Beranda

Friday, May 4, 2012

Pondok Pesantren Al-Khairaat, Palu, Sulawesi Tengah


Tak banyak pondok pesantren memasukkan pelajaran kesenian dalam kurikulumnya. Pelajaran nasyid, samrah atau jepeng oleh pengurus Pondok Pesantren Al Khairat, Palu, Donggala, Sulawesi Tengah, dijadikan penyeimbang pelajaran agama dan umum. Tak heran alumninya menduduki beragam posisi penting dan menjadi da'i handal di kawasan Indonesia Timur.

Bila anda ingin menikmati keindahan jepeng --tarian ala Timur Tengah-- cukup datang ke Pesantren Al-Khairaat. Terutama di Bulan Syawal. Sebab, pada bulan itulah biasanya Al-Khairaat menggelar bulan kesenian. Ada lomba membaca syair, nasyid, juga jepeng. Anda tentu heran, ada juga pagelaran kesenian di pesantren? Maklum kesenian unik itu diajarkan sebagai pelajaran tambahan di pesantren ini. Al-Khairaat yang sangat populer di mata masyarakat Indonesia Timur, memang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Agama dan pengetahuan umum.

Kesenian dan olah raga pun mendapat perhatian setara di pesantren ini. Bahkan, kurikulum ilmu Agama yang diajarkan di sini lebih mengacu pada diniah (lembaga pendidikan) di Mesir, daripada merujuk kurikulum Departemen Agama (Depag). Misal, jika kurikulum Depag menyebut pelajaran Al-Quran dan hadits, Al-Khairaat memasukkan istilah itu menjadi Pelajaran Al-Quran, Tajwid dan Tafsir. Sementara hadits, dimasukan ke pelajaran Mustalahul Hadis.

Sedangkan pelajaran umum meliputi matematika, bahasa Inggris, fisika, biologi dan beberapa pelajaran lain sesuai ketentuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bagaimana dengan pelajaran kesenian? Pesantren yang memiliki 7.000 staf pengajar dan 1.400 unit pendidikan itu mengajarkan nasyid, syair, samrah, dan jepeng. Sementara di bidang olah raga, para santri tak hanya diajari karate dan pencak silat. Tapi, juga ilmu prana--olah nafas. Dengan dibekali beragam ilmu tersebut, tak mengherankan bila para santri memiliki kekuatan fisik, mental, dan spiritual serta olah rasa yang bagus.

Dan, berbekal ilmu-ilmu itu para santri senantiasa siap untuk ditugaskan melakukan siar Islam ke daerah-daerah terpencil di kawasan Indonesia Timur. Para santri tidak berani kembali sebelum tugasnya beres, atau sebelum ada perintah dari pusat. Dengan kesabaran dan kegigihan seperti itulah, Al-Khairaat yang kini memiliki sekitar 210 ribu santri dan mahasiswa, sukses membangun basis pengembangan di Sulawesi, Maluku, Papua, Halmahera, dan pulau Bunyu di Kalimantan Timur. Bahkan sekarang Al-Khairaat telah memiliki basis pengembangan di Condet, DKI Jakarta. Kesuksesan tersebut tak lepas dari suri tauladan pendiri Al-Khairaat, Sayyid Idrus bin Salim Aldjufrie seorang mufti dari hadramaut. Sosok yang biasa disapa Guru Tua itu mendirikan Al-Khairaat pada 30 Juni 1930.

Awal keberadaan PA sempat dilarang pemerintah Belanda karena ajaran Guru Tua, khususnya yang bersumber dari kitab Izhatun Nasyi`in, karya Musthafa Al-Ghalayani. Kitab itu dianggap berbahaya karena dapat membangkitkan semangat juang rakyat untuk melakukan perlawanan. Perlakuan seperti itu masih tetap diberlakukan oleh Pemerintah Jepang juga ketika itu.

Meskipun dilarang, Guru Tua tak pernah patah semangat. Ia terus bergerilya sambil mengajar. Dan selama berpindah-pindah tempat selama 15 tahun, Guru Tua berhasil mendirikan 400 madrasah yang meliputi ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah dan mualimmin (setingkat diploma).

Setelah Proklamasi kemerdekaan, Al-Khairaat terus berkembang. Pada 21 Agustus 1956, Al-Khairaat yang juga menjadi lembaga sosial kemasyarakatan menyelenggarakan Muktamar Besar pertama. Muktamar berhasil menetapkan 10 pasal anggaran dasar pondok.

Setelah muktamar, Guru Tua mulai mempercayakan pengelolaan pendidikan kepada sejumlah santri yang lulus terbaik sampai 1964. Pada 1964 digelar Muktamar II.

Pada masa G 30 S/PKI, beberapa kegiatan Al-Khairaat terpaksa tutup, para santri PA banyak yang turut turun langsung membantu rakyat memerangi PKI. Pada 1969, cucu Guru Tua, Habib Sayyid Seggaf Aldjufrie, kembali membuka madrasah dan kampus-kampus milik Al-Khairaat, sekaligus memegang kendali Al-Khairaat. Sebab, 22 Desember 1969, Guru Tua wafat. Dalam Genggaman Seggaf, Al-Khairaat terus mekar hingga memiliki ratusan cabang di berbagai daerah. Dan posisi Al-Khairaat pun makin kuat di kawasan Indonesia Timur karena banyak alumninya menjabat posisi penting. Seperti menjadi gubernur, walikota bupati, camat, lurah dan tentu saja beberapa lembaga keagamaan semacam Majelis Ulama Indonesia. Melihat itu semua, dari alam ruh, Guru Tua mungkin tersenyum bangga menyaksikan kesuksesan yang diraih Pesantren Alkhairaat.

Sumber: http://pesantren-islam.blogspot.com/ (5 Mei 2012)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment