah kakak kelasnya sewaktu di kota Palu, namun akhirnya menjadi adik kelas ketika ia loncat kelas. Satu hal lain yang ia syukuri sebab ternyata gadis itu adalah orang yang ia cintai jauh sebelumnya. Tahun 1984 menjadi tahun yang tak terlupa. Di tahun itu ia menamatkan bagian terakhir dari Bab Bujangan, untuk pindah ke bab selanjutnya dari buku kehidupannya.

Hadirnya sang istri adalah salah satu karunia yang terindah dalam hidupnya. Istri tercinta ini menjadi pendamping hidupnya yang sangat setia di saat suka maupun duka, sedih dan gembira. Seorang istri yang beriman dan senantiasa menjadi teman. Dalam setiap kesusahan, selalu jadi hiburan. Seorang istri yang shalehah, yang punya cinta sejati. Dan akan tetap setia dari hidup sampai mati. Bahkan sampai hidup lagi…. (petikan lagu Bang Rhoma Irama). Seorang istri yang sampai akhir menemaninya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang sampai hayat.

Dari pernikahan ini, ia menghasilkan tujuh orang keturunan. Dua diantaranya meninggal saat masih bayi yaitu Mutiah dan Idrus. Yang masih berumur panjang dan hidup hingga saat ini adalah Umarulfaruq, Luqmanul Hakim, Abdurrahman, Hamzatusysyahid, dan Fathimatuzzahra.

Sembilan tahun di Pondok Pesantren Alkhairaat Pusat Palu, dua puluh empat tahun mengajar aktif di Tilamuta, dan di tambah dua tahun mengajar di rumah, total tiga puluh lima tahun pengabdiannya di Alkhairaat, semoga tidaklah sia-sia. Ia banyak melahirkan murid dengan berbagai profesi, banyak mencetak kader-kader umat dan tokoh pendidikan. Ia tidak bosan-bosannya mengatakan pada anak-anaknya agar jangan pernah hidup kecuali menyerukan da’wah ilallah. Menyeru orang ke jalan kebaikan.

Da’wah Ilallah
Aktifitasnya bukan hanya guru saja, tapi juga sebagai da’i dan penceramah. Semua ini ia lakukan dengan sebuah keyakinan bahwa menyeru umat ke jalan Allah adalah sebuah kewajiban dan hanya dengan adanya da’wah ini Islam akan kembali kepada kejayaan. Semangat ini terus ia bawa di dalam dadanya hingga menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 14 Februari 2010 dalam usia 53 tahun. Ia dimakamkan di pekuburan keluarga yang berada tidak jauh dari rumah.

***

Sifat yang paling menonjol dari kehidupan Aba
Inilah beberapa sifat terpuji yang sempat saya lihat dalam kehidupan Aba, selama proses interaksi yang tak singkat. Semoga saya bisa meneladani aneka sifat terpuji ini.

Yakin kepada Allah
Dalam menjalani hidupnya saya melihat Aba sangat memperhatikan urusan akhiratnya. Itu karena adanya keyakinan bahwa urusan rezeki, kehidupan, dan kematian, semuanya sudah selesai sejak zaman azali. Tidak perlu risau dengan semua itu. Allah sudah menjamin hal-hal tersebut dengan sempurna.

Perasaan yakin ini membuat Aba selalu menyerahkan urusan kepada Allah, tanpa melalaikan usaha ikhtiar. Aba sangat menghindari segala amalan atau praktek yang mengganggu tauhid, seperti jampi-jampi, mantra-mantra, doa-doa peninggalan turun temurun yang tidak diketahui maknanya, ilmu kanuragan yang dibantu jin atau berbagai praktek sisa peninggalan animisme dan dinamisme yang ternyata masih kuat di kalangan sebagian masyarakat. Aba lebih memilih amalan-amalan yang ada landasannya Al-Qur’an dan Sunnah. Kami pun diajarkan untuk selalu minta bantuan Allah dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap urusan.

Cinta Ilmu
Aba sangat mencintai ilmu pengetahuan. Sejak mudanya, ia senang membaca, menghadiri majlis ilmu, dan membagi pengetahuan yang ia miliki. Saat sakit sudah semakin parah pun, Aba tidak berpisah dengan buku-bukunya. Di atas kepalanya, tergeletak bermacam-macam buku yang dilahapnya kapan ia suka. Kepada anak-anaknya ia berpesan agar jangan pernah bosan untuk belajar, karena hidup yang kita hadapi hari ini tidak akan sama dengan hidup yang akan datang.

Senang Berkebun
Awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ujung-ujungnya menjadi sebuah hobi dan kegemaran yang sangat ia nikmati. Sebuah kegemaran yang produktif. Sebab hasil kebun yang ada bisa untuk menjadi makanan di rumah, memenuhi beberapa kebutuhan dan juga bisa berbagi dengan para tetangga.

Kebunnya yang ada Tilamuta sangat mudah dikenali karena mempunyai ciri khas tersendiri. Bukan karena pakai pagar tembok yang kokoh atau pagar besi yang tinggi, tapi karena penataan kebun yang sangat bagus; mulai dari pagar, tanaman dan juga kebersihan.

Disiplin dan Bersih
Disiplin dan mencintai kebersihan, merupakan sifat yang sudah tertanam pada dirinya. Kedua sifat ini muncul sejak kecil, seperti penuturan dari beberapa teman masa kecilnya.

Setiap masuk kamar mandi, ia pasti meluangkan waktu untuk menggosok dinding kamar mandi dengan sikat kamar mandi yang sudah disiapkan. Ketika di rumah, persoalan kebersihan jadi persoalan utama. Ketika ke kebun, kebersihan kebun menjadi hal pertama yang paling diperhatikan. “Nak, kita itu harus peka terhadap kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman,” demikian di antara nasehatnya.

Teliti dan Terampil
Teliti dan terampil merupakan karakternya. Teliti memeriksa berkas, membaca sebuah tulisan, menandatangani surat, dalam mengambil keputusan dan hal-hal lainnya. Saya ingat ada seorang petugas dari Pemda yang harus beberapa kali bolak-balik rumah dan kantor karena ada saja koreksi yang diberikan pada khutbah Idul Fitri. Ketika itu khutbah Idul Fitri tersebut harus disetujui oleh beberapa pemuka agama, dan Aba belum mau tandatangan sebelum beberapa koreksiannya diperbaiki.

Ia juga teliti dalam menyampaikan materi pelajaran dan memilih ayat, hadits, atau dalil lain yang akan disampaikan. Ia teliti dan selalu terampil dalam bekerja sebab itulah kunci agar sebuah pekerjaan itu bisa selesai dengan hasil yang memuaskan.

Saat saya mempersiapkan berkas untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, saat itu Aba sedang terbaring lemah di atas ranjang. Terdengar suaranya yang sedikit parau, “Man, perhatikan baik baik jangan sampai ada yang terlupa!” Setelah berkas saya masukkan ke dalam amplop, ia bertanya lagi, “Sudah diperiksa dengan baik-baik, sayang?”
“Iya Aba sudah,” jawab saya.

Setelah semuanya beres, Aba kembali berkata “Coba Man tulis nama di satu kertas, terus direkatkan di amplop, supaya terlihat bagus!” Saya lakukan apa yang ia perintahkan. Tapi waktu itu saya merasa agak kesulitan, tampilannya jadi tidak bagus dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ternyata Aba memperhatikan saya yang kesulitan melakukan hal itu. Aba bangkit dari tidurnya dan berkata, “Mana sayang, biar Aba saja yang kerjakan?” Subhanallah! Saya merasa takjub. Untuk pekerjaan sekecil itu, Aba mengerjakan dengan sabar, terampil dan itqan.

Memperhatikan barang-barang yang ada di rumah
Darimana dan kemana, itu pertanyaan yang selalu Aba lontarkan terkait barang-barang yang ada di rumah. Barang apapun yang ada rumah harus jelas keluar masuknya. Kalau ada barang yang tidak dikenal langsung bertanya, “Ini punya siapa? Kenapa ada di sini?” Jika kami mengetahui asal barang itu, ia tidak akan berkata apa apa lagi. Tapi jika kami tidak tahu, ia langsung bilang, “Keluarkan barang itu dari sini. Itu bukan punya kita!” Atau kalau seandainya itu milik sekolah ia akan mengatakan, “Segera kembalikan ke sekolah itu, Nak!” atau bertanya tentang barang milik orang lain, “Barang ini apakah sudah di pinjam dari tuannya?” dan masih banyak lagi pertanyaan proteksi lainnya. “Nak, apapun milik kalian, kalian harus tau darimana asalnya dan mau kemana kita gunakan!” demikian nasehatnya.

Sangat Menghormati Orang Lain
Setiap ketemu orang ia selalu tersenyum ramah. Ia sangat menghormati orang lain, baik kenal ataupun tidak. “Hormati orang lain. Jangan minder, tapi jangan pula sombong. Kalau ketemu orang baru, anggap saja ia kawan lama tak jumpa. Dengan begitu, kita bisa lebih cepat akrab!” pesan Aba.

Memuliakan Tamu
Aba senang sekali kalau ada orang yang datang berkunjung ke rumah. Sifatnya yang suka memuliakan tamu itu terlihat dalam kehidupannya sehari-hari. Aba juga senang membangun silaturahmi dengan siapa pun. Saat ia sakit, banyak orang yang datang menjenguk. Namun banyak orang yang datang menjenguk ketika itu merasa heran, sebab tidak ada satupun tanda-tanda ia sedang sakit. Ia selalu menanti kedatangan tamunya dengan senyum mengembang di bibir, meskipun menahan sakit dan derita yang sengaja tidak ia tampakkan.

Kepada kerabat dan handai tolan yang merawat dan mendoakannya selama sakit ia banyak berpesan agar disampaikan rasa terimakasihnya. Sebab masa-masa sakit tersebut adalah di antara fase terberat dalam hidupnya. Kehadiran kerabat di sekitar telah menguatkan dan menyemangatinya.

Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun
(Duta Al Azhar untuk Alkhairaat 1997-2001)
atas meninggalnya Almarhum

(Dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)



بكل الحزن أبكيه وبالآهات أرثيه
ودمعى فاض من عينى تحدر من مآقيه
أحقا مات والدنا؟ أحقا صرت باكيه؟
فكل الناس تعرفه وتعرف صدق خافيه
فلن ننس مواقفه ونصحا كان يصديه
فصبرا يا أبنائه وصبرا يامحبيه
وصبرا إن أتى أمر قضاء الله قاضيه
فإن غابت ملامحه فما غابت معانيه
وإن لفوه فى كفن وبات القبر حاويه
فأسأل ربى الرحمن يجبر كسر باكيه
ويرحم من فقدناه وبالرضوان يرضيه
أابكيه أأرثيه؟ وهل ماقيل يكفيه؟
رحم الله والدنا

(رثاء الشيخ عبد السلام فتحى هارون المصرى
على وفاة السيد الوالد محمد أبوبكر)




Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun
(Duta Al Azhar untuk Alkhairaat 1997-2001)
atas meninggalnya Almarhum


Dengan segala sedih aku menangisinya
Dengan segenap duka aku terisak kehilangannya
Berlinang bening air mataku deras banjiri kelopak mata
Benarkah orang tua kita itu telah tiada?
Benarkah kini harus kutangisi kepergiannya?

Semua orang mengenalnya
Semua orang tahu betapa jujur batinnya
Kita tak kan lupa dengan tegas sifat dan teguh sikapnya
dan mutiara nasehat yang selalu terucap tulus darinya

Sabarlah wahai anak-anaknya
Tabahlah wahai orang-orang yang mengasihinya
Bersabarlah… Karena ketentuan Allah pasti berlaku jua
Walau raganya telah tiada, kenangan tentangnya takkan terlupa
Meski jasadnya kini telah berselimut kafan Dan di hening kubur dia kini terbaring sendirian

Aku bermohon semoga Tuhanku Yang Maha Pengasih Menghibur kepiluan hati mereka yang bersedih diremuk duka
Menyayangi dan meridhai orang-orang yang ditinggalkannya

Benarkah kini aku menangisinya?
Sungguh tak cukup segala pujian untuknya
Semoga Allah menyayangi orang tua kita

Pesan Terakhir yang Abadi; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pesan Terakhir yang Abadi
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Jam satu siang tanggal 14 Februari 2010, akhirnya ia merasakan kenikmatan terindah dalam hidupnya. Tak ada ada lagi penanggungan rasa sakit bertahun-tahun, tidak ada lagi kelemahan anggota tubuh, tidak ada lagi kesedihan yang mengiringi setiap langkah dan gerak, tiada lagi suara yang tercekat di leher menahan derita. Seketika menjadi begitu tenang. Tak bergerak. Diam. Sunyi. Tak ada desis suara. Begitu damai.

Sebab penanggungan sakit itu hampir genap tiga tahun lamanya, sejak tahun 2007 yang lalu. Hari-harinya yang diisi kesibukan sekaligus kenikmatan itu berganti seberkas kisah di ruang kamar.

Semenjak lama sebelum sakit, saya selalu melihat dari dekat bila sejak dini hari ia sudah siap dengan pakaian kebesaran menghadap Rabb-nya. Seruan muazzin yang membelah keheningan subuh bukan lagi pembangun tidurnya. Seruan itu hanya menjadi semacam penanda untuk beralih ke ibadah selanjutnya. Lalu seisi rumah pun diajak untuk menghadap ilahi Rabby penuh syahdu di malam yang sunyi.

Seusai Subuh, dilanjutkan dengan dzikir atau kalau sempat menyampaikan sedikit nasehat penghidup semangat. Semacam ceramah singkat. Setelah itu ia mengajar membaca kitab; Al-Kawakib Ad-Durriyyah, Nashaihul Ibad, Risalatul Mu’awanah, Nashaihuddiniyah atau kitab-kitab lainnya. Seusai baca kitab, ia langsung bersiap ke sekolah; mengisi jadwal mengajar sambil mengawasi jalannya persekolahan. Dan sudah menjadi maklum, bila ia yang masuk, maka semua akan tertunduk dalam diam, menanti setiap untaian kata bermakna sarat arti yang diucapkan dengan sepenuh hati. Baru berhenti ketika Azan Dhuhur sudah berkumandang.

Seusai dhuhur, bukannya istirahat, tapi malah mengajar lagi di mesjid. Baca tafsir Ibnu Katsir. Makan siang baru dilaksanakan sekitar jam 15.00, beberapa saat sebelum asar. Istirahat setelah makan digunakan untuk baca koran dan mengobrol dengan anak-anak. Ba’da asar ia ke kebun. Memang aslinya ia adalah seorang petani yang kebetulan sempat sekolah. Maka kegemarannya untuk menanam pisang, menanam kelapa, memperbaiki pagar yang rusak dan bercengkrama dengan berbagai jenis tanaman tidak bisa dipisahkan. Setelah maghrib biasanya menerima undangan ceramah dan acara-acara sosial. Tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Demikianlah siklus produktif hidupnya.

Saya bisa menangkap ada empat hal yang paling ia sukai: membaca, mengajar, berkebun dan menyambung tali silaturahmi. Ia juga adalah orang yang paling bahagia kalau ada tamu yang datang ke rumah. Segala macam dikeluarkan untuk membahagiakan tamu yang datang.

Karakter pribadinya jelas: orangnya disipilin, tanggungjawab, cinta ilmu, dan berkemauan keras.

Namun sejak tiga tahun lalu sosok yang kuat dan selalu bersemangat itu hanya mampu mengistirahatkan dirinya di kasur tidurnya. Sakit. Macam-macam sakit yang menimpa; maag, diabetes dan lainnya. Tapi tidak sampai menghapus semangatnya menjalani hidup produktif. Ia jadi bisa lebih banyak merenung di rumah. Entah berapa banyak buku selesai dibaca. Silaturahmi dengan masyarakat yang jauh dan dekat jadi terhubung erat sebab banyak yang datang ke rumahnya untuk menjenguk. Satu hal yang selalu membuat penjenguk heran: orang yang dikabarkan sakit ini ternyata menyambut mereka dengan wajah penuh cerah, dengan penampilan yang tertata. Seperti tidak sakit. Dan memang ia tak pernah ingin orang ikut menderita dengan deritanya. “wa idzan tushibka khashashatun fatahammali.” Apabila engkau mendapatkan musibah maka pikullah sendiri. Dalam riwayat lain “fatajammali” maka tampakkanlah yang baik-baik. Demikian prinsip hidupnya yang juga ia bagi kepada orang yang ada di sekitarnya.

Saat putra pertamanya ingin kembali belajar di Kairo untuk kedua kali (tahun 2007), ia berusaha dengan segenap tenaganya untuk mengantar sampai bandara. Satu nasehatnya yang masih terngiang, “Nak, pergilah dengan penuh semangat. Jangan ada air mata yang tumpah. Jangan meninggalkan kesedihan kepada orang-orang yang ditinggalkan.” Sang anak pun menjadi tegar. Dan lihatlah, keluarga itu berpisah dengan penuh senyuman. Masing-masing sedang berbicara langsung ke hati…

Saat putra kedua ingin kembali menyusul kakaknya (tahun 2009), ia tidak mampu lagi bangkit dari kasur putih rumah sakit. Hanya lambaian tangan diiringi senyuman disertai ucapan fi amanillah (semoga dalam lindungan Allah) yang mengantarkan putra tercinta menyeberang benua nun jauh disana. Ia sendiri yang memaksa agar anak keduanya itu harus pergi, terbang bersama cita-citanya.

Kegalauan menghantui putra ketiga. Ia tidak mungkin meninggalkan Abanya sedang sakit seperti ini. Berat. Sangat berat. Tapi tidak. Ada sebuah kepentingan besar yang lebih utama dari perasaan. Pergi. Susul kedua kakakmu untuk belajar di negeri para nabi (tahun 2010). Sakitnya semakin parah. Satu pesan terucap saat itu: jangan pulang sebelum berhasil, apapun yang terjadi!

Kondisinya saat itu sudah sangat lemah.

Beberapa hari lalu saya sempat menelponnya. Dengan suara yang tercekat di leher, dengan susah payah, akhirnya ia mampu menyampaikan satu pesan yang tak kan pernah saya lupa. Satu pesan yang mampu melestarikan memori berkekalan. Satu pesan gambaran semangat yang terpatri di relung hati. Satu pesan penggugah, penyulut semangat, menyentuh sukma, merasuk jauh ke dalam jiwa.

Dengan patah-patah ia berkata:
“s-e-l-a-m-a-t b-e-l-a-j-a-r n-a-k” lalu ia tak berkata apa-apa lagi.

Sungguh sebuah pesan terakhir yang abadi..

Beberapa hari setelah pesan itu, saya memperoleh kabar ia sudah tutup buku kehidupan…

Muhammad Abubakar: Abaku, guruku, sahabatku, jagoanku, teladanku sekaligus pahlawanku yang tersayang ternyata telah kembali lebih dulu.
Selamat jalan Aba. Semoga rahmat Allah selalu bersamamu.

Kairo, sehari setelah Aba berpulang ke rahmatullah

Saat Pembuktian Cinta; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Saat Pembuktian Cinta
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Lumayan lama episode kehidupan ini berjalan. Pergantian pikiran dan perasaan berlalu tambal sulam di sana sini, saling mengganti, saling melengkapi. Rasa-rasanya, dalam bentang rol kehidupan itu, potongan waktu ketika sakit adalah saat-saat yang selalu terkenang-kenang dan tidak mudah terlupakan dalam hidup saya.

Detik-detik ketika sakit adalah detak yang berharga bagi si sakit dan keluarganya. Walaupun diam, mereka tetap memperhatikan dan merekam dengan baik siapa yang memberi perhatian kepada dia yang tergeletak tak berdaya di ranjang itu. Sebab saat itu adalah saat pembuktian cinta dan ketulusan. Semangat yang mendorong untuk datang dan merawat ketika itu adalah semangat pemberian dan kasih sayang. Sebab tak ada pamrih yang bisa didapatkan dari si sakit itu. Ketulusan yang diberikan waktu itu akan membekas dan sangat berpengaruh.

Ketika suka, banyak nian kawan yang datang. Berkerumun. Bahkan mengaku-ngaku punya hubungan dekat. Ketika duka, sekian banyak jumlah tadi menjadi berkurang, seperti tak pernah kenal sebelumnya. Yang berdiri untuk tetap teguh di sisi ialah yang punya cinta dan ketulusan berlebih pula.

Masa tiga tahun Aba saya terbaring sakit adalah masa cukup lama bagi kami keluarga untuk mengenal kasih sayang dan ketulusan sesungguhnya.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat kurang enak badan selama beberapa hari. Sakit kepala, demam dan batuk. Sebuah rasa sakit yang lumayan mentidakbisakan saya melakukan apa apa. Ketika itu saya jadi tau apa yang Insya Allah bisa saya lakukan ketika ada kawan yang sakit. Sebab saya sendiri saat itu sangat membutuhkan sentuhan.

Ada beberapa keinginan saya yang saya ingin teman-teman lakukan sebagai bentuk perhatian kepada kawan yang lagi sengsara. Sebagian saya dapatkan, sebagian lagi tidak. Dan saya justru mendapatkan perhatian itu dari kawan-kawan dekat yang saya tau pernah juga sakit seperti ini.

Ketika nanti ada kawan yang sakit, maka yang perlu saya lakukan adalah:

Pertama, memberinya perhatian dengan sikap dan kata-kata; dengan membesarkan hatinya, misalnya, menanyakan kondisinya, menyentuh dahi dan kakinya, dan mendoakannya. Paling tidak menunjukkan bahwa kita tahu kalau dia sedang sakit.

Kedua, menyiapkan makanan untuknya, atau membawakan makanan kesukaannya. Tanya dia mau makan apa, lalu segera belikan atau buatkan. Atau langsung saja belikan makanan yang paling ia sukai (terutama yang bergizi). Sebab orang sakit kehilangan nafsu makan padahal ia perlu asupan gizi yang besar.

Ketiga, kalau perlu pijit dia dengan ringan, temani mengobrol walau sejenak, semangati untuk cepat sembuh, belikan obat dan bila perlu bawa ia ke dokter. Temani dan temani dia. Sampaikan do’a untuk orang sakit.

Saat kelas dua Mts. dulu (sekitar tahun 1998) saya dirawat di rumah sakit karena penyakit maag. Ketika itu banyak teman-teman yang datang berkunjung, sambil membawa buah dan berbagai macam makanan. Dan tahukan engkau kawan, saya tidak akan pernah lupa dengan wajah-wajah yang datang untuk menjenguk, lebih-lebih yang menemani saya ketika itu. Apalagi seorang kawan yang sempat membawa salah satu minuman kesukaan saya. Hingga kini, setelah hampir 12 tahun berlalu, masih saja ingatan akan memori yang satu itu hadir di hadapan.

Nabi Muhammad sejak dulu menyatakan bahwa salah satu kewajiban seorang mukmin kepada saudaranya adalah menjenguknya di waktu ia sakit. Ketika kecil dulu, bapak saya pernah bilang: saat paling tepat untuk dekat dengan seseorang adalah ketika ia sakit. Sebab saat itu ia benar-benar butuh perhatian. Dan ia tidak akan pernah lupa dengan orang yang memberi kepadanya saat ia benar-benar membutuhkannya. Itulah saat menyampaikan ketulusan dan kasih sayang. Saat duka, itulah saat pembuktian cinta.

Pengaruh Dahsyat Suara Ibu; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pengaruh Dahsyat Suara Ibu
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Tadi pagi saya baru menelpon Ibu saya di Indonesia. Saya sempat bicara sekitar 23 menit dan harus terhenti karena pulsa habis. Sayup suara penuh cinta di Desa Modelomo sana, di Boalemo-Gorontalo, begitu merdu terdengar di jiwa. Merdu sekali, mengalahkan keindahan suara apa pun.

Ada pengaruh dahsyat terasa di setiap ungkapan. Perpisahan jasad yang sudah berumur lebih tiga tahun semakin merekatkan ikatan hati. Selalu ada harap untuk terus mendengarkan suara sakti di seberang sana dan selalu ada bahagia setelah mendengarkannya.

Inilah cara up date semangat paling jitu. Bagi saya, suara ibu ibarat sutera halus membungkus jiwa yang tulus. Ia ibarat gerimis embun tiris memekarkan bunga-bunga. Ia ibarat topan beliung yang mengguncang laut ke relung-relung. Ia adalah gemericik air di taman asri. Ia penumbang segala belantara duka dan nestapa. Ia selalu sakti mengalirkan kekuatan, memberikan keteduhan, melambungkan cita-cita, meningkatkan ketegaran. Maka ingin selalu aku mendengarkan suara itu setiap hari, setiap waktu. Namun ujung-ujungya pulsa jualah yang membatasi. Maklum, anak rantau.

Di hadapan Ibu, saya dapat bercerita apa saja. Saya dapat membanggakan diri sepuas-puasnya dengan penuh kejujuran, sebab hal itu bisa ikut membuatnya bangga. Saya tak perlu berkecil hati dan takut dianggap sombong karena membanggakan diri sendiri. Sebab keadaan diri saya sekarang kini dan bagaimana nanti itu adalah hasil sentuhan tangannya juga.

Saya pun bisa bercerita tentang segala halangan, rintangan, dan penderitaan hidup yang ada, tanpa merasa khawatir dianggap lemah. Sebab jiwanya begitu luas untuk menampung segala keluh kesah itu, dan pada dirinya selalu ada obat penawar yang manjur hasil ramuan pengalaman hidup yang panjang.

Ketika perang berkecamuk antara dua pasukan Abdullah bin Zubair dan tentara Hajjaj bin Yusuf, perwira perkasa ini menyempatkan diri menemui ibunya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

“Mengapa tampak ada ketakutan di matamu, nak?” tanya Asma bin Abu Bakar kepada putranya.
“Ibu, Demi Allah saya tidak takut. Hanya saja saya khawatir mereka akan menyiksa tubuhku setelah aku mati nanti” jawab Abdullah.
“Ketahuilah anakku, sesungguhnya kambing yang telah mati itu tidak akan merasa sakit lagi ketika dikuliti”

Mata Abdullah langsung berbinar. Segera ia bangkit menyambar pedangnya. Ada semangat yang tiba-tiba menyala di dalam dadanya.

“Anakku, apa yang engkau pakai di badanmu itu?” tanya Asma’ lagi.
“Ini baju besi, Ibu, untuk melindungi tubuhku dari panah dan tombak”
“Apa yang kamu lakukan ini bukanlah tindakan seorang yang pemberani, anakku “

Abdullah langsung melemparkan baju besi yang dipakainya. Ia maju menerjang ke medang juang dengan berani dan gagah perkasa, hingga akhirnya ia gugur dengan terhormat sebagai seorang pahlawan.

Di pelosok Gaza sana, ada seorang ibu yang hanya tinggal bersama putra tunggalnya. Ayah dari putra itu telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Betapa besar cintanya kepada sang anak, harta berharga satu-satunya yang ia miliki. Namun aura kecintaan tidak menyelimuti hati dan melarutkan kesedihannya dalam waktu lama. Dalam usia yang sangat dini, ia membawa anaknya ke Mekah. Ia suruh anaknya yang masih kecil itu untuk belajar walaupun harus meninggalkannya sendirian di usia tuanya. Sang anak pun merantau dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menambah ilmu pengetahuan dan memenuhi harapan ibunya.

Pengorbanan cinta yang tak sia-sia. Tibalah saatnya sang anak bisa menjadi maestro di jagat ilmu pengetahuan. Namanya kini terus berkibar, mewariskan peninggalan yang amat sangat bernilai bagi peradaban umat manusia, terutama di bidang fiqih dan hukum islam. Anak kecil itu bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I atau lebih dikenal Imam Syafi’I, imam Mazhab Syafi’i. Seorang ilmuan yang ilmunya memenuhi kehidupan umat manusia sejak beberapa abad yang silam.

Alangkah besar pengaruh Ibu dalam perjalanan kehidupan seorang anak. Doa ibu punya kedahsyatan tersendiri. Suara ibu punya pengaruh lain di dalam jiwa. Saya pernah mendengarkan banyak kisah mereka yang hampir putus asa namun kemudian bangkit setelah mendengarkan suara ibunya yang berada nun jauh disana.

Kapankah engkau terakhir kali berbicara dengan ibumu, kawan?

Sosok yang mulia itu senantiasa merindukanmu.

Kepada mereka yang diberi kehormatan menjadi ibu, jangan meremehkan pengaruh dahsyatmu pada anak-anak yang engkau miliki. Kasih sayang dan dukunganmu mengalirkan kepercayaan diri yang tinggi bagi anak-anakmu. Dalam senyummu, ada bahagia yang luar biasa bagi jiwa putra-putrimu. Dalam doamu, ada kekuatan yang mengguncang langit ketujuh. Dalam suaramu, ada selaksa keteduhan yang menyejukkan. Dirimu sangat menentukan masa depan putra-putrimu itu.

Kepada Ibuku, ucap terimakasihku sepanjang waktu. Doamu sangat kuharapkan selalu.

Bis Kota Kampung Melayu; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Bis Kota Kampung Melayu
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Suatu siang di Jakarta.
Lebih dua jam saya dan Ibu saya berada di bis dari Kampung Melayu, Jakarta. Sebuah perjalanan darat di teriknya siang yang sesak dan menyesakkan. Jalanan macet. Saya memandang wajah Ibu saya yang memerah dan bermandikan peluh. Jelas benar ada bekas-bekas keletihan disana. Jilbab putihnya sedikit buram warnanya oleh debu yang menempel.

“Capek Mi?” Tanya saya ketika saya sampai di rumah.
“Iya, ummi capek sekali,” kata Ibu saya sambil bersandar ke kursi.
“Tapi alhamdulillah di bis tadi ada anak muda yang baik. Lihat ummi berdiri, dia langsung bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Umi duduk di situ. Ah, semoga Allah membalas budi baiknya.”

Saya jadi terharu. Siapa itu yang memberi tempat duduk kepada Ibu saya dan meringankan sedikit penatnya. Saya ingin bertemu dengannya dan berterimakasih sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya. Mungkin sebenarnya anak muda itu juga lelah dalam perjalanannya, namun ada dorongan lain dari dalam jiwanya untuk memberi tempat kepada yang lebih tua. Atau bisa juga dia lelah duduk, makanya ingin berdiri. Atau bisa juga kakinya lagi kesemutan, maka ingin sekedar meluruskannya. Apapun alasannya, apa yang dia lakukan itu sangat berarti bagi Ibu saya dan tentunya bagi saya juga.

Asli, bukan hal yang mudah berdiri dari kursi di bis dan mempersilahkan orang lain menempatinya di saat-saat yang sulit. Ketika kita lama nunggu bis misalnya, pas bisnya datang ternyata tidak ada tempat kosong. Setelah satu jam berdiri, orang yang duduk di samping tempat saya berdiri baru ingin turun. Itupun baru ingin. Belum turun benaran. Ketika dia beranjak untuk turun, maka jelas kawan akulah pemilik utama kursi itu. Sudah sejak sejam yang lalu aku menjaganya sambil berharap ia segera turun, agar aku bisa gantian duduk disitu.

Mungkin engkau yang berdiri disampingku juga merasa lelah kawan. Tapi percayalah, aku tidak akan kasihan kepadamu. Aku lebih mengasihani diriku ini yang sudah tidak kuat lagi berdiri. Mau bapak-bapak, mau ibu-ibu, kakek-kakek ataupun nenek-nenek yang ada disampingku, di saat yang seperti itu susah bagiku untuk memberimu tempat. Apalagi menyuruh aku berdiri untuk mempersilahkan dirimu yang baru datang.

Itsar (mengutamakan orang lain) itu kadang sulit, dan disaat sulit seperti itulah kita diuji untuk tidak kalah dengan nafsu dalam melakukan kebaikan. Kalau saya masih sering kalah. Moga engkau bisa selalu menang dalam pertarungan ini kawan.

Di Mesir, kami biasa berdiri sejajar dengan dosen-dosen kami di kuliah di bis kota, karena tidak dapat tempat duduk. Kadang kami kaget kalau yang disamping ini atau yang tadi ikut berebut naik bis itu setelah sampai di kuliah ikut memberikan muhadharah. Dari halte Darrasah yang ada di dekat kampus Al-Azhar, saya pernah nunggu bis bersama salah seorang guru besar ilmu hadits universitas Al-Azhar, pernah bersama dosen mata kuliah Qadhaya Mu’ashirah, juga pernah berkali-kali dengan dosen Ushul Fiqh Hanafi. Semua mereka adalah para profesor doktor yang terhormat. Bahkan nama yang pertama saya sebut tadi membayarkan ongkos bis dan duduk bersama anak-anak muridnya di deretan kursi paling belakang. Itu setelah Beliau pulang dari sidang tesis magister fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits Universitas Al-Azhar. Beliau adalah promotor sekaligus dosen pengujinya. Pakaian dan penampilan mereka sangat bersahaja, namun ilmu mereka sungguh susah mengukur kedalamannya.

Sungguh benar-benar sebuah ketidakberadaban, bila saya masih duduk pura-pura tidur dan sok tidak tau ketika ada salah seorang dosen saya berdiri di samping saya di bis. Maka, sekuat mungkin saya berusaha untuk bisa memberi tempat kepada orang-orang tua yang ada di dekat saya (apalagi pakaiannya kelihatan rapi dan bersih) bila kebetulan saya lebih dulu duduk. Jangan-jangan beliau doktor azhar. Kalau bukan dari fakultas Syariah, mungkin dari fakultas lainnya. Atau kalau tidak, saya tetap ingin berdiri. Nabi Muhammad Saw bilang bukan golonganku yang tidak menghormati orang tua.

Terakhir saya ingin ucap terima kasih kepada dia yang telah memberi tempat kepada Ibu saya di bis kota tadi. Entahlah dia itu siapa, tapi mungkin saja itu engkau, kawan. Makasih ya.

Belajar Menjadi Orang Kaya; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Belajar Menjadi Orang Kaya
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Anda tau kawan siapa orang terkaya 2010? Bukan Bill Gates lagi. Jadi siapa? Dialah Carlos Slim Helu, orang Mexico. Jumlah kekayaannya mencapai $ 53.5 miliar menurut Forbes World’s Billionaires. Kekayaan bersihnya $ 18.5 miliar dalam setahun. Kalo di Indonesia masih Aburizal Bakrie & family dengan kekayaan $5.4 milliar. Posisi sebagai orang terkaya ini akan terus berganti seiring dengan berlalunya hari.

Menjadi orang kaya memang penting. Ketika kecil dulu Aba saya suka menasehati saya dengan ungkapan: “Jadilah orang kaya, nak” atau “Belajar jadi orang kaya, nak”. Nasehat ini hampir selalu di ulang-ulangi untuk mengingatkan saya dan adik-adik bahwa menjadi orang kaya itu penting. Tidak sekedar punya, yang paling penting adalah mempunyai mental orang kaya. Sebab harta itu bukan jaminan. Banyak uang tapi banyak utang. Harta melimpah tapi ditimpa penyakit yang memerlukan banyak pengobatan. Dana besar namun diikuti oleh banyak kebutuhan. Maka Nabi Muhammad punya pandangan yang berbeda tentang kekayaan. Beliau mengingatkan, “Kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati”.

Membangun mental kaya sungguh jauh lebih penting daripada menjadi orang berpunya. Saya perhatikan, paling tidak ada empat kriteria dari kaya hati itu:

Pertama, senantiasa bersyukur dengan apa yang ada
Hidup adalah anugerah. Diberi kesempatan hidup saja, itu sudah merupakan kenikmatan yang besar. Apalagi ditambah dengan berbagai nikmat yang sangat besar. Barangkali yang membuat orang tidak bersyukur adalah karena dia hidup di dunia konseptualnya yang dipenuhi lilitan keinginan yang tak berujung. Nabi Muhammad bilang bahwa barang siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat wal afiat, dan punya makanan untuk hari itu, maka dia seakan-akan telah dikaruniai dunia dan segala isinya. Sebab inti kenikmatan materi adalah tiga hal itu: keamanan, kesehatan dan ketersediaan makanan. Selama ada kesadaran akan nikmat, selama itu pula ada kesyukuran. Dan selama ada kesyukuran selama itu pula ada kekayaan jiwa. Ukurannya adalah kesyukuran. Bukan melimpahnya kebendaan.

Kedua, tidak pernah mengeluh
Satu pengeluhan, satu goresan kesusahan baru. Jangan kira orang yang mendengarkan, atau diminta untuk memikul masalahnya, tidak punya masalah. Mungkin masalahnya lebih besar hanya saja mampu dia pikul sendiri. Kalaupun harus bercerita, seharusnya, targetnya adalah ingin berbagi dan mendapatkan solusi, bukan ingin dikasihani.

Ketiga, suka memberi dan tidak pernah meminta
Tangan diatas selalu jauh lebih baik dari tangan dibawah. Memberi jauh lebih mulia dari pada meminta. Ini adalah kebiasaan orang kaya yang mesti dilestarikan. Mental kaya adalah mental pemberi, bukan mental peminta-minta, bagaimanapun beragam variasi cara memintanya. Kebiasaan memberi ini perlu dilatih, baik memberikan harta, membagikan ilmu, mengulurkan bantuan atau apa pun yang bermanfaat bagi orang lain. Setiap usaha meningkatkan pendapatan diniatkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberian dan persembahan kepada orang lain, serta memperluas jangkauan manfaat. Alangkah mulianya orang yang seperti ini.
Keempat, merasa cukup dan tidak mengharapkan apa yang ada pada orang lain.

Selama tidak merasa cukup dengan apa yang ada; selama terus berharap pada apa yang ada di tangan orang lain, selama itupula jiwa tetap miskin. Ketersediaan dan kemelimpahan yang ada di hadapan matanya tidak kelihatan karena sibuk memikirkan milik orang lain. 99 kambing tidak dinikmati karena memikirkan 1 kambing milik tetangga. Orang yang tidak merasa cukup selamanya akan miskin dan orang yang ridha dan bersyukur maka dialah orang kaya sesungguhnya. Imam Syafii pernah berpesan “In Kunta dza qalbin qanu’in, fa anta wa malikuddun-ya sawa’u” Bila engkau memiliki hati yang penuh rasa Qana’ah (ridha dan puas dengan karunia) maka engkau dan raja dunia itu sama saja.”

Inilah kekayaan yang tidak bisa hilang atau dicuri, tidak bisa terbakar atau diambil orang, tidak perlu khawatir dengan inflasi dan deflasi, penipuan atau perampokan, kekayaan yang tak bisa diukur oleh uang. Itulah kaya hati, kaya jiwa.

Indah sekali rasanya hidup bila diri ini sudah bisa menjadi orang yang senantiasa bersyukur, tidak pernah mengeluh, selalu memberi, tidak pernah meminta dan merasa Qanaah dengan karunia yang ada, dan tentunya bisa menjadi pembawa manfaat bagi orang lain. Saya pun masih ingin terus belajar. Paling tidak bisa mengamalkan nasehat Aba ketika kecil dulu untuk menjadi orang kaya.

Dengan Sepenuh Hati; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Dengan Sepenuh Hati
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Saya rasakan memang berbeda. Sesuatu yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan lebih bisa dinikmati. Hasilnya pun bisa penuh, tidak setengah-setengah. Hati lebih nikmat dan puas, waktu lebih produktif, pikiran lebih fokus, dengan hasil yang juga memuaskan.
Dalam pepatah arab dikatakakan “Idzâ kunta fî amrin fakun fîhi muhsinan, ammâ qalîlin anta mâdhin watârikuhu...” Bila engkau berada dalam sebuah pekerjaan, maka laksanakanlah dengan sebaik-sebaiknya. Sebab tidak lama setelah itu engkau akan meninggalkan pekerjaan tersebut..

Aba saya sering menasehatkan hal ini kepada saya…..

Hingga saat ini, saya masih terus belajar dan mencoba untuk sepenuh hati kapan dan dimana saja. Saat berjalan, berjalan dengan sepenuh hati. Nikmati perjalanan itu. Sadarkan diri bahwa saya memang sedang berjalan. Fokus pikiran bahwa saya dalam perjalanan. Sebab ada orang yang tidak menikmati saat dia berjalan. Dia baru sadar ketika telah tiba di rumah “Oh ternyata saya sudah berjalan jauh”…

Ketika makan, makan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Ketika minum, minum dengan sepenuh hati. Ketika menulis, menulis dengan sepenuh hati. Ketika membaca, membacalah dengan sepenuh hati. Ketika belajar, belajar dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Ketika bermain, bermain dengan sepenuh hati, tidak main-main. Ketika wudhu, wudhu dengan sepenuh hati. Ketika sujud di hadapan Allah, benar-benar sujud dengan sepenuh hati..

Oh..alangkah nikmatnya..

Sepenuh hati tidak berarti tidak lagi memikirkan yang lain. Sepenuh hati tidak berarti terlalu serius dan tegang. Sepenuh hati tidak lantas membuat diri menjadi kaku. Sepenuh hati tidak kemudian membuat lalai dengan keadaan dan cuek dengan orang yang di sekitar. Sepenuh hati adalah mengetahui, merasakan, menyadari dan melakukan dengan sepenuh perasaan dan pikiran apa yang sedang dihadapi saat ini.

Mengapa perlu sepenuh hati? Sebab nilai waktu terlalu mahal untuk dibiarkan berlalu dengan asal-asalan. Sebab ketika waktu itu telah berlalu, maka dia akan pergi dengan segenap catatan hasil pekerjaan yang kita lakukan saat itu. Dan tidak lama setelah itu, kita pasti akan beralih kepada pekerjaan selanjutnya dan aktifitas berikutnya. Yang tadi sudah dilakukan akan pasti ditinggalkan dan bergabung ke masa lampau.

Saya merasakan, kesepenuhan hati ini salah satunya bisa diraih dengan membuat rencana kegiatan. Sebab keinginan lebih sering menang dibanding kepentingan. Artinya, kalau sudah ingin, hal-hal yang pentingpun menjadi ternomorduakan. Tanpa rencana, hati biasanya tak tenang. Sebab banyak pikiran kegiatan yang menyerbu otak pikiran meminta untuk dilaksanakan. Padahal setiap kegiatan itu ada waktunya. Saya yakin kegiatan apa saja akan bisa lakukan apabila kita mau meluangkan waktu untuknya. Disinilah perlu perencanaan itu.

Dengan sepenuh hati, hasil waktu menjadi lebih nyata, hidup lebih ada rasanya, nikmat menjadi berganda, hati merasa plong dan puas ketika berpindah ke aktifitas selanjutnya.

Dalam istilah Aba:
“Kalau belajar, belajar sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau makan, makan yang sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau bekerja, bekerja sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau bermain, bermain sungguh-sungguh, jangan main-main!”

Friday, May 4, 2012

Jalan Pagi Keliling Kampung; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Jalan Pagi Keliling Kampung
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai ketika kecil dulu? Maka jawabannya adalah jalan pagi bersama Aba. Mungkin bukan hanya pagi hari, di sore, siang ataupun malam jalan santai bersama Aba adalah sebuah hal yang menyenangkan. Bahkan bukan ketika kecil saja, ketika sudah besar (kurang lebih setelah lulus SD) pun jalan bareng dengan Aba menjadi sesuatu yang sangat berarti. Hanya saja ketika kecil dulu lebih mengenangkan dan mengesankan, dan paling banyak dilakukan di pagi hari.

Detik-detik ini menjadi begitu indah karena selama dalam perjalanan itu Aba tak henti bercerita. Baik tentang kisah-kisah teladan kehidupan, atau kisah kehidupan Aba sendiri saat sekolah sampai hari ini, atau kisah keluarga, atau analisa singkat tentang fenomena yang sedang terjadi di masyarakat saat ini. Banyak hal yang dulu saya anggap itu biasa saja, namun jika diingat-ingat kini ternyata rangkaian cerita-cerita singkat dulu itu benar-benar berharga. Selalu saja ada cerita, pengalaman dan kenalan baru. Aba mempunyai sangat banyak kenalan dan memiliki hubungan baik dengan hampir semua orang. Sehingga di jalan itu yang ada adalah berbagi wajah cerah, bertegur sapa, tukar informasi, dan jalin silaturahmi. Tidak jarang kami pergi dengan tangan kosong pulang dengan bawaan berat sekali. Atau pergi dalam keadaan lapar, pulang dalam keadaan kenyang.

Saat di jalan itu Aba banyak menanamkan nilai-nilai akhlak yang sederhana dan praktis. Misalnya ketika berjalan di jalan raya, berjalanlah di sebelah kiri (sesuai peraturan lalu lintas yang berlaku di tempat kita). Setiap kali berjalan, Aba selalu menempatkan kami di sebelah kirinya. Ketika saya tanyakan hal itu, Aba jawab supaya Aba bisa menjaga Muma dan Kim kalau ada apa-apa. Saya juga jadi tahu, kalau berjalan dengan orang yang lebih tua, maka hendaknya menempatkannya di sebelah kanan kita sebagai bentuk penghormatan. Lebih terhormat lagi kalau kita jalannya agak mundur sedikit, tidak terlalu jauh, cukup beberapa senti saja, sekedar menunjukkan kalau orang yang di samping kanan kita ini adalah orang yang kita hormati.

Aba juga sering sekali mengunjungi para fakir miskin yang ada di dekat kebun, di seberang sungai, di jalan-jalan setapak dan di tempat-tempat lainnya. Aba selalu menyapa mereka, bercengkrama dan bercerita tentang tanaman, tentang kondisi saat ini, menanyakan kabar, atau sekedar menyampaikan salam dengan seulas senyuman. Setiap ketemu orang, Aba bisa langsung akrab walaupun sebelumnya belum kenal. Kadang setelah lama ngobrol baru kenalan. Satu pesan Aba yang selalu saya ingat tentang hal ini “Kalau ketemu siapa saja, anggaplah ia kawan lama tak jumpa. Sapa dia seperti kawan-kawan lainnya. Jangan sombong, tapi juga jangan minder.”

Berkunjung ke tempat-tempat orang-orang yang ini selain untuk meluaskan silaturahmi dan memberi apa yang bisa diberi, juga sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat. Aba dulu adalah orang yang sangat miskin di kampungnya, kalau tidak disebut paling miskin. Melihat para tetangga ini, mengingatkan Aba dengan kehidupannya di masa kecil dulu, masa-masa susah saat ditinggal bapaknya dan hanyak hidup bersama Ibu dan seorang adiknya. Kadang Aba berbisik, “Nak, dulu Aba hidup seperti orang itu.” Atau, “Nak, dulu Aba lebih miskin dari itu.” Perasaan kesyukuran atas nikmat pun menyeruak masuk. Demikian pula perasan empati menjadi semakin mekar di dalam jiwa, karena bisa memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Walaupun saya dan Kim tidak berkomentar apa-apa, tapi sungguh lubuk hati yang jauh di sana kami merasakan kesyukuran yang tidak terkira. Melihat kondisi mereka kami jadi merasa betapa kami ini hidup penuh dengan karunia, penuh dengan nikmat yang tak pernah habis-habisnya. Walaupun bukan keluarga berada, kami jadi bisa menerima hidup apa adanya, merasa cukup dengan apa yang ada, bahkan merasakan karunia tak terbatas yang tidak cukup ucapan hamdalah untuk mensyukurinya.

Kami jadi malu meminta uang jajan lebih. Uang logam Rp.100 untuk membeli sekeping roti di sekolah sudah lebih dari cukup. Atau kalau tak dikasih jajan pun tak masalah. Dengan kenikmatan yang melimpah ini; diberi kesehatan, tempat tinggal yang cukup, makanan yang enak dan mengenyangkan di rumah dan kenyamanan suasana yang diberikan oleh Aba Umi, membuat kami selalu merasa dalam kemelimpahan itu.

Kehidupan ternyata memberi banyak pelajaran. Pada 2009 kemarin, tingkat kemiskinan di Indonesia tercatat mencapai 14,15 persen atau sebanyak 32,53 juta jiwa. Barangkali urusan pengentasan kemiskinan ini sepenuhnya tidak bisa diberikan kepada pemerintah. Kita bisa turut berpartisipasi melakukan apa yang kita bisa, sekaligus memetik beberapa pelajaran yang berharga.

Kenangan Ramadan Bersama Aba; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Kenangan Ramadan Bersama Aba
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu membangunkan aku dari tidurku ketika sahur. “Ayo, tinggal lima menit!” Ucapanmu ini membuat kami segera bergegas. Mungkin maksudmu adalah tinggal lima menit lagi waktu makan, namun ucapan itu ternyata berkhasiat menghilangkan kantuk karena dalam benak kami terbayang tinggal lima menit lagi waktu imsak. Kepada Ibu, engkau selalu berpesan untuk memasak masakan paling enak. “Untuk anak-anak...,” katamu. Selalu engkau larang kami untuk tidur seusai sahur dengan berkata, “Nanti Subuhnya lewat!” Maka kami pun sering mengakhirkan makan sahur, agar tak ada yang tidur lagi. Ketika azan Subuh berkumandang, engkau menggandeng tangan mungilku dan adik-adik ke mesjid, menembus gulita, menyapa embun Subuh.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu menyemangati kami baca Al-Quran. Bahkan jauh sebelum Ramadan tiba engkau sudah mengingatkan betapa besar pahala orang-orang yang membaca Al-Quran di bulan puasa ini. Maka aku dan adik-adik pun berlomba untuk mengkhatamkan Al-Quran secepatnya. Dan selalu saja yang menang adalah Kim, adikku yang kedua. Di hari yang kelima atau keenam dia sudah khatam dan kembali mulai baca dari alif laam miim. Senyummu selalu mengembang saat melihat kami mengaji. Bertambah mengembang lagi ketika sudah selesai. Dan kami tau ada hadiah menanti untuk kami di balik kembang senyum itu.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu menyemangati kami untuk berangkat pagi-pagi ke sekolah. Kaki-kaki kecil kami pun melangkah dalam kesejukan pagi menempuh jarak sekolah yang hampir satu kilometer dari rumah. Kami tidak merasa lelah bila mengingat delapan kilometer jarak sekolahmu dulu dari rumah yang engkau tempuh setiap hari. Apalagi kami sudah menyaksikan sendiri rumah dan sekolah itu. Tak pernah kami membolos. Saat terik panas siang kembali dari sekolah, engkau dan Ibu menyambut kami di rumah dengan senyummu yang khas itu.


Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau tetap bersemangat pergi ke kebun. Saat kami berangkat ke sekolah, engkau pun sudah siap dengan linggis, pacul dan parangmu. Engkau ke kebun untuk menanam pisang, menanam kelapa, memperhatikan tanaman, memperbaiki pagar yang rusak. Kadang engkau lebih dulu tiba di rumah, kadang pula kami tidak menjumpaimu. Atau kau berangkat ke kebun setelah kami pulang dari sekolah. Engkau di sana sejak seusai Dhuhur sampai asar tiba. Begitu setiap hari, setiap waktu. Selalu ada letih di wajahmu ketika berbuka, tapi selalu saja ada kebahagiaan di wajah yang letih itu.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu berusaha untuk buka puasa di rumah. Aku tahu banyak undangan buka yang datang untukmu, tetapi engkau lebih memilih berbuka denganku, adik-adik dan ibu. Suasana buka puasa dan makan malam ini adalah di antara saat-saat terindah dalam hidupku. Kami duduk melingkar dan masing-masing bercerita tentang pengalaman puasanya di hari itu.

Seusai makan, cerita keluarga dilanjutkan dan selalu saja penuh dengan canda tawa. Kadang engkau menyuruh aku atau adik-adikku ke mesjid untuk mengumandangkan doa sebelum buka puasa. “Asyhadu alla ilaaha illallah astaghfirullah, nas’alukal jannata wa na’udzu bika minannaar“

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu perhatian dengan shalat lima waktu. Engkau ajak kami untuk selalu ke mesjid melaksanakan shalat berjamaah. Shalat Tarawih tidak pernah ketinggalan. Di kala pulang dari mesjid, seringkali engkau bercerita tentang banyak hal sambil terus memegang tangan yang masih mungil itu. Berjalan denganmu sungguh selalu menyenangkan, karena selalu saja ada cerita yang baru. Engkau punya banyak kawan yang selalu engkau sapa atau menyapamu terlebih dahulu di jalan.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu menyiapkan baju baru untuk kami. Mungkin tidak terlalu istimewa, tapi ada kegembiraan saat kami mendapatkan itu. Engkau senantiasa ingin melihat kami bahagia. Selalu seperti itu. Ketika kami semakin besar, kain sarung dan baju yang dihadiahkan orang kepadamu engkau berikan kepada kami. Kami bahagia, itu sudah kebahagiaan bagimu

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau senang berjalan pagi, berkunjung kepada tetangga. Engkau selalu membagi makanan untuk berbuka, membagi hasil kebun, memberikan beras kepada orang yang kesusahan, mengantar pisang ke rumah-rumah tetangga. Kami yang engkau suruh membawanya. Kadangkala tempatnya jauh dan di pelosok yang gelap, sehingga kami harus membawa obor untuk bisa mencapainya.

Abaku…

Dulu, di hari kedua Idul Fitri, engkau selalu menyewa satu Mobil Mikrolet untuk kami sekeluarga dan orang-orang yang tinggal di rumah. Engkau mulai dari Tilamuta hingga ke Marisa, tempat kakek berada. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam dua jam itu menjadi delapan jam. Itu karena mobil sering berhenti di jalan.

Setiap ada rumah keluarga dan handai tolan, selalu kami singgah dan mampir di situ. Engkau sangat memperhatikan hubungan silaturahmi. Kata-kata pun tak pernah kulupa “Silaturahmi itu mahal, nak” Kebiasaan ini terus berjalan hingga hampir dua puluhan tahun

Abaku…

Tahun 2007 engkau mulai sakit. Sakit yang memaksa engkau untuk beristirahat di rumah. Engkau jalani Ramadanmu di dalam kamar. Semakin lama sakitmu semakin bertambah. Namun puasa Ramadan selalu engkau lalui dengan sempurna. Ketika Idul fitri tiba, engkau tidak bisa lagi menyewa mobil membawa kami mengunjungi keluarga. Gantinya, ternyata di hari-hari itu banyak keluarga yang datang ke rumah untuk menjengukmu.

Selalu saja ketika mereka datang, engkau sambut dengan penampilan yang rapi dan wajah penuh senyuman. Sehingga dalam pandangan mereka engkau sedang sehat bugar, sehingga mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang tenang.

Hanya Ibuku dan adik-adik yang tahu, bagaimana engkau menahan sakit itu ketika di kamar. Sebab prinsipmu: “Apabila engkau ditimpa kesusahan maka pikullah sendiri, tampakkanlah yang baik-baik, jangan sampai orang lain menjadi susah karena dirimu.”

Abaku...

Sejak delapan kali Ramadan yang silam aku tidak bersamamu. Aku harus pergi jauh darimu, jauh sekali. Tetapi selalu saja engkau tak pernah lupa menelponku: menanyakan kabar, apa menu sahur tadi pagi, gimana puasa hari ini, nanti buka dengan apa dan dimana, shalat Tarawih di mesjid mana, dan bacaan Al-Quran sudah berapa juz sekarang. Aku pun tak pernah lupa menelponmu. Tapi selalu saja engkau yang lebih sering.

Abaku…

Kini engkau telah pergi lebih dulu. Di rumah hanya ada Ibu dan dua orang adikku. Ada baiknya beberapa orang ponakanku mau menemani Ibu. Engkau tak perlu cemas, kami akan selalu setia menjaga Ibu seperti pesanmu dulu. Kami pun tak akan pernah lupa mendoakanmu di setiap waktu. Kelak bila saat pulang itu telah tiba, aku dan adik-adik akan segera berkunjung ke pusaramu…

Razia Empat Senti; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Razia Empat Senti
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Aba sangat membenci rambut gondrong laki-laki. Alasan utamanya karena masalah kerapian dan rambut gondrong sekilas menyerupai perempuan. Santri di Alkhairaat Tilamuta mau tidak mau ikut terkena imbas ketidaksukaan ini. Salah satu peraturan yang selalu diawasi ketat olehnya adalah masalah rambut. Santri putra hanya dibenarkan memiliki rambut paling panjang empat senti meter. Lebih dari itu tidak akan selamat dari pemangkasan massal. Seringkali Ia melakukan operasi pemerikasaan rambut tanpa terduga. Biasanya ketika apel pagi atau di mana saja ia melihatnya. Tanpa ragu, Ia akan memangkas dengan segera.

Sebagian besar santri putra tahu dan pernah merasakan razia empat senti meter ini. Tapi sebagian besar tidak kapok dan terkena razia lagi. Seiring berjalannya waktu, santri semakin pandai menyembunyikan rambut panjang mereka. Ada banyak trik yang biasa mereka lakukan. Dari meminyaknya dengan minyak rambut kental, hingga melipat sedemikian rupa dan menahannya dengan kopiah. Toh di akhir tetap saja ketahuan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.

Bukan hanya Aba, tapi umumnya orang-orang tua di Gorontalo tidak menyukai rambut gondrong. Entah bagaimana mulanya, orang-orang tua itu menyamakan laki-laki berambut gondrong dengan preman, gelandangan atau anak-anak nakal. Konon, dahulu, di masa pemerintahannya, Presiden Soekarno juga pernah mencanangkan operasi rambut gondrong. “Apabila ada pemuda yang berambut gondrong, saya perintahkan agar mereka diplontos,” tegas Bung Karno. Para pemuda yang tertangkap operasi akan digunting rambutnya oleh aparat keamanan pada saat itu juga. Dan potongan rambut ala aparat keamanan tentu berbeda dengan potongan tukang cukur. Tidak rata dan berlubang-lubang, persis seperti orang yang baru sembuh dari sakit koreng.

Jika untuk para santri panjang rambut empat sentimeter, maka bagi kami anak-anaknya, gaya rambut plontos dengan kuncir tipis di bagian depan. Hingga tamat Sekolah Dasar Negeri I Pentadu Timur, potongan rambut kami sama seperti gaya rambut Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, striker kesebelasan Brazil yang pernah dua kali “hat trick” di Piala Dunia, pemain terbaik sepakbola FIFA, Eropa dan Dunia. Bagian belakang dicukur habis, tapi bagian depan disisakan rambut setengah kepalan tangan. Konyol dan tidak tampan sama sekali. Sekilas tampak seperti sebuah pulau kecil di bagian depan kepala.

Rambut anak yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian dalam fiqih Islam di masa-masa awal sempat dipertentangkan. Sebagian ulama memakruhkannya, tapi mayoritas membolehkan. Yang memakruhkan bersandar pada hadits Bukhari Muslim dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang melarang qaza’. Nafi’ menafsirkan qaza’ dengan mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian sisanya. Yang membolehkan berpendapat bahwa bentuk potongan rambut tidak terkait langsung dengan agama. Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan qaza’ adalah mencukur di beberapa tempat berbeda sehingga menjadi berlubang-lubang. Dan bahwa Rasul hanya melarang di beberapa waktu tertentu karena alasan-alasan tertentu. Wallahu A’lam.

Entah apa sebab pastinya, potongan rambut ini tetap Aba pertahankan untuk anak-anaknya selama sekolah dasar, termasuk untuk keponakan-keponakan yang tinggal bersamanya. Sama sekali tidak bergaya. Tapi mungkin itu salah satu alasan logisnya. Agar kami tidak sibuk bergaya, menata rambut sedemikian rupa seperti anak-anak zaman sekarang dan melupakan tugas utama, belajar. Aba sendiri ketika ditanya, hanya akan tersenyum, berdoa sambil mengelus-elus “pulau kecil” di kepala kami, dan berkata; “Agar kepala kalian ringan menerima pelajaran.”

Gaya rambut plontos setengah ala Ronaldo memang sangat populer di sekitar tahun 2002. Itu dimulai sejak Ronaldo menjadi sorotan media massa karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengocek si kulit bundar. Ronaldo mengantarkan Brazil menjadi juara sepak bola di ajang piala dunia untuk yang ke lima kalinya tahun 2002 di Jepang-Korsel, sekaligus menjadi Top Score dengan koleksi delapan goal selama kompetisi. Dua diantara gol spektakulernya bahkan dicetaknya pada partai final melawan Jerman. Gaya rambut itu kemudian menjadi trend dan diikuti oleh banyak fans dan pecinta sepak bola di seluruh dunia. Saya tidak yakin siapa sebenarnya yang ikut-ikutan. Sebab sejak 1990 kami telah mengenal gaya rambut ini, jauh sebelum Ronaldo menjadi pemain terbaik dunia.

Kairo, senja, 3 Mei 2010

Pesan Singkat Pembangkit Semangat; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pesan Singkat Pembangkit Semangat
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Tulisan itu tampak tak buruk. Masih dapat dibaca dengan jelas. Sepertinya untaian sebuah bait syair yang ujungnya terpotong. Terukir di pintu lemari besi yang kusam di kamar salah seorang kawan yang tinggal di Asrama International University of Afrika (IUA)-Sudan. Ia pun tak tahu sejak kapan tulisan itu berada di situ. Yang ia tahu dengan jelas bahwa tulisan itu ikut menambah coret-moret pintu lemari itu, ikut masuk dalam untaian garis coklat karat pintu, turut serta dalam usaha penegasan keusaman lemari dan menjadi saksi sejarah bisu atas masa-masa yang telah berlalu.

Memang kelihatannya tidak menarik. Barangkali hanya sekedar coretan tak beraturan yang digoreskan oleh seseorang yang tidak ada kerjaan. Pantaslah bila kawan pemilik kamar ini hampir tidak pernah memperhatikannya. Sebab ia hanya laksana sebuah goresan acak-acakan di dinding gua, dan ditemukan oleh seorang yang jatuh dari tebing yang tinggi dalam cerita-cerita silat kho ping ho.

Saya pun tak sengaja melihatnya. Bahkan tak ada niat sama sekali untuk memperhatikannya. Dalam keadaan lelah terbakar matahari setelah kembali melaksanakan Shalat Jumat di Mesjid Majma’ Nur Islami-Khartoum, saya duduk sambil selonjorkan kaki di kamar yang sempit itu. Lalu entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba mata saya tertuju ke aksara prasasti lemari kusam yang penuh muatan itu.

Dengan tiba-tiba badan saya langsung tegak, mata saya jadi fokus, bibir saya langsung tersenyum, dan hati saya–tanpa ada rencana sebelumnya–seketika menjadi gembira. Akal pikiran saya bekerja, seperti mesin pencari google yang dibuka di komputer yang tak lambat loading, segera menemukan file-file kenangan lama terkait dengan tulisan itu. Semuanya seakan langsung berada di depan mata seperti menonton film Tom dan Jerry yang digemari oleh banyak orang.

Kata-kata inilah yang dulu pernah dikirim lewat sms–entah Abaku peroleh darimana–yang menjadi sumber inspirasi untuk tetap jalani hidup ini, memberikan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan, kebesaran dan kuasanya. Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah, jangan menyerah, Oooo…. (kok jadi lagu begini.. ).

Untaian kalimat itu benar-benar tepat datang pada saatnya, ketika saya berada di bis pulang dari kuliah, seusai mendengarkan kabar tak enak tentang ketidaklulusan saya dalam ujian di Al-Azhar. Saya jadi merasa macam Thomas Alfa Edison yang menikmati setiap penemuannya; baik penemuan sukses maupun penemuan gagal. Dalam ratusan kegagalannya ia menjadi tahu bahwa untuk sukses pada penemuan tertentu bukan melalui jalan itu. Dan formulasi aneka kegagalan itu pula menjadi bahan baku utama dalam membuat sebuah penemuan baru yang belum tentu ia dapatkan seandainya ia tak gagal. Jadilah semua penemuannya itu menjadi sesuatu yang berarti.

Untaian zamrud penyejuk jiwa itu aslinya berbahasa arab, tapi dikirimkan Aba sebab saya tahu Aba yang selalu punya kerjaan seperti itu melalui HP Umi pakai huruf latin. Untaian itu masih selalu saya baca dan tak saya hapus dari HP Nokia saya yang hilang di mobil tramko dari Hay Asyir menuju Hay Sabe’, Nasr City-Kairo. Tak ada niat saya menghafalnya. Tapi karena sering membacanya kata-kata itu masuk juga ke alam bawah sadar saya. Di pintu lemari kusam, kalimat terukir dalam tulisan Arab yang ditulis dengan Spidol hitam permanen yang sangat tidak diminati oleh dosen yang menggunakan white board masih bisa dibaca.

Saya tuliskan kalimat itu seperti yang ada di HP kenangan:

==wa man takunil ‘ulya himmata nafsihi, fakullulladzi yalqaahu fiihaa muhabbabu==

Artinya kira-kira seperti ini:

“Dan siapa yang menjadikan kemuliaan sebagai obsesi dirinya, maka segala yang ia temui dalam jalan mencapainya menjadi sesuatu yang menyenangkan”

Tak ada yang sia-sia. Segalanya pasti berarti. Seperti bata yang rupa-rupa bentuknya dalam membentuk sebuah bangunan kokoh dan menjulang tinggi, seperti Edison yang menikmati kegagalan demi kegagalan menjadi jenjang kesuksesan, seperti itu pulalah segala rangkaian episode kehidupan. Menjadi rantai zamrud yang indah, asal bisa disikapi dengan baik.

Itulah tulisan yang ada di lemari kusam. Tapi itu belum lengkap. Masih ada sambungan kalimatnya di hape yang hilang itu, tapi kini belum teringat lagi. Saya cari kembali di brankas alam bawah sadar dulu, tapi tak ketemu. Saya tanya sama Om Google.com, tapi dia juga tidak tau. Saya ingin tanyakan kembali kepada Aba, tapi ia telah tiada.

Kalimat yang sederhana yang baru saya tau ternyata itu adalah bagian dari puisi Mahmud Sami Al-Barudi begitu indah terasa. Benar-benar memberikan sejuk di jiwa, laksana kesegaran air putih di Bulan Ramadhan yang diminum oleh orang yang puasa di Sudan di kala mereka berbuka. Tak ada kesegaran lain menggantikan air putih yang dingin itu. Panggangan bara matahari membuat orang bisa memahami pentingnya kehadiran air. Skenario Ilahi sungguh selalu indah dalam hal apapun.

Aba sudah lama kembali pulang ke negeri asalnya. Tapi seakan ia masih saja hadir di sini, saat saya membuat tulisan kenangan ini. Terus memberikan suntikan semangat untuk tetap tegar dan ceria menghadapi kehidupan.

Ada Cinta di Mata Aba; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Ada Cinta di Mata Aba
(Catatan Hamzatussyahid Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Sebenarnya bukan soal luka itu. Kalau bekerja kebun, kulit luka kena parang, pacul atau linggis itu biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun luka di hari itu menjadi luka yang tak terlupa karena diiringi oleh sebuah kejadian yang luar biasa. Hari itu tampak sangat jelas ada cinta di mata Aba. Aba kelihatan khawatir, langsung menyuruh kami berhenti bekerja untuk mengobati luka saya yang tidak seberapa.

Sentuhan cinta itu dari Umi dan Aba sesungguhnya setiap hari selalu saya rasakan. Bagaimana bentuk perasaannya sungguh sulit saya ungkapkan. Saya merasa sangat disayangi dan dikasihi oleh mereka berdua. Dalam perintah-perintah mereka, dalam larangan mereka, ada gambaran rasa kasih sayang itu. Sungguh ini sebuah karunia yang luar biasa sepanjang hidup saya. Seandainya karunia ini diketahui oleh raja-raja, oleh orang-orang kaya sedunia, oleh pejabat-pejabat tinggi negara, oleh mereka yang hanya memiliki materi saja namun tak pernah merasakan bahagia di hatinya, pasti mereka akan membelinya. Tapi maaf, saya tidak pernah berniat menjualnya.

Sudah terlalu banyak saya merasakan kasih sayang ini. Maka saya pun bertekad di dalam hati untuk tidak akan pernah jauh dari mereka. Saya bertekad untuk selalu menjaga keduanya, memuliakannya, dan merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya. Kalau saya mau membangun rumah untuk keluarga, saya tak akan jauh dari beliau berdua, agar saya bisa lebih sering mengunjungi mereka.

Hal ini sudah sejak lama pernah saya ungkapkan kepada Aba dan Umi. Saya bahagia melihat mereka bahagia mendengarkan keinginan saya itu. Namun ternyata sebelum saya mampu berbuat lebih banyak, Aba telah lebih dulu meninggalkan kami semua. Di Mesjid Alkhairaat, saya menjadi imam saat menyalatkan Aba tercinta. Sebab tinggal saya seorang anak laki-lakinya yang tersisa. Tiga kakak saya sedang menempuh tugas mulia berjuang di jalan Allah belajar ilmu agama. Saya selalu berdoa, semoga Umi dan Yaya, serta kakak-kakak saya selalu baik-baik saja. Begitu juga Aba, semoga Allah merahmatinya. Aba dan Umi telah mengajarkan banyak hal yang berarti bagi kami semua.

Maafkan saya, tuan, saya tidak kuasa lagi melanjutkan tulisan ini. Ada mendung yang tertahan di kelopak mata ini bila mengingat-ingat kenangan bersama Aba. Saya hanya bisa berdoa dan terus berdoa untuknya. Semoga Allah memberimu Aba, tempat terbaik di sisiNya.

Majlis Ta’lim dan Ibukota; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Majlis Ta’lim dan Ibukota
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Dua belas Oktober tahun 2011 ini Kabupaten Boalemo akan berusia dua belas tahun. Untuk usia sebuah kabupaten, dua belas tahun belum bisa disebut sebagai usia yang lanjut. Sama seperti manusia, dua belas tahun masih tergolong belia, dalam masa penataan dan pencarian jati diri. Tapi Boalemo di usia ini sudah mencatat sejumlah prestasi nasional yang patut dibanggakan. Sinergi positif antara pemerintah dan masyarakat telah meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan infrastruktur dan ekonomi daerah.

Prestasi dan penghargaan nasionalpun membanjiri Kabupaten Boalemo dalam satu dasawarsa pertamanya. Sebutlah prestasi-prestasi nasional itu misalnya Manggala Karya Kencana pada Tahun 2002, Bupati peduli terhadap pendidikan luar sekolah 2002, Adhi Bakti Mina Bahari 2005, Bupati Peduli Pendidikan 2006, harapan I lomba club olah raga Sparta nasional 2007, peringkat II Kabupaten Peduli Pembangunan Kehutanan 2008, Rumah Sakit Daerah Tani dan Nelayan (RSTN) meraih Piala Citra Pelayanan Prima 2008, Bupati Peduli Pembangunan Transmigrasi 2009, terbaik dalam peningkatan produksi beras 2006 sampai 2008, peringkat I Nasional Raskin Award ’08 tahun 2009, Lencana Melati 2009, terbaik pengelolaan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) nasional 2009, nominator penerima Piala Citra Bhakti Abdi Negara 2009.

Nama Aba ikut dikenal dan diabadikan dalam sejarah awal jelang pembentukan Kabupaten Boalemo. Sebagai pejuang, mungkin. Tapi di medan yang berbeda. Lewat doa-doa, lewat orasi-orasi kecil yang diselipkan dalam ceramah-ceramahnya atau lewat gurauan-gurauan ringan dengan santri-santrinya.

Saya ingat, ketika itu Majlis Ta'lim Nurul Khairaat yang dipimpin Aba sejak lebih dua tahun di Marisa terhenti karena permasalahan tarik menarik Ibukota, antara Tilamuta dan Marisa. Sebagai orang Tilamuta, Ia sangat berharap Ibukota Kabupaten Boalemo jatuh di Tilamuta. Itu tampak sekali dalam doa dan interaksinya, juga dalam keaktifan pada rapat-rapat tokoh Tilamuta di rumah Pak Guru Ku'i. Ia turut hadir menyumbangkan ide, menegaskan komitmen, membahas persiapan dan strategi Tilamuta menjadi Ibukota. Karena itu, namanya di Tilamuta ikut disebut dalam barisan pejuang. Dan bagi orang Marisa ketika itu, hal itu sudah cukup untuk men"cap" dirinya sebagai “lawan politik” yang mesti diawasi sepak terjangnya.

Maka mulailah riak-riak kecil dalam hubungan sosial Aba. Ketika itu fitnah atas namanya memang merebak di Marisa. Tapi dengan silaturahmi yang terus terjaga, sahabat-sahabat Aba di sana tidak mudah termakan fitnah dan selalu berusaha sesegera mungkin mendapatkan konfirmasi. Keluarga di Marisa juga turut aktif dan memberikan dukungan. Sekalipun sempat merebak, fitnah itu dengan segera kembali dapat diluruskan.

Hari lebaran selalu Ia manfaatkan untuk berkunjung dan bersilaturahmi. Marisa selalu mendapatkan jadwal perjalanan silaturahmi hari raya. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga, kerabat dan sahabat. Om Delbar, Om Ayat, Pak Guru Tamu dan beberapa tokoh lainnya selalu menjadi tujuan kunjungan rutin lebaran. Saya ingat ketika kecil, di rumah Om Delbar di Duhiadaa saya suka menyembunyikan beberapa potong kue lebaran di saku kemeja.

Begitulah, sekalipun hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dengan sahabat-sahabat anggota Majlis Ta'limnya di Marisa tetap berjalan, tapi Majlis Ta'lim sendiri terhenti. Satu dua kali undangan ceramah di Marisa masih Ia terima. Tapi sudah tidak lagi sesering sebelumnya.

Masyarakat kita memang masih cenderung membatasi ruang gerak para ustadz atau aktivis agama pada kegiatan ceramah, pengajian atau memimpin shalat berjamaah. Politik dan ekonomi di sebagian komunitas masih dianggap zona tidak steril, yang mesti dijauhi oleh juru dakwah.

Entah siapa yang awal mula memperkenalkan pandangan ini. Padahal sebenarnya dalam Islam tidak pernah ada pemisahan dan pembatasan demikian. Islam adalah agama syaamil kaamil, sempurna dan satu kesatuan utuh yang mengatur seluruh lini kehidupan pemeluknya.

Benar bahwa ada ulama yang gagal mengubah janji agama menjadi realitas dalam dunia nyata. Tapi hal itu murni lahir dari keterbatasan manusia. Justru di sinilah letak ujiannya. Karena jika melihat fakta sejarah secara utuh, tidak sedikit "Abdi Tuhan" yang sukses politik dan ekonomi. Lihatlah bagaimana Al Quran dengan bangga bercerita tentang keadilan kerajaan Daud, kemakmuran negeri Sulaiman, keagungan kuasa Zulkarnain. Bahkan Nabi Muhammad sendiri telah menyandingkan politik dan agama. Ia adalah seorang politikus besar, pimpinan Negara Islam Madinah, yang di akhir membentang luas sepanjang semenanjung Afrika, hingga mencapai Spanyol, Portugal dan Selatan Prancis di Eropa. Sejarah juga mencatat para sahabat terkemuka adalah politikus sekaligus pengusaha sukses. Ulama-ulama Islam yang datang setelah itu umumnya bergelut dalam politik dan niaga. Bahkan di Negeri Kita Indonesia, sejarah kemerdekaan dipenuhi sederet nama ulama, kiai dan pemuka agama. Jika sekarang pembatasan ruang gerak para ulama masih dilakukan sebagian masyarakat, mungkin nanti, pada suatu saat yang mudah-mudahan tidak lama lagi, pandangan seperti itu akan berubah lebih baik.

Majlis Ta'lim Nurul Khairaat ketika itu adalah majlis ta'lim mingguan paling besar di Marisa. Setiap Selasa sore, dengan Mobil Mitsubishi open cup-nya Kak Bo'e atau Kak Hamdan, Ia berangkat. Santri yang mau ikut di ajak menemani. Umumnya santri yang ikut adalah yang berasal dari Paguat dan Marisa. Mereka sekaligus pulang berlibur walau hanya beberapa jam ke rumah masing-masing. Dan kami, menjadi jagoan-jagoan kecil yang setia menemani perjalanan dakwahnya.

Biasanya, Magrib sudah tiba di Mesjid An Nur Marisa. Atau sesekali terlambat, jika agak lama singgah di rumah almarhum Ami Ale di Paguat. Makan malam selalu di Rumah Makan Nagit Marisa dan langsung menuju lokasi Majlis Ta'lim yang sudah ditentukan minggu sebelumnya. Berpindah-pindah, setiap minggu di tempat berbeda, dari mesjid ke mesjid. Saya menduga, semua mesjid di Marisa ketika itu sudah pernah Ia kunjungi dan pernah ia berceramah di sana.

Majlis ta'lim akan menghabiskan waktu tiga jam. Ceramah satu jam, sisanya dua jam untuk tanya jawab. Materinya seputar hukum-hukum Islam standar. Tentang Shalat, tentang zakat, tentang muamalat atau bahkan tentang tatacara pernikahan, perceraian dan pembagian warisan. Kadang-kadang peserta terus antusias sekalipun waktunya habis. Dan waktu akan molor, pulang ke Tilamuta selalu setelah hampir jam dua belas malam.

Di Pos Polisi Marisa, selalu begitu, setiap kali ada pemeriksaan, Aba yang duduk di depan hanya akan melambaikan tangan sembari mengucapkan salam. Polisi penjaga akan langsung mengenali, tidak akan bertanya apa-apa, hanya sedikit membungkuk, dan Mobil Kak Bo'e berlalu tanpa hambatan.

Tanta, Barat Mesir, 1 April 2010

Bukan Musuh, Tapi Kawan Berpikir; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Bukan Musuh, Tapi Kawan Berpikir
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Kehidupan yang berliku membuat setiap kita tak lepas dari berbagai macam perbedaan pendapat. Sebab setiap orang punya pemikiran berbeda yang dibentuk oleh latar belakang keluarga, pendidikan, dan pengalaman yang tidak sama. Ketidaksamaan ini bila tidak disikapi dengan baik ujung-ujungnya akan membawa kepada perselisihan.

Tidak adanya usaha untuk saling memahami dan bertoleransi sering membawa kepada perpecahan. Lebih-lebih bagi seorang yang bergerak di bidang pendidikan dan pemikiran keislaman, perbedaan pada beberapa cabang permasalahan agama tidak dapat dihindari. Perbedaan ini menjadi indah bila disikapi dengan baik, sebab dalam beberapa kesempatan, adanya perbedaan ini membuat kita bisa saling mengisi satu sama lain.

Memang tidak mudah menghadapi adanya perbedaan. Sebab ia berkaitan dengan ego diri, reputasi, nama, pemikiran, perasaan, kepentingan, dan berbagai hal lainnya. Orang yang tidak menerima sebuah pendapat walaupun benar, kadangkala bukan karena ia tidak mengetahui bahwa pendapat itu benar, melainkan karena perasaan ego yang kuat, merasa lebih dibanding yang lain, dan menganggap orang yang menyampaikan pendapat yang berbeda dengannya itu derajatnya lebih di bawah dari dirinya. Ada sedikit kesombongan yang masih bersemayam di lubuk hatinya. Sungguh sangat perlu kedewasaan diri dan kerendahan hati yang lebih dalam menghadapi ketidaksamaan ini.

Aba sebagai pimpinan pondok yang ikut bertanggungjawab pada kebijakan dan keputusan dalam pesantren, tokoh masyarakat yang turut aktif dalam beragam kegiatan sosial, dan tokoh agama yang menjadi tempat merujuk untuk berbagai persoalan keagamaan, tentu ikut turut merasakan atmosfir perbedaan pendapat dengan berbagai kalangan ini.

Pada permasalahan agama saja, banyak hal furu' yang berbeda. Bukan hanya saat ini, tapi sejak zaman yang silam. Sejarah umat telah mencatat adanya empat mazhab yang tetap lestari hingga saat ini, didukung oleh dalil-dalil dan para ulama yang memperjuangkannya. Namun semua bisa saling memahami satu sama lain, sehingga terjadi sinergi yang produktif.

Belum lagi menyangkut perbedaan terkait dengan kebijakan pondok dan beberapa pandangan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Banyak hal-hal yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Dalam menghadapi perbedaan semacam ini Aba selalu memposisikan orang yang berbeda dengannya sebagai kawan dan sama sekali bukan musuh. Sebab seperti kata Imam Syafi'i, sebuah pendapat yang menurut kita (setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam) adalah benar, bisa saja itu salah, sementara pendapat orang lain yang menurut kita salah, bisa saja itulah yang benar.

Ketika kita sudah punya satu pendapat, maka yang paling penting adalah apa yang menjadi landasan dari pendapat tersebut, apa dalil dan argumentasinya, sehingga kita memilih pendapat tersebut. Ketika ada orang yang berbeda, yang kita lihat juga adalah landasan dari pendapatnya itu. Kemudian dari melihat landasan pendapat ini kita bisa mempertimbangkan mana yang paling kuat.

Bisa jadi kita akan tetap bertahan dan konsisten pada pendapat kita saat kita melihat bahwa tetap pendapat kitalah yang paling kuat. Atau kita bisa mengambil pendapat kawan bila ternyata itu yang paling sesuai dengan situasi dan tempat saat ini, atau bisa juga kita mengambil jalan tengah di antara dua pendapat yang berbeda ini. Jadi, orang yang berbeda bisa menjadi kawan untuk saling membangun, bukan dianggap sebagai musuh yang berniat menjatuhkan.

Apapun yang terjadi, baik sama atau pun beda, kita tetap wajib untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling toleransi, dan saling memahami untuk menjaga keutuhan umat ini. Sebab perpecahan adalah terlarang apapun bentuknya.

Saya terus mengenang hal ini sebagai salah satu hal yang membanggakan dari Aba, dan saya ingin terus belajar untuk mempraktekannya dalam kehidupan..

Kairo, musim dingin di penghujung Desember 2010

Sibawaihin; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Sibawaihin
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Sekolahnya memang tidak selancar anak-anak lain di masanya. Kematian ayah tercinta di usia tujuh tahun menjadi pukulan berat bagi jiwanya. Ia secara tiba-tiba terbebani untuk bekerja dan membantu penghidupan keluarga. Maka di saat anak-anak lain melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia tak punya pilihan selain bekerja. Begitulah, dengan bermodalkan keyakinan dan semangat yang tak pernah surut, Ia terus berusaha. Ia percaya mampu merubah garis hidup keluarganya, dan yakin menjadi orang pertama yang men-tradisi-kan sekolah dalam keluarga. Nasiblah yang menuntunnya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mengais rezeki dan mengejar cita-cita menuntut ilmu.

Sejak kecil ia telah menjadi murid kesayangan Pak Ki'o, seorang guru agama terkemuka di Bumbulan. Di bawah pengawasan Beliau, Ia belajar mengaji dan menghafal banyak kosa kata Bahasa Arab. Di Alkhairaat Palu, Ia menjadi murid kesayangan Ketua Utama Alkhairaat; Habib Saggaf Al Jufri, cucu Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri; Sang Ulama legendaris, pendiri Alkhairaat.

Dari Habib Saggaf dan beberapa tokoh Alkhairaat lainnya ia belajar Ilmu agama. Hukum Islam, perbandingan agama, retorika, dan ilmu kemasyarakatan, semuanya ia pelajari di sini. Secara khusus ia menekuni Gramatika Bahasa Arab. Buku-buku standar gramatika sangat akrab menemani hari-harinya di Palu, dan telah berulang kali ia tamatkan di hadapan guru-gurunya. Dan di akhir, semua menyadari bahwa ia sangat berbakat dalam cabang ilmu yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Nahwu ini.

Setelah menamatkan Madrasah Mu'allimin (setingkat Aliyah/SMA), Ia menjadi guru Nahwu di Alkhairaat Palu, kurang lebih sembilan tahun di sana sebelum akhirnya pindah dan mengabdikan ilmunya di Alkhairaat Tilamuta. Kondisi sosial dan lingkunganlah yang membuatnya bertahan, dan menetap lebih dua puluh lima tahun di Tilamuta; mengajar, berdakwah dan bermasyarakat. Karena keahliannya dalam Ilmu Gramatika Bahasa Arab, pada masanya, Nahwu dikenal menjadi ciri khas dan kebanggaan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Kemampuan Bahasa Arabnya mendapat pengakuan dari guru dan sahabat-sahabatnya. Syekh Abdussalam Fathi Harun ketika kami temui di kediamannya, Propinsi Marsa Matruh, Timur Mesir, menceritakan kekaguman Beliau ketika Aba mampu membedakan terjemahan gonggongan, ringkikan, kokokan, kicauan, auman, embikan dan suara-suara binatang lainnya dalam bahasa Arab. Habib Saggaf, Habib Abdillah memujinya. Ust. Yahya Alamri, Ust. Mutahar Aljufri, Habib Shaleh Aljufri belajar darinya. Prof. Dr. Umar Syihab—saat ujian skripsinya—pernah berkata; "Saya salut dengan kedalaman ilmu Muhammad Abubakar!"

Ilmu Bahasa Arab memang merupakan salah satu cabang ilmu terpenting dalam Islam. Karena ilmu ini menjadi pengantar untuk mendalami Ilmu-ilmu Islam lainnya. Pemahaman terhadap sumber-sumber hukum dalam Islam banyak dipengaruhi oleh pengetahuan Bahasa Arab. Sejauh mana pengetahuan bahasa, sedalam itu juga pemahaman terhadap Hukum Islam. Itulah mengapa para ulama sepakat bahwa salah satu syarat menjadi mujtahid dan berfatwa adalah kemampuan Bahasa Arab yang baik. Sebab sumber-sumber Hukum Islam itu sendiri dibawa oleh Nabi yang berasal dari Arab dan tertulis dengan aksara dan Bahasa Arab. Sebab untuk melakukan komparasi pemikiran Ulama Islam terdahulu dalam menentukan hukum dan berijtihad dibutuhkan kemampuan Bahasa Arab yang mumpuni.

Nabi dan para sahabat adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab. Bahkan terkenal dan diakui kefasehannya di tengah-tengah masyarakat yang juga berbahasa Arab. Para ahli hukum dalam sejarah Islam juga semuanya menekuni Ilmu Nahwu ini. Sebab ia adalah jalan untuk memahami Islam dengan baik. Dalam sejarah perkembangan Nahwu, tokoh paling fenomenal dan paling menguasai ilmu ini digelari Sibawaihi. Sibawaihi adalah gabungan dua kata dari Bahasa Persia. Siba artinya Buah Apel, Waihi artinya Bau.

Ada banyak riwayat, mengapa para ahli Nahwu digelari demikian. Salah satunya adalah karena kehalusan Bahasa Arab mereka sama seperti halusnya bau Buah Apel. Paling tidak sejarah menyebut empat ulama dari empat kawasan yang sempat digelari Sibawaihi. Mereka adalah Imamul 'Arabiyah 'Amr bin Usman bin Qanbar, Imam Muhammad bin Abdul Aziz dari Asbahan, Imam Muhammad bin Musa bin Abdul Aziz dari Mesir dan Imam Abul Hasan Ali bin Abdullah dari kawasan Barat Arab atau Magrib.

Karena kemampuan Nahwu di atas rata-rata pada masanya, teman-teman Aba menggelarinya Sibawaihin, dengan penekanan pada huruf N di akhir kata. Sibawaihin adalah pelesetan dari nama Sibawaihi. Dalam Bahasa Arab, untuk menggelari seseorang yang punya kemampuan mirip dengan tokoh tertentu, digunakan penambahan tanwin. Para ahli bahasa biasa menyebutnya dengan tanwin tankiir. Sibawaihi menjadi Sibawaihin. Dan pada kenyataannya, tidak berlebihan jika menyebut dirinya sebagai salah seorang Sibawaihin Indonesia.

Kairo, 23 April 2010

Kalau Cuma Makan, Ada di Rumah; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Kalau Cuma Makan, Ada di Rumah
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Memang hanya sekedar hobi, sama sekali bukan profesi. Tapi sungguh seperti seorang petani profesional. Mungkin karena terlahir dari keluarga petani dan telah menjadi tulang punggung keluarga sejak ditinggal ayahnya di usia kecil, maka ia begitu mahir merawat tanaman, membuat pagar dan mengelola kebun.

Setiap hari, selalu begitu. Setelah menunaikan kewajiban mengajarnya di pesantren dan mengawasi pengajian kitab kuning setelah Shalat Dhuhur, ia akan mengajak kami, menemaninya bekerja, menghabiskan siang di kebun. Tidak seorangpun menyangka bahwa pagar-pagar bambu yang rapi, tanaman beraneka jenis, dan kebun-kebun yang bersih di Modelomo dan Pentadu Barat itu adalah hasil sentuhan tangan seorang pimpinan pesantren dan tokoh agama terkemuka. Memang hanya beberapa petak tanah kecil. Tapi kelihatan begitu menarik, bersih, dan tertata rapi berbagai tanaman.

"Seragam kerja" nya sama seperti petani lain; kaus lengan pendek dan celana panjang butut, ditemani parang kecil dan tali pengikat pagar. Nyaris tak mudah dikenali, kecuali melalui kopiah kuning yang dengan setia menutupi uban di kepalanya. Kopiah yang tidak lagi bisa disebut baru itu menjadi ciri khas yang membedakan penampilannya dari petani-petani lain. Kopiah itulah paling tidak aksesoris yang sedikit menegaskan identitasnya sebagai seorang kiyai.

Pisang beraneka ragam, cokelat dan kelapa menjadi hasil utama kebun-kebun itu. Setiap minggu, dua tiga tandan pisang bisa dibawa pulang. Itu tidak termasuk yang disedekahkan pada tetangga. Sebab biasanya, sedekah dari hasil pisang itu sudah dikeluarkan untuk tetangga kebun atau kerabat sekitar, sebelum pisangnya masuk ke gudang penyimpanan di rumah.

Membeli tanah, mencari bibit dan menanam, ia kerjakan semuanya dari nol, dengan penuh semangat, gembira dan sejuta pengharapan. Sejak awal ia memang telah meniatkan, jika nanti ada hasil materi, maka akan ditambahkan pada tabungan haji keluarga. Dan dengan itulah antara lain, Ia memenuhi kewajiban rukun Islam ke lima pada 2001 dan menghajikan istri tercintanya pada 2005.

Kerja itu telah membentuk fisiknya tegap dan kuat. Sentuhan intens dan terus menerus dengan alat-alat kebun itu juga membuat kaki dan tangannya kasar dan keras. Baginya, itu semua merupakan kebanggaan tersendiri. Bukankah Rasul pernah memuji seorang Sahabat yang tangannya kasar karena bekerja keras untuk kehidupannya? "Tangan seperti ini," kata Nabi, "yang dicintai dan dimuliakan Allah."

Beragam cerita pernah bermula dari kebun-kebun kecil ini. Para santri yang bergantian menemaninya banyak menyimpan kenangan. Kepada mereka, di sini ia banyak mengajarkan syair-syair Arab, doa-doa dan nasehat, di samping teknik mengelola tanaman tentunya. Di sini, dengan santri-santrinya ia lebih terlihat seperti seorang teman atau kakak dengan adiknya dari pada seperti seorang guru dengan muridnya. Tertawa dan bercanda, dekat dan akrab.

Salah satu kebiasaannya di kebun, untuk menghilangkan kesuntukan dan lelah, ia menyanyi. Suaranya fals dan keras. Ia menyayi bebas. Dan nyanyian itu akan disambut tawa riang para santri yang menemani. Bukan karena indah, bukan karena merdu. Tapi karena lucu. Selain lirik lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja, intonasinya juga berbeda dari lagu sebenarnya. Dan suaranya sama sekali tidak bisa dibilang berbakat.

Salah satu tembang andalannya adalah lagu Isti Yulistri, Balaeng deng birman sandiri. Isi lagu kurang lebih tentang kesetiaan dan keharmonisan hubungan rumah tangga. Lucunya, hanya satu kalimat dari tembang ini yang ia kuasai. Ia menjadi hapal kalimat itu dari nyanyian anak-anak tetangga di jalanan depan rumah. Ia kemudian menjadikan potongan tembang itu sebagai contoh dan pelajaran kepada pengantin baru bila membawakan nasehat perkawinan. Mungkin pemilik lagu akan ikut terpingkal-pingkal jika mendengarkannya menyanyikan potongan tembang itu.

Masih segar dalam ingatan, suaranya mendayu-dayu, menembus celah-celah pelepah pisang, memecah kesunyian siang;

"Kalau cuma makan, ada di rumah.. Kalau cuma minum, ada di rumah.. Kalau cuma makan, ada di rumah.. Kalau cuma minum, ada di rumah...."


27 April 2010