Beranda

Friday, May 4, 2012

Menanti Antrian, Menunggu Giliran; In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar

Menanti Antrian, Menunggu Giliran
(Catatan Umarulfaruq Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)


Sungguh sangat banyak pelajarannya. Namun diantara sekian pelajaran dari kepergian almarhum Aba saya, yang paling berharga adalah bahwa ternyata kematian begitu dekat; bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati, tinggal menunggu kapan, dimana dan bagaimana akhir kehidupannya; bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara dalam perjalanan panjang ke kampung selanjutnya.

Aba yang berpuluh tahun berada di tengah-tengah kami kini telah lebih dulu melanjutkan perjalanan itu. Sebelum tahun 1957 ia memang tidak tercatat sebagai penduduk bumi, kemudian menjadi ada tanggal 8 Februari, lalu kembali status kependudukan itu berakhir dan resmilah ia menjadi penghuni alam barzakh tanggal pertengahan Februari 2010. Hal-hal yang membuktikan keberadaannya dulu sebagai warga dunia adalah peninggalannya, kesan-kesannya, perjuangannya dan kisah peri kehidupannya yang terekam baik dalam memori. Dirinya memang tak mampu lagi berkata. Sebagai gantinya adalah apa yang ia tinggalkan untuk kami semua.

Pada akhirnya sejarah pasti akan mencatat setiap peristiwa; tertulis maupun tidak. Setiap orang yang melihat akan memberi persaksian kepada generasi selanjutnya tentang apa ia saksikan pada zamannya; peristiwa, tokoh, kepahlawanan, keadilan, kecerdasan, kebodohan, keberanian, kepengecutan dan sebagainya. Catatan sejarah anak manusia tidak akan pernah sepi dari berbagai kejadian dan kumpulan cerita kehidupan.

Hingga kini, tercatat beberapa nama yang menjadi simbol dari sebuah karakter. Misalnya, dalam kepemimpinan, Nabi Muhammad; dalam keadilan, Umar bin Khatab; dalam kelembutan ada Ahnaf; dalam keberanian dikenal nama Antarah; dalam kecerdasan, Iyas bin Muawiyah; atau dalam hikmah dan kebijaksanaan, Luqman.

Di saat hidupnya, mungkin mereka tidak pernah mengira akan dijadikan simbol sebuah sifat tertentu. Mereka menjalani hidup sesuai alur pikiran masing-masing. Sejarahlah yang mengabadikan namanya.

Kita semua pasti akan menjadi bagian sejarah di masa depan itu. Saat generasi telah berganti; saat jatah hidup dimakan usia, saat umur berlalu mengiringi waktu, saat jarak terpaut begitu jauh dengan masa kehidupan kita saat ini. Saat itulah generasi baru akan bercerita tentang kakeknya, pamannya, bapaknya, atau seseorang (yang mungkin itu kita) yang pernah diceritakan orang kepadanya.

”Dan begitulah masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS Ali Imran [3]: 140).

Adalah hal yang tidak mungkin mengubah catatan sejarah yang telah tertulis dan diabadikan oleh zaman. Yang bisa dilakukan adalah merancang sejarah diri sebaiknya-baiknya. Apa yang kita inginkan menjadi citra diri masa mendatang bisa dituliskan sejak saat ini.

Benar kata sebuah nasihat bijak: Ukirlah kenangan, lukislah sejarah, dan jalanilah hidup dengan cara terbaik. Bagaimana engkau menjalani hidup, begitu pulalah kesan orang-orang di saat kematianmu.

Tidak, kawan.
Kematian itu tidak hanya milik orang lain. Suatu waktu dia pun akan menyapa kita.

Maka untuk apa memelihara segala kebencian itu, merawat semua dendam itu. Belum tiba saatnya kah kita meredam segala permusuhan dan persengketaan? Belum saatnyakah kita menjernihkan pribadi, berbicara dengan diri sendiri, mempersiapkan sesuatu untuk masa pensiun total dari kehidupan, yang mungkin tidak lama lagi? Belum tiba saatnyakah sejenak merenungi perjalanan kehidupan yang panjang, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih panjang lagi?

Detik inilah saat berharga itu. Sejenak merenungkan tentang diri dan segala pertanggungjawabannya nanti..

Astaghfirullahal azhiim….

0 comments:

Post a Comment