Beranda

Showing posts with label Ada Cinta di Mata Aba. Show all posts
Showing posts with label Ada Cinta di Mata Aba. Show all posts

Thursday, June 7, 2012

Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun
(Duta Al Azhar untuk Alkhairaat 1997-2001)
atas meninggalnya Almarhum

(Dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)



بكل الحزن أبكيه وبالآهات أرثيه
ودمعى فاض من عينى تحدر من مآقيه
أحقا مات والدنا؟ أحقا صرت باكيه؟
فكل الناس تعرفه وتعرف صدق خافيه
فلن ننس مواقفه ونصحا كان يصديه
فصبرا يا أبنائه وصبرا يامحبيه
وصبرا إن أتى أمر قضاء الله قاضيه
فإن غابت ملامحه فما غابت معانيه
وإن لفوه فى كفن وبات القبر حاويه
فأسأل ربى الرحمن يجبر كسر باكيه
ويرحم من فقدناه وبالرضوان يرضيه
أابكيه أأرثيه؟ وهل ماقيل يكفيه؟
رحم الله والدنا

(رثاء الشيخ عبد السلام فتحى هارون المصرى
على وفاة السيد الوالد محمد أبوبكر)




Puisi Syekh Abdussalam Fathi Harun
(Duta Al Azhar untuk Alkhairaat 1997-2001)
atas meninggalnya Almarhum


Dengan segala sedih aku menangisinya
Dengan segenap duka aku terisak kehilangannya
Berlinang bening air mataku deras banjiri kelopak mata
Benarkah orang tua kita itu telah tiada?
Benarkah kini harus kutangisi kepergiannya?

Semua orang mengenalnya
Semua orang tahu betapa jujur batinnya
Kita tak kan lupa dengan tegas sifat dan teguh sikapnya
dan mutiara nasehat yang selalu terucap tulus darinya

Sabarlah wahai anak-anaknya
Tabahlah wahai orang-orang yang mengasihinya
Bersabarlah… Karena ketentuan Allah pasti berlaku jua
Walau raganya telah tiada, kenangan tentangnya takkan terlupa
Meski jasadnya kini telah berselimut kafan Dan di hening kubur dia kini terbaring sendirian

Aku bermohon semoga Tuhanku Yang Maha Pengasih Menghibur kepiluan hati mereka yang bersedih diremuk duka
Menyayangi dan meridhai orang-orang yang ditinggalkannya

Benarkah kini aku menangisinya?
Sungguh tak cukup segala pujian untuknya
Semoga Allah menyayangi orang tua kita

Pesan Terakhir yang Abadi; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pesan Terakhir yang Abadi
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Jam satu siang tanggal 14 Februari 2010, akhirnya ia merasakan kenikmatan terindah dalam hidupnya. Tak ada ada lagi penanggungan rasa sakit bertahun-tahun, tidak ada lagi kelemahan anggota tubuh, tidak ada lagi kesedihan yang mengiringi setiap langkah dan gerak, tiada lagi suara yang tercekat di leher menahan derita. Seketika menjadi begitu tenang. Tak bergerak. Diam. Sunyi. Tak ada desis suara. Begitu damai.

Sebab penanggungan sakit itu hampir genap tiga tahun lamanya, sejak tahun 2007 yang lalu. Hari-harinya yang diisi kesibukan sekaligus kenikmatan itu berganti seberkas kisah di ruang kamar.

Semenjak lama sebelum sakit, saya selalu melihat dari dekat bila sejak dini hari ia sudah siap dengan pakaian kebesaran menghadap Rabb-nya. Seruan muazzin yang membelah keheningan subuh bukan lagi pembangun tidurnya. Seruan itu hanya menjadi semacam penanda untuk beralih ke ibadah selanjutnya. Lalu seisi rumah pun diajak untuk menghadap ilahi Rabby penuh syahdu di malam yang sunyi.

Seusai Subuh, dilanjutkan dengan dzikir atau kalau sempat menyampaikan sedikit nasehat penghidup semangat. Semacam ceramah singkat. Setelah itu ia mengajar membaca kitab; Al-Kawakib Ad-Durriyyah, Nashaihul Ibad, Risalatul Mu’awanah, Nashaihuddiniyah atau kitab-kitab lainnya. Seusai baca kitab, ia langsung bersiap ke sekolah; mengisi jadwal mengajar sambil mengawasi jalannya persekolahan. Dan sudah menjadi maklum, bila ia yang masuk, maka semua akan tertunduk dalam diam, menanti setiap untaian kata bermakna sarat arti yang diucapkan dengan sepenuh hati. Baru berhenti ketika Azan Dhuhur sudah berkumandang.

Seusai dhuhur, bukannya istirahat, tapi malah mengajar lagi di mesjid. Baca tafsir Ibnu Katsir. Makan siang baru dilaksanakan sekitar jam 15.00, beberapa saat sebelum asar. Istirahat setelah makan digunakan untuk baca koran dan mengobrol dengan anak-anak. Ba’da asar ia ke kebun. Memang aslinya ia adalah seorang petani yang kebetulan sempat sekolah. Maka kegemarannya untuk menanam pisang, menanam kelapa, memperbaiki pagar yang rusak dan bercengkrama dengan berbagai jenis tanaman tidak bisa dipisahkan. Setelah maghrib biasanya menerima undangan ceramah dan acara-acara sosial. Tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Demikianlah siklus produktif hidupnya.

Saya bisa menangkap ada empat hal yang paling ia sukai: membaca, mengajar, berkebun dan menyambung tali silaturahmi. Ia juga adalah orang yang paling bahagia kalau ada tamu yang datang ke rumah. Segala macam dikeluarkan untuk membahagiakan tamu yang datang.

Karakter pribadinya jelas: orangnya disipilin, tanggungjawab, cinta ilmu, dan berkemauan keras.

Namun sejak tiga tahun lalu sosok yang kuat dan selalu bersemangat itu hanya mampu mengistirahatkan dirinya di kasur tidurnya. Sakit. Macam-macam sakit yang menimpa; maag, diabetes dan lainnya. Tapi tidak sampai menghapus semangatnya menjalani hidup produktif. Ia jadi bisa lebih banyak merenung di rumah. Entah berapa banyak buku selesai dibaca. Silaturahmi dengan masyarakat yang jauh dan dekat jadi terhubung erat sebab banyak yang datang ke rumahnya untuk menjenguk. Satu hal yang selalu membuat penjenguk heran: orang yang dikabarkan sakit ini ternyata menyambut mereka dengan wajah penuh cerah, dengan penampilan yang tertata. Seperti tidak sakit. Dan memang ia tak pernah ingin orang ikut menderita dengan deritanya. “wa idzan tushibka khashashatun fatahammali.” Apabila engkau mendapatkan musibah maka pikullah sendiri. Dalam riwayat lain “fatajammali” maka tampakkanlah yang baik-baik. Demikian prinsip hidupnya yang juga ia bagi kepada orang yang ada di sekitarnya.

Saat putra pertamanya ingin kembali belajar di Kairo untuk kedua kali (tahun 2007), ia berusaha dengan segenap tenaganya untuk mengantar sampai bandara. Satu nasehatnya yang masih terngiang, “Nak, pergilah dengan penuh semangat. Jangan ada air mata yang tumpah. Jangan meninggalkan kesedihan kepada orang-orang yang ditinggalkan.” Sang anak pun menjadi tegar. Dan lihatlah, keluarga itu berpisah dengan penuh senyuman. Masing-masing sedang berbicara langsung ke hati…

Saat putra kedua ingin kembali menyusul kakaknya (tahun 2009), ia tidak mampu lagi bangkit dari kasur putih rumah sakit. Hanya lambaian tangan diiringi senyuman disertai ucapan fi amanillah (semoga dalam lindungan Allah) yang mengantarkan putra tercinta menyeberang benua nun jauh disana. Ia sendiri yang memaksa agar anak keduanya itu harus pergi, terbang bersama cita-citanya.

Kegalauan menghantui putra ketiga. Ia tidak mungkin meninggalkan Abanya sedang sakit seperti ini. Berat. Sangat berat. Tapi tidak. Ada sebuah kepentingan besar yang lebih utama dari perasaan. Pergi. Susul kedua kakakmu untuk belajar di negeri para nabi (tahun 2010). Sakitnya semakin parah. Satu pesan terucap saat itu: jangan pulang sebelum berhasil, apapun yang terjadi!

Kondisinya saat itu sudah sangat lemah.

Beberapa hari lalu saya sempat menelponnya. Dengan suara yang tercekat di leher, dengan susah payah, akhirnya ia mampu menyampaikan satu pesan yang tak kan pernah saya lupa. Satu pesan yang mampu melestarikan memori berkekalan. Satu pesan gambaran semangat yang terpatri di relung hati. Satu pesan penggugah, penyulut semangat, menyentuh sukma, merasuk jauh ke dalam jiwa.

Dengan patah-patah ia berkata:
“s-e-l-a-m-a-t b-e-l-a-j-a-r n-a-k” lalu ia tak berkata apa-apa lagi.

Sungguh sebuah pesan terakhir yang abadi..

Beberapa hari setelah pesan itu, saya memperoleh kabar ia sudah tutup buku kehidupan…

Muhammad Abubakar: Abaku, guruku, sahabatku, jagoanku, teladanku sekaligus pahlawanku yang tersayang ternyata telah kembali lebih dulu.
Selamat jalan Aba. Semoga rahmat Allah selalu bersamamu.

Kairo, sehari setelah Aba berpulang ke rahmatullah

Saat Pembuktian Cinta; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Saat Pembuktian Cinta
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Lumayan lama episode kehidupan ini berjalan. Pergantian pikiran dan perasaan berlalu tambal sulam di sana sini, saling mengganti, saling melengkapi. Rasa-rasanya, dalam bentang rol kehidupan itu, potongan waktu ketika sakit adalah saat-saat yang selalu terkenang-kenang dan tidak mudah terlupakan dalam hidup saya.

Detik-detik ketika sakit adalah detak yang berharga bagi si sakit dan keluarganya. Walaupun diam, mereka tetap memperhatikan dan merekam dengan baik siapa yang memberi perhatian kepada dia yang tergeletak tak berdaya di ranjang itu. Sebab saat itu adalah saat pembuktian cinta dan ketulusan. Semangat yang mendorong untuk datang dan merawat ketika itu adalah semangat pemberian dan kasih sayang. Sebab tak ada pamrih yang bisa didapatkan dari si sakit itu. Ketulusan yang diberikan waktu itu akan membekas dan sangat berpengaruh.

Ketika suka, banyak nian kawan yang datang. Berkerumun. Bahkan mengaku-ngaku punya hubungan dekat. Ketika duka, sekian banyak jumlah tadi menjadi berkurang, seperti tak pernah kenal sebelumnya. Yang berdiri untuk tetap teguh di sisi ialah yang punya cinta dan ketulusan berlebih pula.

Masa tiga tahun Aba saya terbaring sakit adalah masa cukup lama bagi kami keluarga untuk mengenal kasih sayang dan ketulusan sesungguhnya.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat kurang enak badan selama beberapa hari. Sakit kepala, demam dan batuk. Sebuah rasa sakit yang lumayan mentidakbisakan saya melakukan apa apa. Ketika itu saya jadi tau apa yang Insya Allah bisa saya lakukan ketika ada kawan yang sakit. Sebab saya sendiri saat itu sangat membutuhkan sentuhan.

Ada beberapa keinginan saya yang saya ingin teman-teman lakukan sebagai bentuk perhatian kepada kawan yang lagi sengsara. Sebagian saya dapatkan, sebagian lagi tidak. Dan saya justru mendapatkan perhatian itu dari kawan-kawan dekat yang saya tau pernah juga sakit seperti ini.

Ketika nanti ada kawan yang sakit, maka yang perlu saya lakukan adalah:

Pertama, memberinya perhatian dengan sikap dan kata-kata; dengan membesarkan hatinya, misalnya, menanyakan kondisinya, menyentuh dahi dan kakinya, dan mendoakannya. Paling tidak menunjukkan bahwa kita tahu kalau dia sedang sakit.

Kedua, menyiapkan makanan untuknya, atau membawakan makanan kesukaannya. Tanya dia mau makan apa, lalu segera belikan atau buatkan. Atau langsung saja belikan makanan yang paling ia sukai (terutama yang bergizi). Sebab orang sakit kehilangan nafsu makan padahal ia perlu asupan gizi yang besar.

Ketiga, kalau perlu pijit dia dengan ringan, temani mengobrol walau sejenak, semangati untuk cepat sembuh, belikan obat dan bila perlu bawa ia ke dokter. Temani dan temani dia. Sampaikan do’a untuk orang sakit.

Saat kelas dua Mts. dulu (sekitar tahun 1998) saya dirawat di rumah sakit karena penyakit maag. Ketika itu banyak teman-teman yang datang berkunjung, sambil membawa buah dan berbagai macam makanan. Dan tahukan engkau kawan, saya tidak akan pernah lupa dengan wajah-wajah yang datang untuk menjenguk, lebih-lebih yang menemani saya ketika itu. Apalagi seorang kawan yang sempat membawa salah satu minuman kesukaan saya. Hingga kini, setelah hampir 12 tahun berlalu, masih saja ingatan akan memori yang satu itu hadir di hadapan.

Nabi Muhammad sejak dulu menyatakan bahwa salah satu kewajiban seorang mukmin kepada saudaranya adalah menjenguknya di waktu ia sakit. Ketika kecil dulu, bapak saya pernah bilang: saat paling tepat untuk dekat dengan seseorang adalah ketika ia sakit. Sebab saat itu ia benar-benar butuh perhatian. Dan ia tidak akan pernah lupa dengan orang yang memberi kepadanya saat ia benar-benar membutuhkannya. Itulah saat menyampaikan ketulusan dan kasih sayang. Saat duka, itulah saat pembuktian cinta.

Pengaruh Dahsyat Suara Ibu; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pengaruh Dahsyat Suara Ibu
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Tadi pagi saya baru menelpon Ibu saya di Indonesia. Saya sempat bicara sekitar 23 menit dan harus terhenti karena pulsa habis. Sayup suara penuh cinta di Desa Modelomo sana, di Boalemo-Gorontalo, begitu merdu terdengar di jiwa. Merdu sekali, mengalahkan keindahan suara apa pun.

Ada pengaruh dahsyat terasa di setiap ungkapan. Perpisahan jasad yang sudah berumur lebih tiga tahun semakin merekatkan ikatan hati. Selalu ada harap untuk terus mendengarkan suara sakti di seberang sana dan selalu ada bahagia setelah mendengarkannya.

Inilah cara up date semangat paling jitu. Bagi saya, suara ibu ibarat sutera halus membungkus jiwa yang tulus. Ia ibarat gerimis embun tiris memekarkan bunga-bunga. Ia ibarat topan beliung yang mengguncang laut ke relung-relung. Ia adalah gemericik air di taman asri. Ia penumbang segala belantara duka dan nestapa. Ia selalu sakti mengalirkan kekuatan, memberikan keteduhan, melambungkan cita-cita, meningkatkan ketegaran. Maka ingin selalu aku mendengarkan suara itu setiap hari, setiap waktu. Namun ujung-ujungya pulsa jualah yang membatasi. Maklum, anak rantau.

Di hadapan Ibu, saya dapat bercerita apa saja. Saya dapat membanggakan diri sepuas-puasnya dengan penuh kejujuran, sebab hal itu bisa ikut membuatnya bangga. Saya tak perlu berkecil hati dan takut dianggap sombong karena membanggakan diri sendiri. Sebab keadaan diri saya sekarang kini dan bagaimana nanti itu adalah hasil sentuhan tangannya juga.

Saya pun bisa bercerita tentang segala halangan, rintangan, dan penderitaan hidup yang ada, tanpa merasa khawatir dianggap lemah. Sebab jiwanya begitu luas untuk menampung segala keluh kesah itu, dan pada dirinya selalu ada obat penawar yang manjur hasil ramuan pengalaman hidup yang panjang.

Ketika perang berkecamuk antara dua pasukan Abdullah bin Zubair dan tentara Hajjaj bin Yusuf, perwira perkasa ini menyempatkan diri menemui ibunya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

“Mengapa tampak ada ketakutan di matamu, nak?” tanya Asma bin Abu Bakar kepada putranya.
“Ibu, Demi Allah saya tidak takut. Hanya saja saya khawatir mereka akan menyiksa tubuhku setelah aku mati nanti” jawab Abdullah.
“Ketahuilah anakku, sesungguhnya kambing yang telah mati itu tidak akan merasa sakit lagi ketika dikuliti”

Mata Abdullah langsung berbinar. Segera ia bangkit menyambar pedangnya. Ada semangat yang tiba-tiba menyala di dalam dadanya.

“Anakku, apa yang engkau pakai di badanmu itu?” tanya Asma’ lagi.
“Ini baju besi, Ibu, untuk melindungi tubuhku dari panah dan tombak”
“Apa yang kamu lakukan ini bukanlah tindakan seorang yang pemberani, anakku “

Abdullah langsung melemparkan baju besi yang dipakainya. Ia maju menerjang ke medang juang dengan berani dan gagah perkasa, hingga akhirnya ia gugur dengan terhormat sebagai seorang pahlawan.

Di pelosok Gaza sana, ada seorang ibu yang hanya tinggal bersama putra tunggalnya. Ayah dari putra itu telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Betapa besar cintanya kepada sang anak, harta berharga satu-satunya yang ia miliki. Namun aura kecintaan tidak menyelimuti hati dan melarutkan kesedihannya dalam waktu lama. Dalam usia yang sangat dini, ia membawa anaknya ke Mekah. Ia suruh anaknya yang masih kecil itu untuk belajar walaupun harus meninggalkannya sendirian di usia tuanya. Sang anak pun merantau dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menambah ilmu pengetahuan dan memenuhi harapan ibunya.

Pengorbanan cinta yang tak sia-sia. Tibalah saatnya sang anak bisa menjadi maestro di jagat ilmu pengetahuan. Namanya kini terus berkibar, mewariskan peninggalan yang amat sangat bernilai bagi peradaban umat manusia, terutama di bidang fiqih dan hukum islam. Anak kecil itu bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I atau lebih dikenal Imam Syafi’I, imam Mazhab Syafi’i. Seorang ilmuan yang ilmunya memenuhi kehidupan umat manusia sejak beberapa abad yang silam.

Alangkah besar pengaruh Ibu dalam perjalanan kehidupan seorang anak. Doa ibu punya kedahsyatan tersendiri. Suara ibu punya pengaruh lain di dalam jiwa. Saya pernah mendengarkan banyak kisah mereka yang hampir putus asa namun kemudian bangkit setelah mendengarkan suara ibunya yang berada nun jauh disana.

Kapankah engkau terakhir kali berbicara dengan ibumu, kawan?

Sosok yang mulia itu senantiasa merindukanmu.

Kepada mereka yang diberi kehormatan menjadi ibu, jangan meremehkan pengaruh dahsyatmu pada anak-anak yang engkau miliki. Kasih sayang dan dukunganmu mengalirkan kepercayaan diri yang tinggi bagi anak-anakmu. Dalam senyummu, ada bahagia yang luar biasa bagi jiwa putra-putrimu. Dalam doamu, ada kekuatan yang mengguncang langit ketujuh. Dalam suaramu, ada selaksa keteduhan yang menyejukkan. Dirimu sangat menentukan masa depan putra-putrimu itu.

Kepada Ibuku, ucap terimakasihku sepanjang waktu. Doamu sangat kuharapkan selalu.

Bis Kota Kampung Melayu; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Bis Kota Kampung Melayu
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Suatu siang di Jakarta.
Lebih dua jam saya dan Ibu saya berada di bis dari Kampung Melayu, Jakarta. Sebuah perjalanan darat di teriknya siang yang sesak dan menyesakkan. Jalanan macet. Saya memandang wajah Ibu saya yang memerah dan bermandikan peluh. Jelas benar ada bekas-bekas keletihan disana. Jilbab putihnya sedikit buram warnanya oleh debu yang menempel.

“Capek Mi?” Tanya saya ketika saya sampai di rumah.
“Iya, ummi capek sekali,” kata Ibu saya sambil bersandar ke kursi.
“Tapi alhamdulillah di bis tadi ada anak muda yang baik. Lihat ummi berdiri, dia langsung bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Umi duduk di situ. Ah, semoga Allah membalas budi baiknya.”

Saya jadi terharu. Siapa itu yang memberi tempat duduk kepada Ibu saya dan meringankan sedikit penatnya. Saya ingin bertemu dengannya dan berterimakasih sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya. Mungkin sebenarnya anak muda itu juga lelah dalam perjalanannya, namun ada dorongan lain dari dalam jiwanya untuk memberi tempat kepada yang lebih tua. Atau bisa juga dia lelah duduk, makanya ingin berdiri. Atau bisa juga kakinya lagi kesemutan, maka ingin sekedar meluruskannya. Apapun alasannya, apa yang dia lakukan itu sangat berarti bagi Ibu saya dan tentunya bagi saya juga.

Asli, bukan hal yang mudah berdiri dari kursi di bis dan mempersilahkan orang lain menempatinya di saat-saat yang sulit. Ketika kita lama nunggu bis misalnya, pas bisnya datang ternyata tidak ada tempat kosong. Setelah satu jam berdiri, orang yang duduk di samping tempat saya berdiri baru ingin turun. Itupun baru ingin. Belum turun benaran. Ketika dia beranjak untuk turun, maka jelas kawan akulah pemilik utama kursi itu. Sudah sejak sejam yang lalu aku menjaganya sambil berharap ia segera turun, agar aku bisa gantian duduk disitu.

Mungkin engkau yang berdiri disampingku juga merasa lelah kawan. Tapi percayalah, aku tidak akan kasihan kepadamu. Aku lebih mengasihani diriku ini yang sudah tidak kuat lagi berdiri. Mau bapak-bapak, mau ibu-ibu, kakek-kakek ataupun nenek-nenek yang ada disampingku, di saat yang seperti itu susah bagiku untuk memberimu tempat. Apalagi menyuruh aku berdiri untuk mempersilahkan dirimu yang baru datang.

Itsar (mengutamakan orang lain) itu kadang sulit, dan disaat sulit seperti itulah kita diuji untuk tidak kalah dengan nafsu dalam melakukan kebaikan. Kalau saya masih sering kalah. Moga engkau bisa selalu menang dalam pertarungan ini kawan.

Di Mesir, kami biasa berdiri sejajar dengan dosen-dosen kami di kuliah di bis kota, karena tidak dapat tempat duduk. Kadang kami kaget kalau yang disamping ini atau yang tadi ikut berebut naik bis itu setelah sampai di kuliah ikut memberikan muhadharah. Dari halte Darrasah yang ada di dekat kampus Al-Azhar, saya pernah nunggu bis bersama salah seorang guru besar ilmu hadits universitas Al-Azhar, pernah bersama dosen mata kuliah Qadhaya Mu’ashirah, juga pernah berkali-kali dengan dosen Ushul Fiqh Hanafi. Semua mereka adalah para profesor doktor yang terhormat. Bahkan nama yang pertama saya sebut tadi membayarkan ongkos bis dan duduk bersama anak-anak muridnya di deretan kursi paling belakang. Itu setelah Beliau pulang dari sidang tesis magister fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits Universitas Al-Azhar. Beliau adalah promotor sekaligus dosen pengujinya. Pakaian dan penampilan mereka sangat bersahaja, namun ilmu mereka sungguh susah mengukur kedalamannya.

Sungguh benar-benar sebuah ketidakberadaban, bila saya masih duduk pura-pura tidur dan sok tidak tau ketika ada salah seorang dosen saya berdiri di samping saya di bis. Maka, sekuat mungkin saya berusaha untuk bisa memberi tempat kepada orang-orang tua yang ada di dekat saya (apalagi pakaiannya kelihatan rapi dan bersih) bila kebetulan saya lebih dulu duduk. Jangan-jangan beliau doktor azhar. Kalau bukan dari fakultas Syariah, mungkin dari fakultas lainnya. Atau kalau tidak, saya tetap ingin berdiri. Nabi Muhammad Saw bilang bukan golonganku yang tidak menghormati orang tua.

Terakhir saya ingin ucap terima kasih kepada dia yang telah memberi tempat kepada Ibu saya di bis kota tadi. Entahlah dia itu siapa, tapi mungkin saja itu engkau, kawan. Makasih ya.

Belajar Menjadi Orang Kaya; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Belajar Menjadi Orang Kaya
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Anda tau kawan siapa orang terkaya 2010? Bukan Bill Gates lagi. Jadi siapa? Dialah Carlos Slim Helu, orang Mexico. Jumlah kekayaannya mencapai $ 53.5 miliar menurut Forbes World’s Billionaires. Kekayaan bersihnya $ 18.5 miliar dalam setahun. Kalo di Indonesia masih Aburizal Bakrie & family dengan kekayaan $5.4 milliar. Posisi sebagai orang terkaya ini akan terus berganti seiring dengan berlalunya hari.

Menjadi orang kaya memang penting. Ketika kecil dulu Aba saya suka menasehati saya dengan ungkapan: “Jadilah orang kaya, nak” atau “Belajar jadi orang kaya, nak”. Nasehat ini hampir selalu di ulang-ulangi untuk mengingatkan saya dan adik-adik bahwa menjadi orang kaya itu penting. Tidak sekedar punya, yang paling penting adalah mempunyai mental orang kaya. Sebab harta itu bukan jaminan. Banyak uang tapi banyak utang. Harta melimpah tapi ditimpa penyakit yang memerlukan banyak pengobatan. Dana besar namun diikuti oleh banyak kebutuhan. Maka Nabi Muhammad punya pandangan yang berbeda tentang kekayaan. Beliau mengingatkan, “Kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati”.

Membangun mental kaya sungguh jauh lebih penting daripada menjadi orang berpunya. Saya perhatikan, paling tidak ada empat kriteria dari kaya hati itu:

Pertama, senantiasa bersyukur dengan apa yang ada
Hidup adalah anugerah. Diberi kesempatan hidup saja, itu sudah merupakan kenikmatan yang besar. Apalagi ditambah dengan berbagai nikmat yang sangat besar. Barangkali yang membuat orang tidak bersyukur adalah karena dia hidup di dunia konseptualnya yang dipenuhi lilitan keinginan yang tak berujung. Nabi Muhammad bilang bahwa barang siapa yang bangun pagi dalam keadaan aman, sehat wal afiat, dan punya makanan untuk hari itu, maka dia seakan-akan telah dikaruniai dunia dan segala isinya. Sebab inti kenikmatan materi adalah tiga hal itu: keamanan, kesehatan dan ketersediaan makanan. Selama ada kesadaran akan nikmat, selama itu pula ada kesyukuran. Dan selama ada kesyukuran selama itu pula ada kekayaan jiwa. Ukurannya adalah kesyukuran. Bukan melimpahnya kebendaan.

Kedua, tidak pernah mengeluh
Satu pengeluhan, satu goresan kesusahan baru. Jangan kira orang yang mendengarkan, atau diminta untuk memikul masalahnya, tidak punya masalah. Mungkin masalahnya lebih besar hanya saja mampu dia pikul sendiri. Kalaupun harus bercerita, seharusnya, targetnya adalah ingin berbagi dan mendapatkan solusi, bukan ingin dikasihani.

Ketiga, suka memberi dan tidak pernah meminta
Tangan diatas selalu jauh lebih baik dari tangan dibawah. Memberi jauh lebih mulia dari pada meminta. Ini adalah kebiasaan orang kaya yang mesti dilestarikan. Mental kaya adalah mental pemberi, bukan mental peminta-minta, bagaimanapun beragam variasi cara memintanya. Kebiasaan memberi ini perlu dilatih, baik memberikan harta, membagikan ilmu, mengulurkan bantuan atau apa pun yang bermanfaat bagi orang lain. Setiap usaha meningkatkan pendapatan diniatkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberian dan persembahan kepada orang lain, serta memperluas jangkauan manfaat. Alangkah mulianya orang yang seperti ini.
Keempat, merasa cukup dan tidak mengharapkan apa yang ada pada orang lain.

Selama tidak merasa cukup dengan apa yang ada; selama terus berharap pada apa yang ada di tangan orang lain, selama itupula jiwa tetap miskin. Ketersediaan dan kemelimpahan yang ada di hadapan matanya tidak kelihatan karena sibuk memikirkan milik orang lain. 99 kambing tidak dinikmati karena memikirkan 1 kambing milik tetangga. Orang yang tidak merasa cukup selamanya akan miskin dan orang yang ridha dan bersyukur maka dialah orang kaya sesungguhnya. Imam Syafii pernah berpesan “In Kunta dza qalbin qanu’in, fa anta wa malikuddun-ya sawa’u” Bila engkau memiliki hati yang penuh rasa Qana’ah (ridha dan puas dengan karunia) maka engkau dan raja dunia itu sama saja.”

Inilah kekayaan yang tidak bisa hilang atau dicuri, tidak bisa terbakar atau diambil orang, tidak perlu khawatir dengan inflasi dan deflasi, penipuan atau perampokan, kekayaan yang tak bisa diukur oleh uang. Itulah kaya hati, kaya jiwa.

Indah sekali rasanya hidup bila diri ini sudah bisa menjadi orang yang senantiasa bersyukur, tidak pernah mengeluh, selalu memberi, tidak pernah meminta dan merasa Qanaah dengan karunia yang ada, dan tentunya bisa menjadi pembawa manfaat bagi orang lain. Saya pun masih ingin terus belajar. Paling tidak bisa mengamalkan nasehat Aba ketika kecil dulu untuk menjadi orang kaya.

Dengan Sepenuh Hati; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Dengan Sepenuh Hati
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Saya rasakan memang berbeda. Sesuatu yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan lebih bisa dinikmati. Hasilnya pun bisa penuh, tidak setengah-setengah. Hati lebih nikmat dan puas, waktu lebih produktif, pikiran lebih fokus, dengan hasil yang juga memuaskan.
Dalam pepatah arab dikatakakan “Idzâ kunta fî amrin fakun fîhi muhsinan, ammâ qalîlin anta mâdhin watârikuhu...” Bila engkau berada dalam sebuah pekerjaan, maka laksanakanlah dengan sebaik-sebaiknya. Sebab tidak lama setelah itu engkau akan meninggalkan pekerjaan tersebut..

Aba saya sering menasehatkan hal ini kepada saya…..

Hingga saat ini, saya masih terus belajar dan mencoba untuk sepenuh hati kapan dan dimana saja. Saat berjalan, berjalan dengan sepenuh hati. Nikmati perjalanan itu. Sadarkan diri bahwa saya memang sedang berjalan. Fokus pikiran bahwa saya dalam perjalanan. Sebab ada orang yang tidak menikmati saat dia berjalan. Dia baru sadar ketika telah tiba di rumah “Oh ternyata saya sudah berjalan jauh”…

Ketika makan, makan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Ketika minum, minum dengan sepenuh hati. Ketika menulis, menulis dengan sepenuh hati. Ketika membaca, membacalah dengan sepenuh hati. Ketika belajar, belajar dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Ketika bermain, bermain dengan sepenuh hati, tidak main-main. Ketika wudhu, wudhu dengan sepenuh hati. Ketika sujud di hadapan Allah, benar-benar sujud dengan sepenuh hati..

Oh..alangkah nikmatnya..

Sepenuh hati tidak berarti tidak lagi memikirkan yang lain. Sepenuh hati tidak berarti terlalu serius dan tegang. Sepenuh hati tidak lantas membuat diri menjadi kaku. Sepenuh hati tidak kemudian membuat lalai dengan keadaan dan cuek dengan orang yang di sekitar. Sepenuh hati adalah mengetahui, merasakan, menyadari dan melakukan dengan sepenuh perasaan dan pikiran apa yang sedang dihadapi saat ini.

Mengapa perlu sepenuh hati? Sebab nilai waktu terlalu mahal untuk dibiarkan berlalu dengan asal-asalan. Sebab ketika waktu itu telah berlalu, maka dia akan pergi dengan segenap catatan hasil pekerjaan yang kita lakukan saat itu. Dan tidak lama setelah itu, kita pasti akan beralih kepada pekerjaan selanjutnya dan aktifitas berikutnya. Yang tadi sudah dilakukan akan pasti ditinggalkan dan bergabung ke masa lampau.

Saya merasakan, kesepenuhan hati ini salah satunya bisa diraih dengan membuat rencana kegiatan. Sebab keinginan lebih sering menang dibanding kepentingan. Artinya, kalau sudah ingin, hal-hal yang pentingpun menjadi ternomorduakan. Tanpa rencana, hati biasanya tak tenang. Sebab banyak pikiran kegiatan yang menyerbu otak pikiran meminta untuk dilaksanakan. Padahal setiap kegiatan itu ada waktunya. Saya yakin kegiatan apa saja akan bisa lakukan apabila kita mau meluangkan waktu untuknya. Disinilah perlu perencanaan itu.

Dengan sepenuh hati, hasil waktu menjadi lebih nyata, hidup lebih ada rasanya, nikmat menjadi berganda, hati merasa plong dan puas ketika berpindah ke aktifitas selanjutnya.

Dalam istilah Aba:
“Kalau belajar, belajar sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau makan, makan yang sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau bekerja, bekerja sungguh-sungguh, jangan main-main. Kalau bermain, bermain sungguh-sungguh, jangan main-main!”

Friday, May 4, 2012

Jalan Pagi Keliling Kampung; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Jalan Pagi Keliling Kampung
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai ketika kecil dulu? Maka jawabannya adalah jalan pagi bersama Aba. Mungkin bukan hanya pagi hari, di sore, siang ataupun malam jalan santai bersama Aba adalah sebuah hal yang menyenangkan. Bahkan bukan ketika kecil saja, ketika sudah besar (kurang lebih setelah lulus SD) pun jalan bareng dengan Aba menjadi sesuatu yang sangat berarti. Hanya saja ketika kecil dulu lebih mengenangkan dan mengesankan, dan paling banyak dilakukan di pagi hari.

Detik-detik ini menjadi begitu indah karena selama dalam perjalanan itu Aba tak henti bercerita. Baik tentang kisah-kisah teladan kehidupan, atau kisah kehidupan Aba sendiri saat sekolah sampai hari ini, atau kisah keluarga, atau analisa singkat tentang fenomena yang sedang terjadi di masyarakat saat ini. Banyak hal yang dulu saya anggap itu biasa saja, namun jika diingat-ingat kini ternyata rangkaian cerita-cerita singkat dulu itu benar-benar berharga. Selalu saja ada cerita, pengalaman dan kenalan baru. Aba mempunyai sangat banyak kenalan dan memiliki hubungan baik dengan hampir semua orang. Sehingga di jalan itu yang ada adalah berbagi wajah cerah, bertegur sapa, tukar informasi, dan jalin silaturahmi. Tidak jarang kami pergi dengan tangan kosong pulang dengan bawaan berat sekali. Atau pergi dalam keadaan lapar, pulang dalam keadaan kenyang.

Saat di jalan itu Aba banyak menanamkan nilai-nilai akhlak yang sederhana dan praktis. Misalnya ketika berjalan di jalan raya, berjalanlah di sebelah kiri (sesuai peraturan lalu lintas yang berlaku di tempat kita). Setiap kali berjalan, Aba selalu menempatkan kami di sebelah kirinya. Ketika saya tanyakan hal itu, Aba jawab supaya Aba bisa menjaga Muma dan Kim kalau ada apa-apa. Saya juga jadi tahu, kalau berjalan dengan orang yang lebih tua, maka hendaknya menempatkannya di sebelah kanan kita sebagai bentuk penghormatan. Lebih terhormat lagi kalau kita jalannya agak mundur sedikit, tidak terlalu jauh, cukup beberapa senti saja, sekedar menunjukkan kalau orang yang di samping kanan kita ini adalah orang yang kita hormati.

Aba juga sering sekali mengunjungi para fakir miskin yang ada di dekat kebun, di seberang sungai, di jalan-jalan setapak dan di tempat-tempat lainnya. Aba selalu menyapa mereka, bercengkrama dan bercerita tentang tanaman, tentang kondisi saat ini, menanyakan kabar, atau sekedar menyampaikan salam dengan seulas senyuman. Setiap ketemu orang, Aba bisa langsung akrab walaupun sebelumnya belum kenal. Kadang setelah lama ngobrol baru kenalan. Satu pesan Aba yang selalu saya ingat tentang hal ini “Kalau ketemu siapa saja, anggaplah ia kawan lama tak jumpa. Sapa dia seperti kawan-kawan lainnya. Jangan sombong, tapi juga jangan minder.”

Berkunjung ke tempat-tempat orang-orang yang ini selain untuk meluaskan silaturahmi dan memberi apa yang bisa diberi, juga sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat. Aba dulu adalah orang yang sangat miskin di kampungnya, kalau tidak disebut paling miskin. Melihat para tetangga ini, mengingatkan Aba dengan kehidupannya di masa kecil dulu, masa-masa susah saat ditinggal bapaknya dan hanyak hidup bersama Ibu dan seorang adiknya. Kadang Aba berbisik, “Nak, dulu Aba hidup seperti orang itu.” Atau, “Nak, dulu Aba lebih miskin dari itu.” Perasaan kesyukuran atas nikmat pun menyeruak masuk. Demikian pula perasan empati menjadi semakin mekar di dalam jiwa, karena bisa memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Walaupun saya dan Kim tidak berkomentar apa-apa, tapi sungguh lubuk hati yang jauh di sana kami merasakan kesyukuran yang tidak terkira. Melihat kondisi mereka kami jadi merasa betapa kami ini hidup penuh dengan karunia, penuh dengan nikmat yang tak pernah habis-habisnya. Walaupun bukan keluarga berada, kami jadi bisa menerima hidup apa adanya, merasa cukup dengan apa yang ada, bahkan merasakan karunia tak terbatas yang tidak cukup ucapan hamdalah untuk mensyukurinya.

Kami jadi malu meminta uang jajan lebih. Uang logam Rp.100 untuk membeli sekeping roti di sekolah sudah lebih dari cukup. Atau kalau tak dikasih jajan pun tak masalah. Dengan kenikmatan yang melimpah ini; diberi kesehatan, tempat tinggal yang cukup, makanan yang enak dan mengenyangkan di rumah dan kenyamanan suasana yang diberikan oleh Aba Umi, membuat kami selalu merasa dalam kemelimpahan itu.

Kehidupan ternyata memberi banyak pelajaran. Pada 2009 kemarin, tingkat kemiskinan di Indonesia tercatat mencapai 14,15 persen atau sebanyak 32,53 juta jiwa. Barangkali urusan pengentasan kemiskinan ini sepenuhnya tidak bisa diberikan kepada pemerintah. Kita bisa turut berpartisipasi melakukan apa yang kita bisa, sekaligus memetik beberapa pelajaran yang berharga.

Kenangan Ramadan Bersama Aba; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Kenangan Ramadan Bersama Aba
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu membangunkan aku dari tidurku ketika sahur. “Ayo, tinggal lima menit!” Ucapanmu ini membuat kami segera bergegas. Mungkin maksudmu adalah tinggal lima menit lagi waktu makan, namun ucapan itu ternyata berkhasiat menghilangkan kantuk karena dalam benak kami terbayang tinggal lima menit lagi waktu imsak. Kepada Ibu, engkau selalu berpesan untuk memasak masakan paling enak. “Untuk anak-anak...,” katamu. Selalu engkau larang kami untuk tidur seusai sahur dengan berkata, “Nanti Subuhnya lewat!” Maka kami pun sering mengakhirkan makan sahur, agar tak ada yang tidur lagi. Ketika azan Subuh berkumandang, engkau menggandeng tangan mungilku dan adik-adik ke mesjid, menembus gulita, menyapa embun Subuh.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu menyemangati kami baca Al-Quran. Bahkan jauh sebelum Ramadan tiba engkau sudah mengingatkan betapa besar pahala orang-orang yang membaca Al-Quran di bulan puasa ini. Maka aku dan adik-adik pun berlomba untuk mengkhatamkan Al-Quran secepatnya. Dan selalu saja yang menang adalah Kim, adikku yang kedua. Di hari yang kelima atau keenam dia sudah khatam dan kembali mulai baca dari alif laam miim. Senyummu selalu mengembang saat melihat kami mengaji. Bertambah mengembang lagi ketika sudah selesai. Dan kami tau ada hadiah menanti untuk kami di balik kembang senyum itu.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkaulah yang selalu menyemangati kami untuk berangkat pagi-pagi ke sekolah. Kaki-kaki kecil kami pun melangkah dalam kesejukan pagi menempuh jarak sekolah yang hampir satu kilometer dari rumah. Kami tidak merasa lelah bila mengingat delapan kilometer jarak sekolahmu dulu dari rumah yang engkau tempuh setiap hari. Apalagi kami sudah menyaksikan sendiri rumah dan sekolah itu. Tak pernah kami membolos. Saat terik panas siang kembali dari sekolah, engkau dan Ibu menyambut kami di rumah dengan senyummu yang khas itu.


Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau tetap bersemangat pergi ke kebun. Saat kami berangkat ke sekolah, engkau pun sudah siap dengan linggis, pacul dan parangmu. Engkau ke kebun untuk menanam pisang, menanam kelapa, memperhatikan tanaman, memperbaiki pagar yang rusak. Kadang engkau lebih dulu tiba di rumah, kadang pula kami tidak menjumpaimu. Atau kau berangkat ke kebun setelah kami pulang dari sekolah. Engkau di sana sejak seusai Dhuhur sampai asar tiba. Begitu setiap hari, setiap waktu. Selalu ada letih di wajahmu ketika berbuka, tapi selalu saja ada kebahagiaan di wajah yang letih itu.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu berusaha untuk buka puasa di rumah. Aku tahu banyak undangan buka yang datang untukmu, tetapi engkau lebih memilih berbuka denganku, adik-adik dan ibu. Suasana buka puasa dan makan malam ini adalah di antara saat-saat terindah dalam hidupku. Kami duduk melingkar dan masing-masing bercerita tentang pengalaman puasanya di hari itu.

Seusai makan, cerita keluarga dilanjutkan dan selalu saja penuh dengan canda tawa. Kadang engkau menyuruh aku atau adik-adikku ke mesjid untuk mengumandangkan doa sebelum buka puasa. “Asyhadu alla ilaaha illallah astaghfirullah, nas’alukal jannata wa na’udzu bika minannaar“

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu perhatian dengan shalat lima waktu. Engkau ajak kami untuk selalu ke mesjid melaksanakan shalat berjamaah. Shalat Tarawih tidak pernah ketinggalan. Di kala pulang dari mesjid, seringkali engkau bercerita tentang banyak hal sambil terus memegang tangan yang masih mungil itu. Berjalan denganmu sungguh selalu menyenangkan, karena selalu saja ada cerita yang baru. Engkau punya banyak kawan yang selalu engkau sapa atau menyapamu terlebih dahulu di jalan.

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau selalu menyiapkan baju baru untuk kami. Mungkin tidak terlalu istimewa, tapi ada kegembiraan saat kami mendapatkan itu. Engkau senantiasa ingin melihat kami bahagia. Selalu seperti itu. Ketika kami semakin besar, kain sarung dan baju yang dihadiahkan orang kepadamu engkau berikan kepada kami. Kami bahagia, itu sudah kebahagiaan bagimu

Abaku…

Dulu, saat Ramadan seperti ini, engkau senang berjalan pagi, berkunjung kepada tetangga. Engkau selalu membagi makanan untuk berbuka, membagi hasil kebun, memberikan beras kepada orang yang kesusahan, mengantar pisang ke rumah-rumah tetangga. Kami yang engkau suruh membawanya. Kadangkala tempatnya jauh dan di pelosok yang gelap, sehingga kami harus membawa obor untuk bisa mencapainya.

Abaku…

Dulu, di hari kedua Idul Fitri, engkau selalu menyewa satu Mobil Mikrolet untuk kami sekeluarga dan orang-orang yang tinggal di rumah. Engkau mulai dari Tilamuta hingga ke Marisa, tempat kakek berada. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam dua jam itu menjadi delapan jam. Itu karena mobil sering berhenti di jalan.

Setiap ada rumah keluarga dan handai tolan, selalu kami singgah dan mampir di situ. Engkau sangat memperhatikan hubungan silaturahmi. Kata-kata pun tak pernah kulupa “Silaturahmi itu mahal, nak” Kebiasaan ini terus berjalan hingga hampir dua puluhan tahun

Abaku…

Tahun 2007 engkau mulai sakit. Sakit yang memaksa engkau untuk beristirahat di rumah. Engkau jalani Ramadanmu di dalam kamar. Semakin lama sakitmu semakin bertambah. Namun puasa Ramadan selalu engkau lalui dengan sempurna. Ketika Idul fitri tiba, engkau tidak bisa lagi menyewa mobil membawa kami mengunjungi keluarga. Gantinya, ternyata di hari-hari itu banyak keluarga yang datang ke rumah untuk menjengukmu.

Selalu saja ketika mereka datang, engkau sambut dengan penampilan yang rapi dan wajah penuh senyuman. Sehingga dalam pandangan mereka engkau sedang sehat bugar, sehingga mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang tenang.

Hanya Ibuku dan adik-adik yang tahu, bagaimana engkau menahan sakit itu ketika di kamar. Sebab prinsipmu: “Apabila engkau ditimpa kesusahan maka pikullah sendiri, tampakkanlah yang baik-baik, jangan sampai orang lain menjadi susah karena dirimu.”

Abaku...

Sejak delapan kali Ramadan yang silam aku tidak bersamamu. Aku harus pergi jauh darimu, jauh sekali. Tetapi selalu saja engkau tak pernah lupa menelponku: menanyakan kabar, apa menu sahur tadi pagi, gimana puasa hari ini, nanti buka dengan apa dan dimana, shalat Tarawih di mesjid mana, dan bacaan Al-Quran sudah berapa juz sekarang. Aku pun tak pernah lupa menelponmu. Tapi selalu saja engkau yang lebih sering.

Abaku…

Kini engkau telah pergi lebih dulu. Di rumah hanya ada Ibu dan dua orang adikku. Ada baiknya beberapa orang ponakanku mau menemani Ibu. Engkau tak perlu cemas, kami akan selalu setia menjaga Ibu seperti pesanmu dulu. Kami pun tak akan pernah lupa mendoakanmu di setiap waktu. Kelak bila saat pulang itu telah tiba, aku dan adik-adik akan segera berkunjung ke pusaramu…

Razia Empat Senti; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Razia Empat Senti
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Aba sangat membenci rambut gondrong laki-laki. Alasan utamanya karena masalah kerapian dan rambut gondrong sekilas menyerupai perempuan. Santri di Alkhairaat Tilamuta mau tidak mau ikut terkena imbas ketidaksukaan ini. Salah satu peraturan yang selalu diawasi ketat olehnya adalah masalah rambut. Santri putra hanya dibenarkan memiliki rambut paling panjang empat senti meter. Lebih dari itu tidak akan selamat dari pemangkasan massal. Seringkali Ia melakukan operasi pemerikasaan rambut tanpa terduga. Biasanya ketika apel pagi atau di mana saja ia melihatnya. Tanpa ragu, Ia akan memangkas dengan segera.

Sebagian besar santri putra tahu dan pernah merasakan razia empat senti meter ini. Tapi sebagian besar tidak kapok dan terkena razia lagi. Seiring berjalannya waktu, santri semakin pandai menyembunyikan rambut panjang mereka. Ada banyak trik yang biasa mereka lakukan. Dari meminyaknya dengan minyak rambut kental, hingga melipat sedemikian rupa dan menahannya dengan kopiah. Toh di akhir tetap saja ketahuan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga.

Bukan hanya Aba, tapi umumnya orang-orang tua di Gorontalo tidak menyukai rambut gondrong. Entah bagaimana mulanya, orang-orang tua itu menyamakan laki-laki berambut gondrong dengan preman, gelandangan atau anak-anak nakal. Konon, dahulu, di masa pemerintahannya, Presiden Soekarno juga pernah mencanangkan operasi rambut gondrong. “Apabila ada pemuda yang berambut gondrong, saya perintahkan agar mereka diplontos,” tegas Bung Karno. Para pemuda yang tertangkap operasi akan digunting rambutnya oleh aparat keamanan pada saat itu juga. Dan potongan rambut ala aparat keamanan tentu berbeda dengan potongan tukang cukur. Tidak rata dan berlubang-lubang, persis seperti orang yang baru sembuh dari sakit koreng.

Jika untuk para santri panjang rambut empat sentimeter, maka bagi kami anak-anaknya, gaya rambut plontos dengan kuncir tipis di bagian depan. Hingga tamat Sekolah Dasar Negeri I Pentadu Timur, potongan rambut kami sama seperti gaya rambut Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, striker kesebelasan Brazil yang pernah dua kali “hat trick” di Piala Dunia, pemain terbaik sepakbola FIFA, Eropa dan Dunia. Bagian belakang dicukur habis, tapi bagian depan disisakan rambut setengah kepalan tangan. Konyol dan tidak tampan sama sekali. Sekilas tampak seperti sebuah pulau kecil di bagian depan kepala.

Rambut anak yang dicukur sebagian dan dibiarkan sebagian dalam fiqih Islam di masa-masa awal sempat dipertentangkan. Sebagian ulama memakruhkannya, tapi mayoritas membolehkan. Yang memakruhkan bersandar pada hadits Bukhari Muslim dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang melarang qaza’. Nafi’ menafsirkan qaza’ dengan mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian sisanya. Yang membolehkan berpendapat bahwa bentuk potongan rambut tidak terkait langsung dengan agama. Dan mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan qaza’ adalah mencukur di beberapa tempat berbeda sehingga menjadi berlubang-lubang. Dan bahwa Rasul hanya melarang di beberapa waktu tertentu karena alasan-alasan tertentu. Wallahu A’lam.

Entah apa sebab pastinya, potongan rambut ini tetap Aba pertahankan untuk anak-anaknya selama sekolah dasar, termasuk untuk keponakan-keponakan yang tinggal bersamanya. Sama sekali tidak bergaya. Tapi mungkin itu salah satu alasan logisnya. Agar kami tidak sibuk bergaya, menata rambut sedemikian rupa seperti anak-anak zaman sekarang dan melupakan tugas utama, belajar. Aba sendiri ketika ditanya, hanya akan tersenyum, berdoa sambil mengelus-elus “pulau kecil” di kepala kami, dan berkata; “Agar kepala kalian ringan menerima pelajaran.”

Gaya rambut plontos setengah ala Ronaldo memang sangat populer di sekitar tahun 2002. Itu dimulai sejak Ronaldo menjadi sorotan media massa karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengocek si kulit bundar. Ronaldo mengantarkan Brazil menjadi juara sepak bola di ajang piala dunia untuk yang ke lima kalinya tahun 2002 di Jepang-Korsel, sekaligus menjadi Top Score dengan koleksi delapan goal selama kompetisi. Dua diantara gol spektakulernya bahkan dicetaknya pada partai final melawan Jerman. Gaya rambut itu kemudian menjadi trend dan diikuti oleh banyak fans dan pecinta sepak bola di seluruh dunia. Saya tidak yakin siapa sebenarnya yang ikut-ikutan. Sebab sejak 1990 kami telah mengenal gaya rambut ini, jauh sebelum Ronaldo menjadi pemain terbaik dunia.

Kairo, senja, 3 Mei 2010

Pesan Singkat Pembangkit Semangat; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Pesan Singkat Pembangkit Semangat
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Tulisan itu tampak tak buruk. Masih dapat dibaca dengan jelas. Sepertinya untaian sebuah bait syair yang ujungnya terpotong. Terukir di pintu lemari besi yang kusam di kamar salah seorang kawan yang tinggal di Asrama International University of Afrika (IUA)-Sudan. Ia pun tak tahu sejak kapan tulisan itu berada di situ. Yang ia tahu dengan jelas bahwa tulisan itu ikut menambah coret-moret pintu lemari itu, ikut masuk dalam untaian garis coklat karat pintu, turut serta dalam usaha penegasan keusaman lemari dan menjadi saksi sejarah bisu atas masa-masa yang telah berlalu.

Memang kelihatannya tidak menarik. Barangkali hanya sekedar coretan tak beraturan yang digoreskan oleh seseorang yang tidak ada kerjaan. Pantaslah bila kawan pemilik kamar ini hampir tidak pernah memperhatikannya. Sebab ia hanya laksana sebuah goresan acak-acakan di dinding gua, dan ditemukan oleh seorang yang jatuh dari tebing yang tinggi dalam cerita-cerita silat kho ping ho.

Saya pun tak sengaja melihatnya. Bahkan tak ada niat sama sekali untuk memperhatikannya. Dalam keadaan lelah terbakar matahari setelah kembali melaksanakan Shalat Jumat di Mesjid Majma’ Nur Islami-Khartoum, saya duduk sambil selonjorkan kaki di kamar yang sempit itu. Lalu entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba mata saya tertuju ke aksara prasasti lemari kusam yang penuh muatan itu.

Dengan tiba-tiba badan saya langsung tegak, mata saya jadi fokus, bibir saya langsung tersenyum, dan hati saya–tanpa ada rencana sebelumnya–seketika menjadi gembira. Akal pikiran saya bekerja, seperti mesin pencari google yang dibuka di komputer yang tak lambat loading, segera menemukan file-file kenangan lama terkait dengan tulisan itu. Semuanya seakan langsung berada di depan mata seperti menonton film Tom dan Jerry yang digemari oleh banyak orang.

Kata-kata inilah yang dulu pernah dikirim lewat sms–entah Abaku peroleh darimana–yang menjadi sumber inspirasi untuk tetap jalani hidup ini, memberikan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan, kebesaran dan kuasanya. Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah, jangan menyerah, Oooo…. (kok jadi lagu begini.. ).

Untaian kalimat itu benar-benar tepat datang pada saatnya, ketika saya berada di bis pulang dari kuliah, seusai mendengarkan kabar tak enak tentang ketidaklulusan saya dalam ujian di Al-Azhar. Saya jadi merasa macam Thomas Alfa Edison yang menikmati setiap penemuannya; baik penemuan sukses maupun penemuan gagal. Dalam ratusan kegagalannya ia menjadi tahu bahwa untuk sukses pada penemuan tertentu bukan melalui jalan itu. Dan formulasi aneka kegagalan itu pula menjadi bahan baku utama dalam membuat sebuah penemuan baru yang belum tentu ia dapatkan seandainya ia tak gagal. Jadilah semua penemuannya itu menjadi sesuatu yang berarti.

Untaian zamrud penyejuk jiwa itu aslinya berbahasa arab, tapi dikirimkan Aba sebab saya tahu Aba yang selalu punya kerjaan seperti itu melalui HP Umi pakai huruf latin. Untaian itu masih selalu saya baca dan tak saya hapus dari HP Nokia saya yang hilang di mobil tramko dari Hay Asyir menuju Hay Sabe’, Nasr City-Kairo. Tak ada niat saya menghafalnya. Tapi karena sering membacanya kata-kata itu masuk juga ke alam bawah sadar saya. Di pintu lemari kusam, kalimat terukir dalam tulisan Arab yang ditulis dengan Spidol hitam permanen yang sangat tidak diminati oleh dosen yang menggunakan white board masih bisa dibaca.

Saya tuliskan kalimat itu seperti yang ada di HP kenangan:

==wa man takunil ‘ulya himmata nafsihi, fakullulladzi yalqaahu fiihaa muhabbabu==

Artinya kira-kira seperti ini:

“Dan siapa yang menjadikan kemuliaan sebagai obsesi dirinya, maka segala yang ia temui dalam jalan mencapainya menjadi sesuatu yang menyenangkan”

Tak ada yang sia-sia. Segalanya pasti berarti. Seperti bata yang rupa-rupa bentuknya dalam membentuk sebuah bangunan kokoh dan menjulang tinggi, seperti Edison yang menikmati kegagalan demi kegagalan menjadi jenjang kesuksesan, seperti itu pulalah segala rangkaian episode kehidupan. Menjadi rantai zamrud yang indah, asal bisa disikapi dengan baik.

Itulah tulisan yang ada di lemari kusam. Tapi itu belum lengkap. Masih ada sambungan kalimatnya di hape yang hilang itu, tapi kini belum teringat lagi. Saya cari kembali di brankas alam bawah sadar dulu, tapi tak ketemu. Saya tanya sama Om Google.com, tapi dia juga tidak tau. Saya ingin tanyakan kembali kepada Aba, tapi ia telah tiada.

Kalimat yang sederhana yang baru saya tau ternyata itu adalah bagian dari puisi Mahmud Sami Al-Barudi begitu indah terasa. Benar-benar memberikan sejuk di jiwa, laksana kesegaran air putih di Bulan Ramadhan yang diminum oleh orang yang puasa di Sudan di kala mereka berbuka. Tak ada kesegaran lain menggantikan air putih yang dingin itu. Panggangan bara matahari membuat orang bisa memahami pentingnya kehadiran air. Skenario Ilahi sungguh selalu indah dalam hal apapun.

Aba sudah lama kembali pulang ke negeri asalnya. Tapi seakan ia masih saja hadir di sini, saat saya membuat tulisan kenangan ini. Terus memberikan suntikan semangat untuk tetap tegar dan ceria menghadapi kehidupan.

Ada Cinta di Mata Aba; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Ada Cinta di Mata Aba
(Catatan Hamzatussyahid Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Sebenarnya bukan soal luka itu. Kalau bekerja kebun, kulit luka kena parang, pacul atau linggis itu biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun luka di hari itu menjadi luka yang tak terlupa karena diiringi oleh sebuah kejadian yang luar biasa. Hari itu tampak sangat jelas ada cinta di mata Aba. Aba kelihatan khawatir, langsung menyuruh kami berhenti bekerja untuk mengobati luka saya yang tidak seberapa.

Sentuhan cinta itu dari Umi dan Aba sesungguhnya setiap hari selalu saya rasakan. Bagaimana bentuk perasaannya sungguh sulit saya ungkapkan. Saya merasa sangat disayangi dan dikasihi oleh mereka berdua. Dalam perintah-perintah mereka, dalam larangan mereka, ada gambaran rasa kasih sayang itu. Sungguh ini sebuah karunia yang luar biasa sepanjang hidup saya. Seandainya karunia ini diketahui oleh raja-raja, oleh orang-orang kaya sedunia, oleh pejabat-pejabat tinggi negara, oleh mereka yang hanya memiliki materi saja namun tak pernah merasakan bahagia di hatinya, pasti mereka akan membelinya. Tapi maaf, saya tidak pernah berniat menjualnya.

Sudah terlalu banyak saya merasakan kasih sayang ini. Maka saya pun bertekad di dalam hati untuk tidak akan pernah jauh dari mereka. Saya bertekad untuk selalu menjaga keduanya, memuliakannya, dan merawat mereka berdua dengan sebaik-baiknya. Kalau saya mau membangun rumah untuk keluarga, saya tak akan jauh dari beliau berdua, agar saya bisa lebih sering mengunjungi mereka.

Hal ini sudah sejak lama pernah saya ungkapkan kepada Aba dan Umi. Saya bahagia melihat mereka bahagia mendengarkan keinginan saya itu. Namun ternyata sebelum saya mampu berbuat lebih banyak, Aba telah lebih dulu meninggalkan kami semua. Di Mesjid Alkhairaat, saya menjadi imam saat menyalatkan Aba tercinta. Sebab tinggal saya seorang anak laki-lakinya yang tersisa. Tiga kakak saya sedang menempuh tugas mulia berjuang di jalan Allah belajar ilmu agama. Saya selalu berdoa, semoga Umi dan Yaya, serta kakak-kakak saya selalu baik-baik saja. Begitu juga Aba, semoga Allah merahmatinya. Aba dan Umi telah mengajarkan banyak hal yang berarti bagi kami semua.

Maafkan saya, tuan, saya tidak kuasa lagi melanjutkan tulisan ini. Ada mendung yang tertahan di kelopak mata ini bila mengingat-ingat kenangan bersama Aba. Saya hanya bisa berdoa dan terus berdoa untuknya. Semoga Allah memberimu Aba, tempat terbaik di sisiNya.

Majlis Ta’lim dan Ibukota; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Majlis Ta’lim dan Ibukota
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Dua belas Oktober tahun 2011 ini Kabupaten Boalemo akan berusia dua belas tahun. Untuk usia sebuah kabupaten, dua belas tahun belum bisa disebut sebagai usia yang lanjut. Sama seperti manusia, dua belas tahun masih tergolong belia, dalam masa penataan dan pencarian jati diri. Tapi Boalemo di usia ini sudah mencatat sejumlah prestasi nasional yang patut dibanggakan. Sinergi positif antara pemerintah dan masyarakat telah meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan infrastruktur dan ekonomi daerah.

Prestasi dan penghargaan nasionalpun membanjiri Kabupaten Boalemo dalam satu dasawarsa pertamanya. Sebutlah prestasi-prestasi nasional itu misalnya Manggala Karya Kencana pada Tahun 2002, Bupati peduli terhadap pendidikan luar sekolah 2002, Adhi Bakti Mina Bahari 2005, Bupati Peduli Pendidikan 2006, harapan I lomba club olah raga Sparta nasional 2007, peringkat II Kabupaten Peduli Pembangunan Kehutanan 2008, Rumah Sakit Daerah Tani dan Nelayan (RSTN) meraih Piala Citra Pelayanan Prima 2008, Bupati Peduli Pembangunan Transmigrasi 2009, terbaik dalam peningkatan produksi beras 2006 sampai 2008, peringkat I Nasional Raskin Award ’08 tahun 2009, Lencana Melati 2009, terbaik pengelolaan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) nasional 2009, nominator penerima Piala Citra Bhakti Abdi Negara 2009.

Nama Aba ikut dikenal dan diabadikan dalam sejarah awal jelang pembentukan Kabupaten Boalemo. Sebagai pejuang, mungkin. Tapi di medan yang berbeda. Lewat doa-doa, lewat orasi-orasi kecil yang diselipkan dalam ceramah-ceramahnya atau lewat gurauan-gurauan ringan dengan santri-santrinya.

Saya ingat, ketika itu Majlis Ta'lim Nurul Khairaat yang dipimpin Aba sejak lebih dua tahun di Marisa terhenti karena permasalahan tarik menarik Ibukota, antara Tilamuta dan Marisa. Sebagai orang Tilamuta, Ia sangat berharap Ibukota Kabupaten Boalemo jatuh di Tilamuta. Itu tampak sekali dalam doa dan interaksinya, juga dalam keaktifan pada rapat-rapat tokoh Tilamuta di rumah Pak Guru Ku'i. Ia turut hadir menyumbangkan ide, menegaskan komitmen, membahas persiapan dan strategi Tilamuta menjadi Ibukota. Karena itu, namanya di Tilamuta ikut disebut dalam barisan pejuang. Dan bagi orang Marisa ketika itu, hal itu sudah cukup untuk men"cap" dirinya sebagai “lawan politik” yang mesti diawasi sepak terjangnya.

Maka mulailah riak-riak kecil dalam hubungan sosial Aba. Ketika itu fitnah atas namanya memang merebak di Marisa. Tapi dengan silaturahmi yang terus terjaga, sahabat-sahabat Aba di sana tidak mudah termakan fitnah dan selalu berusaha sesegera mungkin mendapatkan konfirmasi. Keluarga di Marisa juga turut aktif dan memberikan dukungan. Sekalipun sempat merebak, fitnah itu dengan segera kembali dapat diluruskan.

Hari lebaran selalu Ia manfaatkan untuk berkunjung dan bersilaturahmi. Marisa selalu mendapatkan jadwal perjalanan silaturahmi hari raya. Berkunjung ke rumah-rumah keluarga, kerabat dan sahabat. Om Delbar, Om Ayat, Pak Guru Tamu dan beberapa tokoh lainnya selalu menjadi tujuan kunjungan rutin lebaran. Saya ingat ketika kecil, di rumah Om Delbar di Duhiadaa saya suka menyembunyikan beberapa potong kue lebaran di saku kemeja.

Begitulah, sekalipun hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dengan sahabat-sahabat anggota Majlis Ta'limnya di Marisa tetap berjalan, tapi Majlis Ta'lim sendiri terhenti. Satu dua kali undangan ceramah di Marisa masih Ia terima. Tapi sudah tidak lagi sesering sebelumnya.

Masyarakat kita memang masih cenderung membatasi ruang gerak para ustadz atau aktivis agama pada kegiatan ceramah, pengajian atau memimpin shalat berjamaah. Politik dan ekonomi di sebagian komunitas masih dianggap zona tidak steril, yang mesti dijauhi oleh juru dakwah.

Entah siapa yang awal mula memperkenalkan pandangan ini. Padahal sebenarnya dalam Islam tidak pernah ada pemisahan dan pembatasan demikian. Islam adalah agama syaamil kaamil, sempurna dan satu kesatuan utuh yang mengatur seluruh lini kehidupan pemeluknya.

Benar bahwa ada ulama yang gagal mengubah janji agama menjadi realitas dalam dunia nyata. Tapi hal itu murni lahir dari keterbatasan manusia. Justru di sinilah letak ujiannya. Karena jika melihat fakta sejarah secara utuh, tidak sedikit "Abdi Tuhan" yang sukses politik dan ekonomi. Lihatlah bagaimana Al Quran dengan bangga bercerita tentang keadilan kerajaan Daud, kemakmuran negeri Sulaiman, keagungan kuasa Zulkarnain. Bahkan Nabi Muhammad sendiri telah menyandingkan politik dan agama. Ia adalah seorang politikus besar, pimpinan Negara Islam Madinah, yang di akhir membentang luas sepanjang semenanjung Afrika, hingga mencapai Spanyol, Portugal dan Selatan Prancis di Eropa. Sejarah juga mencatat para sahabat terkemuka adalah politikus sekaligus pengusaha sukses. Ulama-ulama Islam yang datang setelah itu umumnya bergelut dalam politik dan niaga. Bahkan di Negeri Kita Indonesia, sejarah kemerdekaan dipenuhi sederet nama ulama, kiai dan pemuka agama. Jika sekarang pembatasan ruang gerak para ulama masih dilakukan sebagian masyarakat, mungkin nanti, pada suatu saat yang mudah-mudahan tidak lama lagi, pandangan seperti itu akan berubah lebih baik.

Majlis Ta'lim Nurul Khairaat ketika itu adalah majlis ta'lim mingguan paling besar di Marisa. Setiap Selasa sore, dengan Mobil Mitsubishi open cup-nya Kak Bo'e atau Kak Hamdan, Ia berangkat. Santri yang mau ikut di ajak menemani. Umumnya santri yang ikut adalah yang berasal dari Paguat dan Marisa. Mereka sekaligus pulang berlibur walau hanya beberapa jam ke rumah masing-masing. Dan kami, menjadi jagoan-jagoan kecil yang setia menemani perjalanan dakwahnya.

Biasanya, Magrib sudah tiba di Mesjid An Nur Marisa. Atau sesekali terlambat, jika agak lama singgah di rumah almarhum Ami Ale di Paguat. Makan malam selalu di Rumah Makan Nagit Marisa dan langsung menuju lokasi Majlis Ta'lim yang sudah ditentukan minggu sebelumnya. Berpindah-pindah, setiap minggu di tempat berbeda, dari mesjid ke mesjid. Saya menduga, semua mesjid di Marisa ketika itu sudah pernah Ia kunjungi dan pernah ia berceramah di sana.

Majlis ta'lim akan menghabiskan waktu tiga jam. Ceramah satu jam, sisanya dua jam untuk tanya jawab. Materinya seputar hukum-hukum Islam standar. Tentang Shalat, tentang zakat, tentang muamalat atau bahkan tentang tatacara pernikahan, perceraian dan pembagian warisan. Kadang-kadang peserta terus antusias sekalipun waktunya habis. Dan waktu akan molor, pulang ke Tilamuta selalu setelah hampir jam dua belas malam.

Di Pos Polisi Marisa, selalu begitu, setiap kali ada pemeriksaan, Aba yang duduk di depan hanya akan melambaikan tangan sembari mengucapkan salam. Polisi penjaga akan langsung mengenali, tidak akan bertanya apa-apa, hanya sedikit membungkuk, dan Mobil Kak Bo'e berlalu tanpa hambatan.

Tanta, Barat Mesir, 1 April 2010

Bukan Musuh, Tapi Kawan Berpikir; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Bukan Musuh, Tapi Kawan Berpikir
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Kehidupan yang berliku membuat setiap kita tak lepas dari berbagai macam perbedaan pendapat. Sebab setiap orang punya pemikiran berbeda yang dibentuk oleh latar belakang keluarga, pendidikan, dan pengalaman yang tidak sama. Ketidaksamaan ini bila tidak disikapi dengan baik ujung-ujungnya akan membawa kepada perselisihan.

Tidak adanya usaha untuk saling memahami dan bertoleransi sering membawa kepada perpecahan. Lebih-lebih bagi seorang yang bergerak di bidang pendidikan dan pemikiran keislaman, perbedaan pada beberapa cabang permasalahan agama tidak dapat dihindari. Perbedaan ini menjadi indah bila disikapi dengan baik, sebab dalam beberapa kesempatan, adanya perbedaan ini membuat kita bisa saling mengisi satu sama lain.

Memang tidak mudah menghadapi adanya perbedaan. Sebab ia berkaitan dengan ego diri, reputasi, nama, pemikiran, perasaan, kepentingan, dan berbagai hal lainnya. Orang yang tidak menerima sebuah pendapat walaupun benar, kadangkala bukan karena ia tidak mengetahui bahwa pendapat itu benar, melainkan karena perasaan ego yang kuat, merasa lebih dibanding yang lain, dan menganggap orang yang menyampaikan pendapat yang berbeda dengannya itu derajatnya lebih di bawah dari dirinya. Ada sedikit kesombongan yang masih bersemayam di lubuk hatinya. Sungguh sangat perlu kedewasaan diri dan kerendahan hati yang lebih dalam menghadapi ketidaksamaan ini.

Aba sebagai pimpinan pondok yang ikut bertanggungjawab pada kebijakan dan keputusan dalam pesantren, tokoh masyarakat yang turut aktif dalam beragam kegiatan sosial, dan tokoh agama yang menjadi tempat merujuk untuk berbagai persoalan keagamaan, tentu ikut turut merasakan atmosfir perbedaan pendapat dengan berbagai kalangan ini.

Pada permasalahan agama saja, banyak hal furu' yang berbeda. Bukan hanya saat ini, tapi sejak zaman yang silam. Sejarah umat telah mencatat adanya empat mazhab yang tetap lestari hingga saat ini, didukung oleh dalil-dalil dan para ulama yang memperjuangkannya. Namun semua bisa saling memahami satu sama lain, sehingga terjadi sinergi yang produktif.

Belum lagi menyangkut perbedaan terkait dengan kebijakan pondok dan beberapa pandangan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Banyak hal-hal yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Dalam menghadapi perbedaan semacam ini Aba selalu memposisikan orang yang berbeda dengannya sebagai kawan dan sama sekali bukan musuh. Sebab seperti kata Imam Syafi'i, sebuah pendapat yang menurut kita (setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam) adalah benar, bisa saja itu salah, sementara pendapat orang lain yang menurut kita salah, bisa saja itulah yang benar.

Ketika kita sudah punya satu pendapat, maka yang paling penting adalah apa yang menjadi landasan dari pendapat tersebut, apa dalil dan argumentasinya, sehingga kita memilih pendapat tersebut. Ketika ada orang yang berbeda, yang kita lihat juga adalah landasan dari pendapatnya itu. Kemudian dari melihat landasan pendapat ini kita bisa mempertimbangkan mana yang paling kuat.

Bisa jadi kita akan tetap bertahan dan konsisten pada pendapat kita saat kita melihat bahwa tetap pendapat kitalah yang paling kuat. Atau kita bisa mengambil pendapat kawan bila ternyata itu yang paling sesuai dengan situasi dan tempat saat ini, atau bisa juga kita mengambil jalan tengah di antara dua pendapat yang berbeda ini. Jadi, orang yang berbeda bisa menjadi kawan untuk saling membangun, bukan dianggap sebagai musuh yang berniat menjatuhkan.

Apapun yang terjadi, baik sama atau pun beda, kita tetap wajib untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling toleransi, dan saling memahami untuk menjaga keutuhan umat ini. Sebab perpecahan adalah terlarang apapun bentuknya.

Saya terus mengenang hal ini sebagai salah satu hal yang membanggakan dari Aba, dan saya ingin terus belajar untuk mempraktekannya dalam kehidupan..

Kairo, musim dingin di penghujung Desember 2010

Sibawaihin; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Sibawaihin
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Sekolahnya memang tidak selancar anak-anak lain di masanya. Kematian ayah tercinta di usia tujuh tahun menjadi pukulan berat bagi jiwanya. Ia secara tiba-tiba terbebani untuk bekerja dan membantu penghidupan keluarga. Maka di saat anak-anak lain melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Ia tak punya pilihan selain bekerja. Begitulah, dengan bermodalkan keyakinan dan semangat yang tak pernah surut, Ia terus berusaha. Ia percaya mampu merubah garis hidup keluarganya, dan yakin menjadi orang pertama yang men-tradisi-kan sekolah dalam keluarga. Nasiblah yang menuntunnya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mengais rezeki dan mengejar cita-cita menuntut ilmu.

Sejak kecil ia telah menjadi murid kesayangan Pak Ki'o, seorang guru agama terkemuka di Bumbulan. Di bawah pengawasan Beliau, Ia belajar mengaji dan menghafal banyak kosa kata Bahasa Arab. Di Alkhairaat Palu, Ia menjadi murid kesayangan Ketua Utama Alkhairaat; Habib Saggaf Al Jufri, cucu Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri; Sang Ulama legendaris, pendiri Alkhairaat.

Dari Habib Saggaf dan beberapa tokoh Alkhairaat lainnya ia belajar Ilmu agama. Hukum Islam, perbandingan agama, retorika, dan ilmu kemasyarakatan, semuanya ia pelajari di sini. Secara khusus ia menekuni Gramatika Bahasa Arab. Buku-buku standar gramatika sangat akrab menemani hari-harinya di Palu, dan telah berulang kali ia tamatkan di hadapan guru-gurunya. Dan di akhir, semua menyadari bahwa ia sangat berbakat dalam cabang ilmu yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Nahwu ini.

Setelah menamatkan Madrasah Mu'allimin (setingkat Aliyah/SMA), Ia menjadi guru Nahwu di Alkhairaat Palu, kurang lebih sembilan tahun di sana sebelum akhirnya pindah dan mengabdikan ilmunya di Alkhairaat Tilamuta. Kondisi sosial dan lingkunganlah yang membuatnya bertahan, dan menetap lebih dua puluh lima tahun di Tilamuta; mengajar, berdakwah dan bermasyarakat. Karena keahliannya dalam Ilmu Gramatika Bahasa Arab, pada masanya, Nahwu dikenal menjadi ciri khas dan kebanggaan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Kemampuan Bahasa Arabnya mendapat pengakuan dari guru dan sahabat-sahabatnya. Syekh Abdussalam Fathi Harun ketika kami temui di kediamannya, Propinsi Marsa Matruh, Timur Mesir, menceritakan kekaguman Beliau ketika Aba mampu membedakan terjemahan gonggongan, ringkikan, kokokan, kicauan, auman, embikan dan suara-suara binatang lainnya dalam bahasa Arab. Habib Saggaf, Habib Abdillah memujinya. Ust. Yahya Alamri, Ust. Mutahar Aljufri, Habib Shaleh Aljufri belajar darinya. Prof. Dr. Umar Syihab—saat ujian skripsinya—pernah berkata; "Saya salut dengan kedalaman ilmu Muhammad Abubakar!"

Ilmu Bahasa Arab memang merupakan salah satu cabang ilmu terpenting dalam Islam. Karena ilmu ini menjadi pengantar untuk mendalami Ilmu-ilmu Islam lainnya. Pemahaman terhadap sumber-sumber hukum dalam Islam banyak dipengaruhi oleh pengetahuan Bahasa Arab. Sejauh mana pengetahuan bahasa, sedalam itu juga pemahaman terhadap Hukum Islam. Itulah mengapa para ulama sepakat bahwa salah satu syarat menjadi mujtahid dan berfatwa adalah kemampuan Bahasa Arab yang baik. Sebab sumber-sumber Hukum Islam itu sendiri dibawa oleh Nabi yang berasal dari Arab dan tertulis dengan aksara dan Bahasa Arab. Sebab untuk melakukan komparasi pemikiran Ulama Islam terdahulu dalam menentukan hukum dan berijtihad dibutuhkan kemampuan Bahasa Arab yang mumpuni.

Nabi dan para sahabat adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab. Bahkan terkenal dan diakui kefasehannya di tengah-tengah masyarakat yang juga berbahasa Arab. Para ahli hukum dalam sejarah Islam juga semuanya menekuni Ilmu Nahwu ini. Sebab ia adalah jalan untuk memahami Islam dengan baik. Dalam sejarah perkembangan Nahwu, tokoh paling fenomenal dan paling menguasai ilmu ini digelari Sibawaihi. Sibawaihi adalah gabungan dua kata dari Bahasa Persia. Siba artinya Buah Apel, Waihi artinya Bau.

Ada banyak riwayat, mengapa para ahli Nahwu digelari demikian. Salah satunya adalah karena kehalusan Bahasa Arab mereka sama seperti halusnya bau Buah Apel. Paling tidak sejarah menyebut empat ulama dari empat kawasan yang sempat digelari Sibawaihi. Mereka adalah Imamul 'Arabiyah 'Amr bin Usman bin Qanbar, Imam Muhammad bin Abdul Aziz dari Asbahan, Imam Muhammad bin Musa bin Abdul Aziz dari Mesir dan Imam Abul Hasan Ali bin Abdullah dari kawasan Barat Arab atau Magrib.

Karena kemampuan Nahwu di atas rata-rata pada masanya, teman-teman Aba menggelarinya Sibawaihin, dengan penekanan pada huruf N di akhir kata. Sibawaihin adalah pelesetan dari nama Sibawaihi. Dalam Bahasa Arab, untuk menggelari seseorang yang punya kemampuan mirip dengan tokoh tertentu, digunakan penambahan tanwin. Para ahli bahasa biasa menyebutnya dengan tanwin tankiir. Sibawaihi menjadi Sibawaihin. Dan pada kenyataannya, tidak berlebihan jika menyebut dirinya sebagai salah seorang Sibawaihin Indonesia.

Kairo, 23 April 2010

Kalau Cuma Makan, Ada di Rumah; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Kalau Cuma Makan, Ada di Rumah
(Catatan Luqmanul Hakim Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Memang hanya sekedar hobi, sama sekali bukan profesi. Tapi sungguh seperti seorang petani profesional. Mungkin karena terlahir dari keluarga petani dan telah menjadi tulang punggung keluarga sejak ditinggal ayahnya di usia kecil, maka ia begitu mahir merawat tanaman, membuat pagar dan mengelola kebun.

Setiap hari, selalu begitu. Setelah menunaikan kewajiban mengajarnya di pesantren dan mengawasi pengajian kitab kuning setelah Shalat Dhuhur, ia akan mengajak kami, menemaninya bekerja, menghabiskan siang di kebun. Tidak seorangpun menyangka bahwa pagar-pagar bambu yang rapi, tanaman beraneka jenis, dan kebun-kebun yang bersih di Modelomo dan Pentadu Barat itu adalah hasil sentuhan tangan seorang pimpinan pesantren dan tokoh agama terkemuka. Memang hanya beberapa petak tanah kecil. Tapi kelihatan begitu menarik, bersih, dan tertata rapi berbagai tanaman.

"Seragam kerja" nya sama seperti petani lain; kaus lengan pendek dan celana panjang butut, ditemani parang kecil dan tali pengikat pagar. Nyaris tak mudah dikenali, kecuali melalui kopiah kuning yang dengan setia menutupi uban di kepalanya. Kopiah yang tidak lagi bisa disebut baru itu menjadi ciri khas yang membedakan penampilannya dari petani-petani lain. Kopiah itulah paling tidak aksesoris yang sedikit menegaskan identitasnya sebagai seorang kiyai.

Pisang beraneka ragam, cokelat dan kelapa menjadi hasil utama kebun-kebun itu. Setiap minggu, dua tiga tandan pisang bisa dibawa pulang. Itu tidak termasuk yang disedekahkan pada tetangga. Sebab biasanya, sedekah dari hasil pisang itu sudah dikeluarkan untuk tetangga kebun atau kerabat sekitar, sebelum pisangnya masuk ke gudang penyimpanan di rumah.

Membeli tanah, mencari bibit dan menanam, ia kerjakan semuanya dari nol, dengan penuh semangat, gembira dan sejuta pengharapan. Sejak awal ia memang telah meniatkan, jika nanti ada hasil materi, maka akan ditambahkan pada tabungan haji keluarga. Dan dengan itulah antara lain, Ia memenuhi kewajiban rukun Islam ke lima pada 2001 dan menghajikan istri tercintanya pada 2005.

Kerja itu telah membentuk fisiknya tegap dan kuat. Sentuhan intens dan terus menerus dengan alat-alat kebun itu juga membuat kaki dan tangannya kasar dan keras. Baginya, itu semua merupakan kebanggaan tersendiri. Bukankah Rasul pernah memuji seorang Sahabat yang tangannya kasar karena bekerja keras untuk kehidupannya? "Tangan seperti ini," kata Nabi, "yang dicintai dan dimuliakan Allah."

Beragam cerita pernah bermula dari kebun-kebun kecil ini. Para santri yang bergantian menemaninya banyak menyimpan kenangan. Kepada mereka, di sini ia banyak mengajarkan syair-syair Arab, doa-doa dan nasehat, di samping teknik mengelola tanaman tentunya. Di sini, dengan santri-santrinya ia lebih terlihat seperti seorang teman atau kakak dengan adiknya dari pada seperti seorang guru dengan muridnya. Tertawa dan bercanda, dekat dan akrab.

Salah satu kebiasaannya di kebun, untuk menghilangkan kesuntukan dan lelah, ia menyanyi. Suaranya fals dan keras. Ia menyayi bebas. Dan nyanyian itu akan disambut tawa riang para santri yang menemani. Bukan karena indah, bukan karena merdu. Tapi karena lucu. Selain lirik lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja, intonasinya juga berbeda dari lagu sebenarnya. Dan suaranya sama sekali tidak bisa dibilang berbakat.

Salah satu tembang andalannya adalah lagu Isti Yulistri, Balaeng deng birman sandiri. Isi lagu kurang lebih tentang kesetiaan dan keharmonisan hubungan rumah tangga. Lucunya, hanya satu kalimat dari tembang ini yang ia kuasai. Ia menjadi hapal kalimat itu dari nyanyian anak-anak tetangga di jalanan depan rumah. Ia kemudian menjadikan potongan tembang itu sebagai contoh dan pelajaran kepada pengantin baru bila membawakan nasehat perkawinan. Mungkin pemilik lagu akan ikut terpingkal-pingkal jika mendengarkannya menyanyikan potongan tembang itu.

Masih segar dalam ingatan, suaranya mendayu-dayu, menembus celah-celah pelepah pisang, memecah kesunyian siang;

"Kalau cuma makan, ada di rumah.. Kalau cuma minum, ada di rumah.. Kalau cuma makan, ada di rumah.. Kalau cuma minum, ada di rumah...."


27 April 2010

Sang Pembaca Setia; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Sang Pembaca Setia
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Setahun yang lalu, satu hal yang paling membahagiakan dan mengharukan ketika saya menulis adalah: bahwa ternyata Aba saya ikut membaca tulisan-tulisan ini, jauh sebelum ia meninggal. Ada kawan yang menceritakan tentang tulisan-tulisan saya dan membawakannya ke rumah. Ah, sungguh bahagia dan terharunya diriku.

Untukmu kawan yang terbiasa dengan segala macam alat elektronik dan akses internet, setiap waktu, setiap saat, kapan suka dan dimana saja, mungkin ini tidak terlalu istimewa. Tapi bagiku, ini sungguh luar biasa. Sebuah anugerah dan kebahagiaan yang tiada tara.

Selama ini saya menulis hanya untuk menyuarakan apa yang saya rasa dan pikirkan dan untuk berbagi dengan anak-anak negeri dimanapun mereka berada, membiarkannya mengalir mengikuti arus hati dan pikiran. Tidak pernah terpikirkan akan di baca oleh kawan-kawan dan karib kerabat, apalagi Abaku yang jauh di pelosok Gorontalo sana, di Modelomo, di kaki gunung, dekat Pasar Sore, jauh dari gegap gempita kebisingan zaman dan masih belum terjaring oleh gurita internet yang mendunia, ikut pula membacanya.

Sebab kampung kami masih belum banyak tersentuh oleh perkembangan kehidupan yang semakin hari semakin canggih. Untuk anak-anak sebuah kampung kecil di pinggiran kota sepertiku, internet masih sebuah barang antik, langka, dan tidak biasa. Dan itu sempat aku rasakan beberapa waktu lamanya. Aku dengar kini sudah semakin maju, lebih baik dari dulu.

Apalagi ditambah dengan kondisi kesehatannya yang menurun dalam dua tahun terakhir ini, terbaring dalam sakit yang melemahkan tubuhnya, namun tak pernah bisa memadamkan pancaran cintanya kepada keluarga, orang-orang di sekitarnya dan semua manusia.

Lalu seketika saya ingin menulis, menulis dan terus menulis, agar Aba yang tercinta bisa membaca, merasakan bahwa anaknya kini masih segar bugar, masih bisa berkarya, masih menulis, masih bisa berbagi dengan kawan-kawan sebangsa dan setanah airnya, walau dalam jarak yang sangat jauh, berkilo-kilo, bermil-mil, terpisah oleh bentang benua dan samudera dengannya.

Hati ini ingin sekali membuat bakti, berdekatan lagi dengan Aba. Sebab sudah bertahun-tahun tangan ini tidak menjamah tangannya, bersimpuh di hadapannya, mencium tangan Umi dan Aba setiap pagi dan setiap selesai shalat lima waktu, namun belum bisa, sebab harus menyelesaikan kuliah sampai beberapa waktu ke depan.

Lalu kerinduan itu begitu mencuat, membelah nurani. Mataku pun seakan merasakannya. Lihatlah, kini di pelupuk ini ada mendung yang menggantung dan tertahan: rindu ingin berjumpa dengan pahlawan nomor satu yang pernah hadir dalam kehidupanku.

Dan Umiku, semoga pun bisa membaca, dan terus setia mendampingi Aba yang selalu dalam pembaringannya. Dua pahlawan ini selalu menjadi poros cinta dan rindu selama bertahun-tahun lamanya.

Hadirnya pembaca istimewa seperti inilah yang menjadikan sebuah tulisan menjadi berharga. Barangkali saya pernah bilang kepadamu, kawan, bahwa seorang yang menulis suaranya akan jauh, jauh ke tepian, dari ujung ke ujung, tak akan hilang disapu oleh desiran angin. Ia pun takkan padam ditelan waktu, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Suara itu akan melalui banyak orang dan tempat. Alangkah indahnya bila ia bisa sempat singgah di sanubari, memberikan pengaruh di hati dan membawa ke arah yang lebih terpuji.

Desember 2009

Menanti Antrian, Menunggu Giliran; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Menanti Antrian, Menunggu Giliran
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Sungguh sangat banyak pelajarannya. Namun diantara sekian pelajaran dari kepergian almarhum Aba saya, yang paling berharga adalah bahwa ternyata kematian begitu dekat; bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati, tinggal menunggu kapan, dimana dan bagaimana akhir kehidupannya; bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara dalam perjalanan panjang ke kampung selanjutnya.

Aba yang berpuluh tahun berada di tengah-tengah kami kini telah lebih dulu melanjutkan perjalanan itu. Sebelum tahun 1957 ia memang tidak tercatat sebagai penduduk bumi, kemudian menjadi ada tanggal 8 Februari, lalu kembali status kependudukan itu berakhir dan resmilah ia menjadi penghuni alam barzakh tanggal pertengahan Februari 2010. Hal-hal yang membuktikan keberadaannya dulu sebagai warga dunia adalah peninggalannya, kesan-kesannya, perjuangannya dan kisah peri kehidupannya yang terekam baik dalam memori. Dirinya memang tak mampu lagi berkata. Sebagai gantinya adalah apa yang ia tinggalkan untuk kami semua.

Pada akhirnya sejarah pasti akan mencatat setiap peristiwa; tertulis maupun tidak. Setiap orang yang melihat akan memberi persaksian kepada generasi selanjutnya tentang apa ia saksikan pada zamannya; peristiwa, tokoh, kepahlawanan, keadilan, kecerdasan, kebodohan, keberanian, kepengecutan dan sebagainya. Catatan sejarah anak manusia tidak akan pernah sepi dari berbagai kejadian dan kumpulan cerita kehidupan.

Hingga kini, tercatat beberapa nama yang menjadi simbol dari sebuah karakter. Misalnya, dalam kepemimpinan, Nabi Muhammad; dalam keadilan, Umar bin Khatab; dalam kelembutan ada Ahnaf; dalam keberanian dikenal nama Antarah; dalam kecerdasan, Iyas bin Muawiyah; atau dalam hikmah dan kebijaksanaan, Luqman.

Di saat hidupnya, mungkin mereka tidak pernah mengira akan dijadikan simbol sebuah sifat tertentu. Mereka menjalani hidup sesuai alur pikiran masing-masing. Sejarahlah yang mengabadikan namanya.

Kita semua pasti akan menjadi bagian sejarah di masa depan itu. Saat generasi telah berganti; saat jatah hidup dimakan usia, saat umur berlalu mengiringi waktu, saat jarak terpaut begitu jauh dengan masa kehidupan kita saat ini. Saat itulah generasi baru akan bercerita tentang kakeknya, pamannya, bapaknya, atau seseorang (yang mungkin itu kita) yang pernah diceritakan orang kepadanya.

”Dan begitulah masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS Ali Imran [3]: 140).

Adalah hal yang tidak mungkin mengubah catatan sejarah yang telah tertulis dan diabadikan oleh zaman. Yang bisa dilakukan adalah merancang sejarah diri sebaiknya-baiknya. Apa yang kita inginkan menjadi citra diri masa mendatang bisa dituliskan sejak saat ini.

Benar kata sebuah nasihat bijak: Ukirlah kenangan, lukislah sejarah, dan jalanilah hidup dengan cara terbaik. Bagaimana engkau menjalani hidup, begitu pulalah kesan orang-orang di saat kematianmu.

Tidak, kawan.
Kematian itu tidak hanya milik orang lain. Suatu waktu dia pun akan menyapa kita.

Maka untuk apa memelihara segala kebencian itu, merawat semua dendam itu. Belum tiba saatnya kah kita meredam segala permusuhan dan persengketaan? Belum saatnyakah kita menjernihkan pribadi, berbicara dengan diri sendiri, mempersiapkan sesuatu untuk masa pensiun total dari kehidupan, yang mungkin tidak lama lagi? Belum tiba saatnyakah sejenak merenungi perjalanan kehidupan yang panjang, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih panjang lagi?

Detik inilah saat berharga itu. Sejenak merenungkan tentang diri dan segala pertanggungjawabannya nanti..

Astaghfirullahal azhiim….

Titip Rindu Buat Aba; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Titip Rindu Buat Aba
(Oleh: Luqmanul Hakim , dimuat dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Jika sakit panjang itu masih memberinya kesempatan sembuh di akhir, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin garis hidup itu hanya akan berjalan lurus saja. Tanpa perbedaan, tanpa variasi, tanpa kenangan. Dan cerita tentang dirinya hanya akan ada satu warna.

Tapi lebih tiga tahun di pembaringan adalah takdirnya. Dan takdir itu adalah tikungan sejarah yang lain, untuk sebuah kenangan yang lain. Infeksi di paru-paru, maag, diabetes dan banyak penyakit yang menyerangnya bersamaan telah merubah garis hidupnya. Seorang kekar, aktif dan pekerja-keras itu tiba-tiba terbaring lemah di pojok kamar pribadinya, tak berdaya.

Tapi Allah hendak menguji untuk memberinya prestasi yang lain. Prestasi yang mungkin takkan pernah direngkuhnya dengan tubuh segar bugar; prestasi dunia, tapi lebih dari itu prestasi di hadapan Tuhannya. Dari pembaringan itulah ia membentuk kedewasaan putra-putrinya lebih cepat dari lazimnya. Dari kamar kecil itu ia selesaikan puluhan bacaan dan sempurnakan wawasannya. Dari sana ia catatkan banyak kenangan dan teladan untuk orang-orang terdekatnya.

Ia buktikan pada Allah, pada dirinya sendiri, pada keluarga dan masyarakatnya, bahwa ia adalah seorang pejuang yang tabah. Tidak hanya dalam kata, tapi juga dalam sikap. Ia tak pernah mengeluhkan sakitnya. Ia bahkan selalu berucap syukur dan mengajak orang-orang terdekatnya bersyukur. Sebab menurutnya, sakit itu tak sebanding dengan berlimpahnya nikmat Allah yang telah ia terima sebelumnya. Sebab baginya, sakit itu pertanda Allah menyayangi dan hendak membersihkannya dari dosa-dosa. Sebab mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan mengeluh, selain pada Yang Maha Kuasa, bukanlah tabiat seorang pejuang agama.

Itulah alasan mengapa sakit fisik itu tak merusak hati dan mengalahkan semangat besarnya. Itulah sebab letih penanggungan itu tak sedikitpun ciptakan mendung di pelupuk matanya. Itulah asal kekuatan rohani di tengah lemah jasmaninya. Sakit, tapi ia tak menyerah. Perih, tapi ia yakin akan pahala yang menanti. Dan setiap hari yang baru, baginya selalu membawa sejuta harapan.

Baik ketika tiga tahun dirawat di kediamannya, maupun ketika lebih sebulan terbaring di Rumah Sakit Aloei Saboe Gorontalo, ketegaran yang ia tunjukkan tetap sama. Tak henti-hentinya kerabat dan masyarakat datang mengunjungi, dan tak berhenti ia tebar senyum tulusnya. Senyum khas yang takkan hilang dari ingatan. Bahkan ketika sedang menahan perih tiada tara sekalipun, ia masih tetap tersenyum. Senyum ketegaran. Senyum keikhlasan.

Segala usaha penyembuhan manusiawi telah dilakukan. Para dokter dan obat-obatan silih berganti menemani hari-harinya. Darah, peluh dan airmata menyatu, ikut mengantarkan tulusnya doa-doa. Namun Allah ternyata lebih menyayangi hamba-Nya. Allah hendak menjamunya dengan pelayanan terbaik di sisi-Nya. Allah ingin mengganti derita dunia itu dengan kebahagiaan sejati.

14 Februari 2010 adalah hari akhir penantian. Dan kini, namanya abadi dalam kenangan. Ia telah bergabung menjadi bagian panjang sejarah. Ia telah ajarkan bagaimana sikap terbaik di kala mendapatkan anugerah dan di saat tertimpa musibah. Ia telah tunjukkan ketegaran dan ketabahan. Ia wariskan pengabdian dan keikhlasan. Ia tak hanya sekedar ayah yang penyayang, tapi juga guru yang bijak. Yang senantiasa memberi keteladanan hingga akhir hayat. Ia adalah anugerah terbaik dari Allah untuk dunianya. Maka nyanyikan untuknya baris-baris lagu Titip Rindu buat Ayah. Biarkan semua orang merakit kembali kenangan indah bersamanya.


Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia.

Kairo, 24 Maret 2010