Beranda

Monday, October 22, 2012

Aku, di Idul Fitri Ketujuh

(Catatan harian seorang Abnaul Khairaat di Univ. Al Azhar Kairo)




"Engkau mau kakak bercerita tentang apa, dek?"

Wajah-wajah baru penuh semangat itu kini berada di hadapanku. Mereka adalah adik-adik sealmamater di HIKMAT (Himpunan Keluarga Mahasiswa Alkhairaat). Ada sesuatu yang lain saat berhadapan dengan mereka. Wajah mereka masih penuh keluguan, sorot mata mereka masih penuh ketulusan, tawa mereka lepas tanpa beban, semangat mereka masih seratus watt, pandangan mereka menyimpan kekaguman dan pengharapan yang besar ketika melihat dunia baru yang terpampang di depan mata. Semua itu tampak dalam diam dan gerak mereka. Adik-adik yang juga kelihatan masih lugu, lucu dan culun ini kelak yang akan turun memberi warna di dunia masisir paling tidak di dua tahun ke depan dan menjadi titik kebanggaan bagi warga kampung mereka ketika pulang.

Sebab aku tahu benar adik-adik ini bukanlah berasal dari kelurga metropolitan. Mereka adalah utusan masyarakat mikropedesaan yang datang dengan sebuah harapan menjunjung Singgalang dan menggalang Sijunjung, mewakili anak-anak laut yang berada di pesisir, atas nama asa yang kuat dan keinginan yang menggelora. Tak usah engkau ajak dulu mereka untuk berpikir yang rumit-rumit, bercerita tentang globalisasi, westernisasi, humanisme, student goverment sistem atau lainnya. Tidak perlu engkau bawa mereka kepada khilafat fiqhiyyah atau kerumitan ilmu kalam, filsafat, dan ushul fqh, atau engkau ajak bicara tentang gempa tektonik, pergerakan lempengan bumi, tata cara pengukuran gempa dan lainnya yang sulit-sulit (yang aku pun gak paham).

Cukup engkau ajak mereka bicara, engkau ajari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, engkau ajari dia ungkapan Bahasa Arab sehari-hari, engkau beritahu dia bagaimana membaca Al-Quran yang baik, engkau ajak dia ke mesjid, atau engkau bagi sebagian cerita hidupmu kepada mereka. Mereka itu adalah Alwin, Rauf, Yahya, Oji, Juandi, Muslim, Samsir, Sudirman, Ijtihad, Hajija, Aisyah dan Jannah.

Engkau tahu kawan, mereka memanggilku kakak. Itu sebuah kebahagiaan bagiku. Namun dari itu aku menjadi lebih bahagia karena disini aku punya banyak adik yang cerdas; aku bisa mendengar kisah-kisah mereka, menemukan semangat baru, ilmu baru, pengalaman baru dan hal-hal lainnya. Mereka juga masih sangat penurut, semangat diajak kepada hal-hal yang berifat keilmuan dan gembira luar biasa ketika dibawa bertualang dan menemukan hal yang baru. Mereka juga masih senang mendengar cerita, berbagi pengalaman, dan bertukar kehidupan masa silam. Seperti dulu aku juga senang ketika diajak bercerita oleh Amu Basri dan Amu Husni ketika masih tinggal di Zahra. Kalau engkau ingin melihat semangat dan ketulusan itu, atau sekedar ingin dipanggil kakak oleh mereka, datanglah kesini. Engkau bisa jumpai mereka di kawasan Thub Ramli.

Dan kali ini, mereka ingin aku kembali bercerita. Maukah engkau menemaniku, kawan? Paling tidak dirimu memberi masukan di sela-sela ceritaku ini. Kuingin bercerita sepotong kisah dari serial kembara yang masih terus berkelana ini. Mungkin kisah hidupku ini biasa-biasa saja dan kurang istimewa, tapi kuharap adik-adikku itu bisa bahagia dan terhibur ketika mendengarkannya. Dengan kehadiranmu ini, mungkin engkau bisa mengingatkanku dan mengembangkan kisah ini sehingga menjadi lebih berarti.

Ketika aku bertanya seperti tadi kepada mereka, jawabannya sudah bisa kuduga.. “Apa aja deh, kak”. Dan jawabanku juga sudah bisa mereka duga “Meeeesyi….”

*****

Aku ingin mengawali cerita ini tentang pengalaman meniti kuliah di Universitas Al-Azhar.

Siang hari empat belas Desember 2003, itulah pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi para nabi. Alhamdulillah aku melewati studi di tahun pertama ini dengan nilai Jayyid dan bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Fakultas Syariah Islamiyah adalah pilihanku. Pilihan ini didorong oleh keinginanku mendalami Hukum Islam dan berkenalan dengan dosen-dosenku di kuliah. Aku ingin mengetahui makna, sebab dan hikmah dibalik ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Alhamdulillah aku bisa najah dan melewati setiap tingkat tanpa membawah hutang maddah ke tingkat selanjutnya, walaupun dengan nilai pas-pasan, hingga akhirnya lulus di tahun 2007. Melihat wajah adik-adikku ini, aku jadi merasa ingin kembali lagi ke masa silam agar bisa kembali belajar lebih giat. Aku tahu itu tidak mungkin. Yang mungkin aku lakukan adalah mengambil pelajaran dan berpacu dengan waktu memanimalisir banyak kekurangan yang ada.

Aku merasakan saat mengikuti muhadharah di kuliang adalah waktu yang menyenangkan. Para dosen yang semuanya telah mencapai predikat akademis tertinggi itu mencurahkan sederas-derasnya ilmu yang beliau miliki berkaitan dengan maddah yang sedang dipelajari. Sebaiknya sebelum datang ke kuliah, muqarrar sudah engkau baca lebih dulu di rumah walaupun hanya sekilas, supaya cepat nyambungnya saat muhadharah. Ketika sudah nyambung, maka kuliah yang diberikan oleh doktor tersebut terasa menjadi lebih menarik, walaupun beliau menggunakan bahasa ammiyah. Ilmu-ilmu yang disampaikan menjadi terserap lebih banyak. Setiap kali muhadharah, ruangan kuliah selalu saja membludak oleh murid-murid dari berbagai negara, terutama ketika mendekati ujian. Seringkali ada yang harus menyimak muhadharah itu sambil berdiri.

Dosen-dosenku yang mengisi muhadharah itu adalah manusia-manusia luar biasa. Beliau-beliau adalah orang-orang yang dalam ilmunya dan sangat bersahaja. Ketika menyampaikan materi kuliahnya, engkau akan melihat mutiara ilmu dan hikmah itu tak pernah berhenti mengalir dari mulutnya, sambung-menyambung membentuk sebuah ikatan ilmu pengetahuan yang utuh. Bahkan banyak dosen yang buta, namun hapalan mereka sungguh luar biasa. Nyaris sama persis dengan apa yang ada di buku. Para dosen itu kebanyakan adalah guru-guru besar senior dan sudah berpengalaman mengajar di universitas di berbagai negara. Selain mengajar di kuliah, mereka biasanya memiliki majlis pengajian di mesjid yang ada.

Sungguh aku tak bisa melupakan Syekh Ahmad Mahmud Karimah (Fiqh Muqarin), Syekh Thaha Rayyan (Fiqh Muqarin), Dr. Abdussalam (dosen Ushul Fiqh), Dr. Abdul Fattah Syekh (dosen Ushul Fiqh), Dr. Umar Hasyim (dosen Mushtalahul Hadits) dan guru-guruku yang lain. Namun jangan kaget kawan, kalau orang yang menuggu bis menuju Hay ‘Asyir di sampingmu adalah doktor yang tadi mengajar di kelas. Atau orang tua berjas rapi yang di bis tadi engkau biarkan berdiri, ternyata beliau yang memberikan muhadharah. Aku sendiri pernah menanti bis bersama dosen mata kuliah Qadhaya Mu’ashirah dan berkali-kali menunggu bis bersama dosesn Ushul Fiqh Hanafi menuju bawwabah dua-Nasr City.

Saat ikut muhadharah memang enak. Yang tidak begitu enak ialah saat datang dan pergi. Di pagi hari harus berjuang melawan serangan kantuk dan hawa dingin yang menerpa. Menunggu bis lumayan lama, kecuali disiplin mengikuti waktu lewatnya bis ke kuliah. Bisnya tidak banyak. Di bis, sering tidak mendapatkan tempat duduk, suasananya pun sempit dan berdesak-desakan. Padahal jarak antara tempat tinggal (bagi yang di Nasr City) lumayan jauh, sekitar 45 menit sampai satu jam. Kalau masih pagi enak. Masih ada sisa sisa aroma wangi parfum yang bercampur baur baunya. Lain rasanya kembali kembali dari kuliah jam 2 siang. Kondisinya sama seperti tadi, tumpah ruah dalam bis yang sempit. Namun ada aura lain yang berbeda, baik yang bisa diindera oleh mata dan telinga, atau hanya bisa dirasakan oleh ketajaman indera penciuman.

Inilah salah satu alasannya kenapa banyak kawan-kawan yang lebih memilih di rumah dan tidak ke kuliah. Ada yang masih menitipkan rekaman untuk nanti didengarkannya di rumah atau meminta salinan dan informasi materi kuliah kepada kawannya, namun ada juga yang sibuk dengan organisasi dan pekerjaannya; melupakan kuliahnya, untuk diingat kembali ketika waktu ujian telah menjelang. Maka menjadi mahasiswa yang komitmen untuk selalu hadir menjadi sebuah prestasi tersendiri. Sebab itu membutuhkan kesabaran, ketahanan, manajemen diri dan pengatura waktu hidup yang baik. Tapi engkau tidak perlu risau, kawan. Orang-orang yang komitmen dan sabar seperti itu masih banyak disini. Bahkan masih terlalu banyak. Kuharap engkau adalah salah satu dari mereka.

Dengan senantiasa hadir di kuliah, engkau akan bisa berkenalan dengan ragam dan corak mahasiswa yang berbeda-beda, sesuai dengan negara masing-masing. Ada mahasiswa dari negara-negara teluk yang perawakannya putih, tinggi, dengan jenggot dan cambang yang menghiasai pipinya. Ada dari negara-negara Afrika persemakmuran Prancis yang kebanyakan berkulit hitam, dengan rambut keriting tipis di kepalanya dan kadang-kadang botak. Ada yang dari Asia Timur dengan mata sipit dan perawakan pendeknya. Ada dari negara-negara pecahan Uni Sovyet dengan mata biru, perawakan tinggi dan kulit putihnya. Mahasiswa Asia Selatan juga ada dengan kulit hitam dan jenggota lebat mereka, memakai peci dan pakaian khas seperti Jama’ah Tabligh. Tak ketinggalan dari Asia Tenggara yang kecil-kecil (dibandingkan dengan perawakan teman-teman Arab dan Eropa), ramah-ramah, suka tersenyum kepada siapa saja, selalu membawa tas kemana-mana dan kadang-kadang ada yang datang ke kuliah dengan baju koko dan peci putihnya, dengan baju batik dan celana hitamnya, atau dengan celana jeans, kaos oblong dan sandal jepitnya. Sungguh amat banyak macam dan bentuknya.

*****

Namun jujur, kawan. Sesungguhnya aku merasa gagal dalam pendidikan ini. Ah, tak perlu aku menyalahkan waktu. Enam tahun yang lalu, pengharapan yang kuat begitu memenuhi dada. Segala obsesi tertancap untuk selalu menjadi yang terbaik. Segala sesuatu ingin diraih untuk memaksimalkan potensi. Barangkali aku termasuk orang yang beruntung namun tak pandai bersyukur. Beragam kenikmatan terbuka lebar di depan mata untuk menebar benih amal tersiakan begitu saja. Aku merasa tidak bisa memanfaatkan kesempatan belajar dan menguasai aneka ilmu yang sangat kaya di Mesir ini. Pelajaran di kuliah saja tidak aku kuasai dengan baik dan seksama. Kebiasaan melalaikan muqarrar dan jarang kuliah terus terlestarikan dari awal tahun hingga ke penghujung. Maka input pengetahuan tentang materi dan perkuliahan sangatlah minim, pengenalan kepada guru-guruku di kuliah pun sangat sedikit. Mengikut talaqqi dan pelajaran tambahan di pun jarang, walaupun tidak sampai tidak sama sekali.

Kuharap adik-adikku tidak jadi seperti itu. Mereka mesti rajin dan bersemangat untuk mewujudkan semua pengharapan mereka yang sudah kuat tertancap. Bagiku, semua ini sama sekali bukan untuk kusesali, tetapi perlu kuingat selalu agar di hati tumbuh kesadaran bahwa diri ini sudah sangat terlambat dan tertinggal. Aku harus berusaha untuk mengejar keterlambatan dan ketertinggalan ini. Aku ingin katakan pada jiwa bahwa dia harus berpacu terus dan terus. Kukatakan padanya selalu dan selalu: bahwa pemberhentian itu bukan di sini. Bahwa istirahat itu tidak di sini. Tapi di sana, di puncak obsesi kemuliaan kita.

Kalaupun najah, aku merasa semua kenajahan ini lebih berkat doa-doa kawan-kawan dan orang-orang yang berada di dekat aku, terutama Umi dan Aba. Kedua orang tercinta itu tak henti-hentinya memberi semangat dalam perjuangan menempuh pendidikan dan memanjatkan selaksa doa di keheningan malam. Begitu selalu setiap waktu. Dan aku pun sangat berharap kepada doa-doa itu. Sebab bila hanya mengandalkan usaha dan kecerdasan, aku tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Masih terlalu banyak kekurangan, keaalpaan dan kelalaianku. Juga betapa banyak orang yang cerdas namun jalan studinya tak sebanding dengan keenceran otaknya. Maka selalu yang kupinta kepada orang tuaku, guru-guruku dan kawan-kawan adalah: tolong doakan aku. Siapa tahu diantara diantara sekian pinta itu ada mustika doa yang mampu mengetuk pintu langit dan menarik perhatian Allah untuk mengabulkannya.

Aku juga berharap dari doa-doa malaikat. Caranya adalah dengan mendoakan orang lain, dan pada saat itu malaikat akan menjawab "wa laka bimitslihi". Seperti Bang Hikmatullah, setiap mau ujian dia selalu mendoakan kenajahan untuk semua kawan yang ia kenal. Semuanya. Dan barangkali itu juga yang menjadi salah satu rahasia kenajahan beliau di Al-Azhar dengan hasil yang memuaskan setiap tahun. Sekarang abang ini sedang menulis tesis di Fakultas Bahasa Arab. Tak pernah ia kenal rasib sepanjang sejarah pendidikannya.

Di tahun kedua kuliah, tahun 2004, alhamdulillah aku berkesempatan untuk melaksanakan umrah di Bulan Ramadhan 1425 H. Riuh rendah keharuan begitu memuncak di dada saat menginjakkan kaki di tanah suci. Menara Mesjidil Haram kelihatan demikian megah dan perkasa. Bersinar menebarkan kegemilangan. Suara Syekh Sudais dan Syuraim begitu merdunya, menggetarkan dinding hati yang dalam. Demi Allah, hari-hari iktikaf di Mesjidil Haram saat Ramadhan adalah saat terindah dalam hidupku yang suka aku kenangkan dan selalu kurindukan. Demikian juga saat di Raudhah, dekat makam junjungan Rasulullah, di Mesjid Nabawi di Madinah. Barangkali diantara sekian kawan yang umrah pada saat itu, ada dua orang kawan yang tak kan pernah kulupa. Mereka berdua itu adalah M. Hidayatulloh dari Malang, Jawa Timur dan M. Izzul Islam asal Gorontalo, yang saat ini hampir selesai studinya di Universitas Islam Madinah. Aku juga tak kan pernah melupakan jasa Ust. Sudarman Larama yang mau menampung kami bertiga di rumah beliau di Madinah. Bukan hanya memberi tempat tidur yang empuk, tapi juga memberikan kami makanan yang enak, menemani kami bercerita dan mengajak kami jalan-jalan ke tempat bersejarah bersama para tamu dari Indonesia. Ust. Sudarman ini berasal dari Sulawesi Tengah dan istrinya berasal dari Gorontalo. Kedua beliau ini adalah kawan Aba dan Umiku saat di Aliyah dulu.

Di tahun berikutnya, tahun 2005, alhamdulillah aku kembali bisa mengunjungi tanah suci Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji, musim haji 1426H. Untuk melaksanakan haji ini aku harus nekat. Sebab saat itu masih ujian termin kedua tingkat ketiga. Transportasi laut sudah tidak ada lagi. Penerbangan ke Saudi mau ditutup. Aku minta berangkat setelah ujian rampung semuanya. Namun tidak ada lagi sit kosong. Aku harus mengambil keputusan berani, harus meninggalkan dua mata ujian. Inilah pilihan hidup yang mesti aku putuskan. Artinya, kalau dalam maddah sebelumnya ada satu saja yang tidak najah, maka rasiblah aku dan tinggal kelas di tingkat tiga. Dan aku pun terbang tanggal 2 Januari 2004 dengan armada udara Mesir menuju bandara Jeddah, meniggalkan kawan-kawan yang sedang ujian. Labbaikallahumma labbaik..labbaika la syarika laka labbaik...

Sebenarnya selain menemui Allah di rumah-Nya, ada agenda besar lainnya yang ingin aku laksanakan. Agenda itu adalah menemui Umiku yang haji tahun itu juga. Maka alangkah suka citanya hatiku saat itu. Sejak di bandara mathar qadim, tak tahan aku menahan luapan bahagia. Aku suka senyum-senyum sendiri bila membayangkan pelaksanaan ibadah haji nanti dan saat-saat bertemu dengan Umiku yang sudah aku tinggalkan sejak tiga tahun yang lalu. Apakah beliau masih secantik dulu? :-). Dan dua saat indah itu pula, tibalah. Layar bahagia terkembang di langit Mekah. Tak terasa lagi teriknya matahari yang menyengat saat Umi memelukku dengan tiba-tiba di depan Bab As-Salam, salah satu pintu di Mesjidil Haram, seusai shalat dhuhur. Itu terjadi beberapa hari setelah selesai melaksanakan thawaf qudum. Aku menjalani haji ini dengan berusaha memaksimalkan ibadah kepada Allah dan menyempurnakan bakti kepada Umiku. Besar harapan hati, mudah-mudahan Allah berkenan menerima.

Itulah salah satu pernik yang pernah kualami dalam masa pendidikan di negeri para nabi ini.

*****

Terkait dengan organisasi, aku suka bercabang kemana-mana. Sebab aku ingin banyak ilmu, banyak pengalaman dan banyak kawan. Aku ingat pesan Aba: “Nak, perbanyak kawan dimana pun engkau berada. Sebab semakin banyak kawan, hidup akan semakin mudah.” Abaku juga pernah bilang: “Organisasi itu membuat orang siap pakai." Seorang yang biasa berorganisasi akan segera tau apa yang harus dia lakukan ketika berada di tengah masyarakat. Selain itu, karena abang-abang dan kawan-kawan yang berada di sekitarku adalah para aktifis organasasi. Hebatnya lagi, di semua organisasi itu mereka menjadi petinggi dan penentu keputusan. Kalau bukan ketua, jadi wakil atau sekretaris. Atau jadi di divisi kajian, pimred dan kaderisasi. Sebutlah diantara mereka adalah Bang Nidlol dan Bang Abu Dzar.

Aku jadi termotivasi. Aku sempat aktif di Forum Diskusi kekeluargaan KKS, di almamater HIKMAT, di organisasi angkatan Revival El-Mahbub, di Forum Telaah Literatur (FTL) ICMI, di Badan Waqaf dan Amal Kesejahteraan Mahasiswa (BWAKM), di kajian spiritual ABDIKA, di Majelis Ilmu Kalam (MASIKA) ICMI, Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK), dan Studi Informasi Alam Islami (SINAI). Aku juga aktif menjadi redaksi di beberapa buletin yang ada, ditambah jadi anggota di beberapa kepanitiaan kegiatan mahasiswa. Capek juga aktif di organisasi-organisasi itu. Tapi bahagia. Sebab bukan hanya capek yang didapatkan, ada ilmu, pengalaman, wawasan, kawan, kenalan dan banyak manfaat lainnya. Hingga saat ini ada tiga yang paling aktif yaitu di SINAI, ICMI dan PMIK.

Di Kampus Kehidupan; Sinai

Diantara sekian organisasi itu, aku harus mengakui bahwa Sinai telah memberikan banyak hal yang berarti bagiku. Engkau kenal Sinai, kawan? Studi Informasi Alam Islami, atau disingkat Sinai adalah sebuah lembaga kajian yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia di Mesir di hari pahlawan tahun 1994. Kepedulian terhadap kemanusiaan yang membuat organisasi ini lahir dan merentas dunia luas. Analisa Informasi, itulah misi yang merekat anggota Sinai dalam bergerak dan berdinamika. Aktualitas dan objektivitas senantiasa mereka usung dalam setiap karya. Bagi mereka, menguak fakta sejarah yang tersembunyi, mengolah peristiwa menjadi berita, dan menganalisa data menjadi warta adalah kewajiban setiap muslim. Mereka senantiasa menggores pena lantangkan kebenaran suarakan informasi umat islam. Ada secercah harapan, semoga goresan pena itu dapat menerbitkan asa dan menghapuskan air mata, melahirkan suka dan membabat duka di tubuh umat ini, sambil terus menanti fajar-Nya lahir kembali dan tersenyum melihat kebangkitan umat Islam.

Di sini menjadi pusat studi dan kajian strategis negara-negara di dunia untuk kalangan Masisir. Paling tidak ada lima macam kajian yang ada di sana yaitu kajian sejarah Islam, studi kawasan, kajian politik, kajian informasi dan kajian pemikiran Islam. Kegiatannya banyak, antara lain: diskusi pekanan dunia Islam, aksi solidaritas alam islami, penerbitan majalah, buletin dan buku, kontribusi analisa Dunia Islam di media nasional di tanah air dan up date pemberitaan dan tulisan di website. Aku sudah jatuh cinta sejak mengenalnya pertama kali tahun 2004.

Namun dibanding profil organisasinya, aku lebih tertarik lagi kepada orang-orang yang menggerakannya; para kader, kru dan pengurusnya. Di sini aku bertemu banyak orang hebat, paling tidak menurutku. Tapi aku kira penilaian itu tidak salah, sebab mereka berprestasi di bidang akademik, banyak memberi kontribusi penulisan di media mahasiswa dan juga nasional, juga banyak berkiprah dalam lapisan ozon aktifitas mahasiswa. Di awal-awal keberadaanku di Sinai, aku senang datang ke markasnya. Selalu saja ada yang berbeda sebelum dan sesudah dari Sinai. Ada yang berbeda ketika datang dan pulang ke rumah, baik dari segi ilmu, wawasan, ataupun semangat.

Apalagi ketika rapat dan kajian. Orang-orang keren di luar yang suka jadi pembicara utama di forum-forum, penulis favorit di media mahasiswa dan ketua di organisasi yang ada, kini berkumpul di satu majlis, bercerita, bercanda, dan tertawa bebas dan lepas. Di sini semua sama. Mau membanggakan apa? Di sini semua ketua, di sini semua penulis terbaik, di sini semua aktifis dan paling penting semua adalah orang terpelajar. Nyaman rasanya berada di dekat abang-abangku di Sinai itu. Kawan-kawan yang ada juga adalah sahabat yang membanggakan. Aku merasa kecil sendiri diantara mereka, disamping memang aku yang terkecil usianya dalam angkatanku.

Semoga engkau tidak menganggapku ta'ashub kawan. Aku hanya ingin bercerita apa adanya dan mengungkapkan apa yang aku rasakan.

Aku banyak sekali bercermin kepada kawan-kawanku di Sinai ini. Dari kepribadian dan akhlak mereka aku menjadi tau bahwa ternyata banyak kekhilafan dalam diri ini yang sudah menjadi kebiasaan. Abang-abangku di Sinai mempunyai Izzah yang begitu tinggi. Sekedar melihat mereka saja, ada sebuah makna lain yang menjalar ke dalam jiwa. Sebutlah diantara mereka itu adalah Bang Tono, Bang Iswan, Bang Salman, Bang Hikmat, Bang Adin, Bang Aji, Bang Abu Zar, Bang Nidlol dan Bang Irsyad Azizi.

Di awal masuk, banyak pengharapan yang aku tumpukan ke Sinai. Maka kekecewaan kadang muncul karena ternyata banyak harapan yang tidak terkabul. Tapi terus terang, aku mendapatkan lebih banyak dari daripada yang tidak kudapatkan. Aku baru sadar, bahwa Sinai bukanlah tempat untuk mengharap terlalu banyak, namun di sini adalah tempat berkarya dan mempersembahkan amal kepada umat. Yang paling penting adalah kebahagiaan. Sungguh bila engkau merasakan bagaimana besarnya kebahagiaan yang kurasakan ketika berada di tengah kawan-kawan Sinai, engkau akan membelinya dengan harga mahal.

Maka segala tugas, semua tanggungjawab, semua amanah tidak lagi menjadi sebuah beban yang harus ditunaikan, tapi menjadi fase-fase untuk melangkah kepada kebahagiaan selanjutnya. Seperti kata Edison, seorang penemu produktif, ketika ia ditanya, “Apakah anda tidak merasa lelah melakukan percobaan rumit ini berkali-kali?”. “Apakah Anda menyangka aku ini sedang bekerja?” tanya Edison. “Tidak! Aku bahkan sedang melakukan kenikmatan demi kenikmatan” tegasnya.

Di Sinai pun begitu. Tak ada susah dan lelah. Suasana rapat para aktifis itu menjadi saat berkumpul yang indah. Rapatnya serius, namun dipenuhi dengan canda dan tawa. Hasilnya pun memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan. Gojlok-gojlokan, saling iseng disusul oleh tawa lepas kayak anak-anak menjadi pelekat hubungan menjadi semakin akrab. Di sini abang-abangku yang keren itu diperlakukan dengan apa adanya. Tapi ada saatnya pula mereka menitikkan air mata. Mereka bukan orang yang suka lupa diri. Mereka pandai menempatkan diri dimana mereka berada. Engkau bisa melihat wajah mereka merah dengan mendung menggantung di peluk mata dalam sebuah suasana hening, saat mereka bermuhasabah diri atau di tengah pekatnya malam, usai melaksanakan shalat tahajjud.

Itu tentang abang-abangku. Kawan-kawan seangkatanku juga tidak kalah membanggakan. Mungkin engkau mengenal mereka, sebab mereka adalah orang yang aktif dalam kegiataan mahasiswa. Mereka adalah Ardiansyah, Hendri Susanto, M. Syarief, Khairul Ashdiq, Jamaludin Junaid, Budi Indrawan, Kukuh Sulisman dan Ali Bata. Diantara mereka banyak juga yang sudah balik ke Indonesia. Demikian pula dengan adik-adik angkatanku setelah itu. Ah, nikmatnya dikelilingi kawan yang baik dan shaleh. Aku bisa menambah wawasan nusantara dengan berkenalan dan bergaul dengan kawan-kawan dari segenap penjuru negeri di Indonesia. Kami bisa bertukar budaya dan bahasa, mengenal karakter dan kebiasaan juga bertukar resep makanan, walaupun bumbu dan bahannya itu-itu saja.

Manusia Langka dan Lelaki Akhirat
Selama di Mesir, aku sudah melewati generasi tiga direktur. Setiap kawanku di Sinai mempunyai corak karakter berbeda dan istimewa. Banyak yang serba bisa, tapi tetap saja ada yang menonjol darinya, yang menjadi ciri khasnya. Mereka senantiasa membagikan pengetahuan, rasa persahabatan dan juga ketulusan. Ingin aku bercerita kepadamu, kawan, tentang mereka satu persatu seperti yang kukenal. Hanya saja itu memakan waktu yang terlalu lama. Waktumu bisa habis di sini, dan waktuku juga. Daripada tidak sama sekali, baiklah aku ceritakan kepadamu tentang dua kawan terbaik yang pernah kutemui. Mereka adalah manusia langka dan lelaki akhirat. Tak perlu kusebut nama mereka ya, sebab mereka juga tidak ingin dibangga-banggakan seperti ini. Kedua mereka berasal dari Jawa Timur.

Mereka berdua adalah guruku. Mereka sudah menjalankan fungsi lebih dari teman. Makanya aku agak canggung menganggap mereka 'sekedar' sebagai teman, kawan atau pun sahabat walaupun usia mereka tidak terpaut jauh dariku. Hanya dua tahun. Tapi mereka sungguh lebih dewasa dari usia sebenarnya (cuma belum nikah saja). Aku banyak belajar dari keseharian mereka yang bersahaja, penuh produktifitas, gesit, lincah, cekatan, profesional, dan bersahabat.

Keinginan untuk berbagi dan memberi, dan kemauan untuk mendengarkan dan memberi solusi membuat mereka dicintai dan selalu dinanti. Manusia Langka dan Lelaki Akhirat benar benar telah memberiku banyak pelajaran kehidupan. Mereka mempunyai tempat istimewa di hatiku.

Lelaki Akhirat
Julukan ini bukan tidak beralasan. Barangkali ia mendapatkan sebutan ‘Lelaki Akhirat’ ini karena pribadinya yang ringan tangan dan senang membantu orang lain, kapan pun dimana pun. Selagi ia bisa ia akan senantiasa siap memberi bantuan. Istimewanya, ia tidak hanya sekedar bisa. Ia punya banyak keahlian, terutama dalam bidang perkomputeran. Dan ciri kerjanya sudah dikenal; prefesional (walaupun tak dibayar), tuntas dan memuaskan.

Darinya aku belajar kelembutan. Ia memang selalu bisa menjaga perasaan orang lain. Bicaranya lembut. Gerak geriknya juga. Ia terlihat selalu hati-hati dalam segala hal. Katanya itu adalah bagian dari nasihat ibunya.

Selain itu, tak pernah terlihat ada mendung di wajahnya. Selalu saja ia ceria dengan senyum khasnya. Ia punya banyak kawan. Ia selalu bisa menempatkan diri dan menjaga sikap serta ucapan. Semua kawannya itu merasa akrab dan sungkan kepada dirinya. Hal ini barangkali disebakan oleh sikapnya yang dewasa dalam menyikapi berbagai keadaan yang ada. Kepercayaan diri yang melekat begitu kuat membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja. Ia adalah tipe orang yang mau mendengarkan orang lain dan berusaha memberi solusi yang terbaik yang ia punya.

Ia selalu bersemangat dengan langkah pasti menyelesaikan segudang tugas dan amanah serta permohonan tolong yang diberikan kepadanya. Dalam banyak kesempatan, seringkali ia membatalkan kegiatan yang sudah ia rencanakan sebelumnya untuk memenuhi permintaan orang. Hidupnya untuk orang banyak. Entah kapan waktu khusus untuk dirinya sendiri.

Namun sepertinya dia mempunyai pilihan waktu yang lain. Kesempatan untuk bersenandung munajat di tengah malam dan khusyu berdoa dalam setiap shalat menjadi pilihan terbaiknya. Dalam dua waktu itu aku biasa melihatnya duduk khusyu bersimpuh penuh seluruh.

Begitulah kesehariannya sebagaimana yang aku lihat. Semoga kubisa mengambil manfaat lebih banyak lagi.

Manusia Langka
Si Manusia langka, begitu kawan lainnya menggelari beliau, memang mempunyai banyak kemampuan lebih dari yang lain. Orang sepertinya memang langka. Potensi-potensi umat yang berserakan bisa dikumpulkan dengan baik dalam dirinya.

Dalam hal kecerdasan, sebelumnya aku belum dapat memahami bagaimana sih orang yang jenius itu, sampai aku berkesempatan untuk bertemu dengannya. Kini aku paham, rupanya inilah gambaran nyata orang cerdas dan jenius itu. Dan hal ini diakui oleh teman teman lainnya. Saat baca buku ia seakan bisa langsung menguasai dengan baik dengan sekali baca. Ia pun seakan akan sudah membaca dan menguasai banyak buku dengan paripurna. Analisa, ocehan-ocehan ringan, ide dan masukannya yang brilian bahkan candanya menjadi bukti akan hal itu dan selalu menjadi bahan pertimbangan dan perenungan.

Dalam akitifitas organisasi, entah sudah berapa organisasi yang ia ikuti. Ia begitu akrab dengan berbagai aktivitas kajian yang ada di Mesir dan tentunya mempunyai banyak kawan yang ingin turut mendapatkan manfaat darinya. Tidak sekedar ikut, tapi menjadi orang terbaik di organisasi itu, baik dari keikutsertaan, keaktifan maupun kontribusi. Hampir di semua organisasi yang ia ikuti, ia menjadi ketua disana. Kalau bukan ketua, ya penasehat atau masuk dalam majlis pertimbangan.

Di bidang tulis menulis, juga tidak diragukan. Bahasanya lincah dan mengalir, tulisannya pun berbobot. Hanya saja sampai saat ini belum menghasilkan sebuah buku. Tulisannya masih banyak berserakan dimana mana. Kalau dikumpulkan, tentu bisa diambil manfaatnya lebih luas. Selain di buletin buletin Masisir, tulisannya banyak tersebar di milis Evolusi, Insisnet dan Interdisiplin. Itu yang aku ketahui. Yang tidak kuketahui mungkin lebih banyak lagi.

Di bidang komputer dan internet..? Dia serba bisa. Dia menguasai banyak sekali program aplikasi, terutama yang berkaitan dengan tulis menulis dan desain gambar. Dia sudah melanglang buana di internet. Saat acara PKS Expo dia mendapat anugerah sebagai tokoh masisir di dunia maya.

Namun lebih dari itu semua, yang paling aku teladani darinya ialah semangat keberislamannya yang tinggi. Ia punya konsep hidup yang jelas. Ia juga punya semangat belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Ia punya keinginan untuk selalu membagi dan berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain. Semangatnya tak pernah surut, keceriaan dalam dirinya selalu hadir, senyumnya selalu mengembang. Ia juga suka menyebar virus semangat ini dan selalu mendorong orang lain untuk mempersembahkan yang terbaik.

*****

Kawan, ternyata sudah banyak yang episode kehidupan yang telah aku lalui hingga Idul Fitri ke tujuh ini. Tidak terasa, ternyata aku sudah meninggalkan rumah terlalu lama. Sudah tujuh kali Idul Fitri, sejak 1424-1430 ini, aku tidak mencium tangan kedua orang tua dalam sebuah suasana syahdu. Dan baru di Idul Fitri yang ketujuh ini aku bisa bertemu dengan adik-adikku dari Ternate dan sekitarnya itu, yang suka memintaku bercerita dan mengisahkan perjalanan hidup.

Demikianlah hidup ini telah memberikan pelajaran yang berarti bagiku. Pengalaman-pengalaman yang ada membentuk gugusan gagasan dan menambah keindahan seni arsitektur kehidupan sehingga menjadi lebih bernilai. Aku masih belum puas. Ada banyak cita-cita yang masih ingin kuwujudkan dan harapan yang ingin kupenuhi. Semoga hari-hari ini bisa menjadi lebih baik dan bernilai ibadah di sisi Allah. Doakan aku ya.. Aku juga akan selalu mendoakanmu. Kullu sanah wa anta illahi aqrab.

Dari Catatan Harian Pejuang: Umarulfaruq Abubakar, 1430 H / 2009 M

0 comments:

Post a Comment