Beranda

Tuesday, December 18, 2012

UNIVERSITAS ISLAM MADINAH


Universitas Islam Madinah (al-Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah) didirikan pada tanggal 25-3-1381 H (6-9-1961), yaitu pada masa pemerintahan Raja Su’ud bin Abdul Aziz Alu Su’ud.

Rektor pertamanya adalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim (Mufti Kerajaan Saudi Arabia), kemudian Syaikh Abdul Aziz Bin Baz (Mufti Kerajaan Saudi Arabia), dan saat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Muhammad bin Ali al-’Uqla.
Kurikulumnya disusun oleh para ulama terkemuka dunia Islam, dan saat ini memiliki lima fakultas, yaitu:

1. Fakultas Syariah.
2. Fakultas Dakwah dan Ushuluddin.
3. Fakultas Quran dan Dirasat Islamiyyah.
4. Fakultas Hadits dan Dirasat Islamiyyah.
5. Fakultas Bahasa Arab.

Universitas Islam Madinah juga membawahi tiga sekolah setingkat SMP dan tiga sekolah setingkat SMA. Menurut buletin Akhbarul Jami’ah, Universitas Islam Madinah merencanakan untuk merintis fakultas ilmu-ilmu umum dan membuka kampus khusus mahasiswi.

Universitas Islam Madinah merupakan hadiah dari pemerintah Kerajaan Saudi Arabia untuk para pemuda Islam di seluruh penjuru dunia. Hingga tahun 1429 H (2008 M), universitas ini telah meluluskan 20.385 sarjana S1 dari 147 negara, 74 %-nya dari luar Saudi, serta 968 master dan 621 doktor, 47 %-nya dari luar Saudi. Untuk Indonesia secara khusus, Universitas Islam Madinah telah melahirkan 828 sarjana S1, 19 master, dan 8 doktor.

UNIVERSITAS AL AHQAF, YAMAN




SEKILAS TENTANG HADHRAMAUT

Hadhromaut adalah salah satu provinsi yang ada di bagian selatan Republik Yaman, sebuah provinsi yang kaya akan peradaban Islam dan semarak dengan ilmu pengetahuan. Sejak silam orang-orang telah datang dari berbagai penjuru negeri untuk menuntut ilmu di tempat ini, hingga bermunculanlah ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam ke berbagai negara termasuk Negara Indonesia tercinta. Hingga kini ribuan manuskrip hasil karya putra ulama-ulama terdahulu masih terpelihara di perpustakaan-perpustakaan setempat, hubungan (komunikasi) antara Indonesia-Yaman pernah terputus beberapa tahun silam, ketika negara tersebut dikuasai dan dijajah oleh komunis.
Alhamdulillah semua itu telah berlalu, hingga kemudahan komunikasi kembali terwujud dibarengi dengan munculnya kembali lembaga-lembaga Islam, wadah penggemblengan generasi penerus da’wah Rasulullah SAW. Indonesia adalah salah satu negara yang banyak putra-putri bangsanya ke Yaman untuk menimba ilmu di tempat penyebar Islam berasal.

UNIVERSITAS AL-AHQAFF

Al-Ahqaf adalah salah satu universitas yang berada di provinsi hadramaut, universitas ini resmi didirikan pada tahun 1994 melalui SK Menteri Pendidikan No. 5 tanggal 8 Februari Tahun 1994, oleh para ulama terkemuka yang dipelopori Al Allamah l Habib Abdullah bin Mahfudz Al Haddad Mufti Provinsi Hadramaut. Pada tahun 1995 Universitas Al-Ahqaf resmi menjadi anggota persatuan universitas negara negara Arab dan resmi menjadi anggota Asosiasi Universitas-Universitas Islam.

FAKULTAS

Universitas Al-Ahqaf mempunyai 4 Fakultas sebagai berikut:

1. Fakultas Syari’ah Wal Qonun (putra/5tahun)
2. Fakultas Ekonomi (putra/ 4 tahun) jurusan:
a). Akuntansi
b). Manajemen bisnis
3. Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (putra/ 4 tahun) jurusan:
a). Komputer Informatika
b). Teknik Komputer
4. Fakultas Tarbiyah (putra/ 4 tahun) jurusan:
a). Dirosah Islamiyah
b). Bahasa Arab

Pelajar Indonesia diberikan besasiswa khusus untuk belajar di:

1. Fakultas Syari’ah wal Qonun (putra)
2. Fakultas Tarbiyah (putri)

FAKULTAS SYARI’AH WAL QONUN (PUTRA)

Ditempatkan di kota “Tarim” yang sejak dulu dikenal sebagai kota Ilmu dan Ulama’. Universitas Al-Ahqaf dengan Fakultas Syariahnya telah mencoba untuk memelihara dan menggabungkan antara manhaj Salaf dan Kholaf.
FAKULTAS TARBIYAH (PUTRI)
Bertempat di kota Mukalla. Para mahasiswi, dibekali dengan berbagai ilmu keislaman yang sesuai dengan kebutuhan zaman, sehingga menjadi wanita sholihah yang berilmu tinggi dan berwawasan luas. Di Universitas Al-Ahqaf juga telah dibuka program (S2) dan (S3) Fakultas Syariah, Ilmu Bahasa Arab dan Tarbiyah.

Universitas Al Ahqaf Hadramaut Memberikan kesempatan kepada lulusan SMU/ Aliyah/ Sederajat untuk mengikuti program beasiswa studi lanjut S1 (Lc) ke Universitas Al Ahqaf Hadramaut Yaman, yaitu :
- Fakultas Syari’ah wal Qanun (Putra)
- Fakultas Dirasah Islamiyyah (Putri )
Untuk tahun akademik 2012/2013 yang diselenggarakan dengan beberapa ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :

A. PERSYARATAN DAN KETENTUAN

1. Mengisi formulir pendaftaran test
2. Menyerahkan photo copy ijazah SMU/Aliyah/Sederajat sebanyak 2 lembar. Bagi yang ijazahnya belum keluar maka dapat menyerahkan photo copy raport SMU/Aliyah/ Sederajat.
3. Menyerahkan pas photo berwarna 3x4 sebnyak 4 lembar
4. Membawa surat pengantar mengikuti seleksi, dari sekolah / Pondok pesantren.
5. Bagi mereka yang memenuhi syarat dan dinyatakan lulus test :
a. Harus bebas HIV dan Hepatitis B dan C ( dibuktikan dengan hasil laboratorium yang di akui negara)
b. Akan mendapatkan beasiswa penuh ( asrama, pendidikan, dan makan) kecuali tiket pemberangkatan dan tiket jaminan kepulangan, visa ,handling,tax,tarjamah transkrip,dll yang ketentuannya akan di hitung saat seleksi.
6. Ijazah paling lama 3 tahun
7. Nilai rata-rata ijazah / STTB lebih dari 7 (tujuh)


Universitas Al Ahqaf adalah salah satu Universitas terkemuka di Yaman yang bermadzhab Syafi’I, madzhab mayoritas masyarakat Muslim Indonesia. Sejak 2009, Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta telah mengirimkan santrinya ke Al Ahqaf ini. Sisitem pendidikan berasrama (Boarding School) selama 4 tahun di Al Ahqaf telah banyak melahirkan mahasiswa yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keagamaan dan berakhlaqul karimah. Penguasaan terhadap bahasa Arab yang baik dan benar serta penguasaan kitab-kitab rujukan klasik Ummat Islam menjadi hal yang sangat di prioritaskan bagi lulusan universitas ini.


UNIVERSITAS AL AZHAR KAIRO


Al Azhar adalah sebuah lembaga waqaf yang didirikan pada masa Bani Fathimiyah oleh Panglima Jauhar al Tsiqilli. Al Azhar yang dibangun sejak tahun 359 H / 970 M (sekarang berusia +1037) merupakan dasar yang sangat fundamental dalam membangun paradigma pemikiran keislaman. Proses transformasi pemikiran bermula dari halaqah-halaqah yang diadakan di bawah tiang mesjid jami’ Al Azhar dengan sistim yang sangat tradisional.

Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya di lembaga tertua ini. Pada mulanya paham Syi’ah mendominasi lembaga ini hingga tampuk pemerintahan Mesir di pegang oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1171 M. Semenjak itulah dilakukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazhab Syi’ah ke mazhab Sunni yang berlaku hingga sekarang.

Masa keemasan Al Azhar terjadi pada abad ke 9 H. (15 M). Banyak ilmuan dan ulama Islam level internasional bermunculan di Al Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, al Farisi, as Suyuthi, Abdul Latif al Baghdadi, al Maqrizi dan lain-lain yang telah mewariskan banyak ensiklopedi Islam dan Arab.


Pada pertengahan abad XX, Al Azhar mulai mempelajari sistim penelitian yang dilakukan universitas di Barat, dengan mengirim alumni terbaiknya belajar di Eropa dan Amerika. Tujuannya adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiah di tingkat internasional sekaligus upaya perbandingan & pengukuhan Islam yang benar. Pembaharuan ini tidak lepas dari jasa Syekh Muhammad Abduh (1849–1905) yang mengusulkan perbaikan sistim pendidikan Al Azhar dengan memasukan ilmu-ilmu modern ke dalam kurikulumnya. Seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi dan sejarah.

Awalnya, Al Azhar adalah lembaga independen terpisah dari ikatan birokrasi pemerintahan Mesir hingga rezim Gamal Abdel Nasser berkuasa. Pada masa itulah peran Al Azhar yang dinakhodai Syekh Mahmud Syaltout (5/5/1961) selaku Syekh al Azhar diciutkan menjadi jabatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang berada di bawah pimpinannya. Upaya ini dibackup Undang-undang Revolusi Mesir no. 103 tahun 1961. Namun demikian, perubahan tersebut membolehkan lulusan SD atau SMP al Azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik pemerintah. Demikian pula sebaliknya. Dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan pula berbagai fakultas/jurusan baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan/Ekonomi, Sains, Pertanian, Teknik, Farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun Fakultas khusus putri (Kulliyatul Banât) dengan berbagai jurusan.


Al Azhar memiliki 3 rumah sakit universitas dan satu rumah sakit dibuka khusus melayani orang asing.

Di samping Universitas (Jãmi’ah) Al Azhar. Lembaga resmi lain yang dimiliki Al Azhar adalah; Dewan Tinggi Ulama (Hai-ah Kibãr al ‘Ulamã), Biro Kebudayaan dan Misi Islam (Idãrah ats-Tsaqãfah wal Bu’uts al-Islãmiyah), Lembaga Riset Islam (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah) dan Majlis Tinggi Al Azhar (al-Majlis al-A’lã lil Azhãr).
Sejak mula berdirinya, studi di Al Azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia. Hingga kini Universitas Al Azhar memiliki lebih dari 50 fakultas/jurusan yang tersebar di seluruh pelosok Mesir dengan jumlah mahasiswa/i melebihi angka 150 ribu. Itulah potret Al Azhar yang tetap tegar dalam kurun usia senja.

Menyangkut sistim kuliah, agak bersifat salafiyah (tradisional). Mahasiswa datang, duduk dan mendengar penjelasan Dosen (Perlu diketahui bahwa dosen Al Azhar semuanya bergelar Profesor Doktor). Kalau ada yang kurang jelas silahkan bertanya. Jadi sengaja diformat demikian, agar mahasiswa lebih banyak memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan materi & informasi. Sistim hafalan cukup mendominasi setiap mata kuliah.
Oleh karena itu, model perkuliahan di Al Azhar mirip “semi-kredit” dan tidak menggunakan model SKS seperti yang dikenal di Indonesia. Syaratnya-pun sangat ketat, yaitu keharusan lulus dalam seluruh mata kuliah. Jika sempat gagal tiga mata kuliah (mâddah) saja pada tingkat Strata 1, atau satu mata kuliah pada strata 2, maka terpaksa mengulang kembali seluruh mata kuliah pada tahun berikutnya. Kesempatan mengulang hanya tersedia dua tahun. Bila tetap gagal maka akan di drop-out dari universitas.

Untuk fakultas & jurusan agama, jenjang studi yang dibuka meliputi program :
 Under Graduate (S1)
 Post Graduate (S2 & S3)

Masa pendidikan resmi program Under Graduate (S1) selama 4 tahun (kecuali jurusan Syariah wal Qanun menempuh masa studi 5 tahun). Sedangkan program Magister (S2) hanya menjalani masa studi 2 tahun, dan dilanjutkan masa penulisan tesis dan masa penelitian secara terpisah kurang lebih dua atau tiga tahun.

Adapun Fakultas/jurusan agama untuk putra di Kairo ada lima;
1) Fakultas Syariah wal Qanun,
2) Fakultas Ushuluddin,
3) Fakultas Lughah al-‘Arabiyah,
4) Fakultas Dirasat Islamiyah wal ‘Arabiyah,
5) Fakultas Dakwah Islamiyah.

Sedangkan Fakultas umum (‘Ilmi) untuk putra;
1) Fak. Kedokteran,
2) Fak. Perdagangan,
3) Fak. Farmasi,
4) Fak. Kedokteran gigi,
5) Fak. Pertanian,
6) Fak. Teknik,
7) Fak. Bahasa & Terjemah,
8) Fak. Ilmu Pasti (Science).



Monday, October 22, 2012

Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta


Di setiap episode peradaban sejarah bidang pendidikan menduduki panggung utama dalam kehidupan umat manusia. Untuk menjadi sebuah negara maju dan berkembang, pendidikan menjadi syarat yang pertama dan utama. Sistem pendidikan Islam yang secara khusus berorientasi kepada usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia dibutuhkan sebagai penggerak pembangunan di segala bidang. Di lain pihak sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pendidikan yang dikelola oleh lembaga-lembaga Islam dan Pondok Pesantren memiliki peran penting memberikan kontribusi dalam bentuk melengkapi pendidikan dan pengajaran umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan keislaman bagi masyarakat ini menjadi suatu hal yang urgen untuk membentuk komunitas yang 'sehat' intelektual maupun spiritualnya.

Sejarah Berdiri
Pondok Pesantren Alkhairaat didirikan pada tahun 1930 di kota Palu, Sulawesi Tengah oleh Guru Besar Al-'Âlimul ‘Allamah Al Habîb As Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, seorang ulama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Sepeninggal beliau kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Habib Sayyid Muhammad bin Idrus Al-Jufri, yang kemudian-setelah Habib Muhammad wafat- kepemimpinan di teruskan oleh cucunya Habib Sayyid Saggaf bin Muhammad bin Idrus Al-Jufri. Dalam perjalanannya, hingga kini Pondok Pesantren ini telah memiliki lebih dari seribu cabang yang banyak tersebar di Kawasan Timur Indonesia.

Alkhairaat Tilamuta sendiri mulai di rintis pada 2 Mei tahun 1969 M dan diresmikan oleh Habib Idrus bin Salim Aljufri pada 30 Juni 1969. Berawal dari sebuah bangunan tua pinjaman masyarakat Tilamuta, berpindah-pindah tempat di beberapa desa di Tilamuta, hingga akhirnya saat ini berdiri kokoh di lahan seluas + 5 ha di Desa Modelomo - Tilamuta

Visi dan Misi

Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren Alkhairaat mempunyai beberapa Visi dan Misi, antara lain:
1. Membentuk insan-insan yang beriman, bertakwa kepada Allah Swt. dan berkualitas yang mampu menciptakan hubungan yang selaras antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan khaliqnya.
2. Menanamkan misi keislaman yang hakiki dalam kehidupan masyarakat melalui jalur dakwah serta usaha-usaha sosial lainnya.

Sumber Dana
Dalam memenuhi kebutuhan finansial pendidikannya, sumber dana Pondok Pesantren berasal dari:
1. Usaha mandiri yang dikelola oleh pihak pesantren seperti Toserba, peternakan, perkebunan dan lainnya.
2. Manajemen pesantren dilakukan secara swadana dan swakelola
3. Bantuan pemerintah
4. Usaha-usaha wakaf yang di sumbangkan masyarakat untuk di kelola pihak pesantren
5. Sumbangan masyarakat dan wali murid
6. Pembayaran SPP santri

Jam belajar
Jam belajar di Pondok dimulai jam 04.30 saat shalat subuh dan berakhir pada pukul 22:00. Jam belajar ini terbagi menjadi dua bagian:
- Pendidikan formal dimulai dari pukul 07.00 – 13.00
- Kegiatan non formal selain waktu tersebut.

Kurikulum Pelajaran
Pendidikan Formal dimulai pukul 07.00. Dalam pengajarannya, Ponpes Alkhairaat memakai dua kurikulum; kurikulum Alkhairaat dan kurikulum Depag. Ujiannya pun dua kali; ujian Alkhairaat dn ujian Depag. Ijazah pun dua; ijazah Alkhairaat dan ijazah Depag. Untuk saat ini, ijazah Aliyah Alkhairaat alhamdulillâh sudah mu'adalah dengan ijazah Tsanawiyah (yang di Indonesia setingkat dengan Aliyah) Al-Azhar.

Untuk pelajaran-pelajaran Depag, seperti akidah akhlak, Qur'an Hadits, Biologi, Fisika, Matematika, Bahasa Indonesia dan lainnya Al Khairaat menyesuaikan dengan buku-buku panduan yang berasal dari Depag. Untuk pelajaran pondok, menggunakan buku-buku turâts/literatur klasik, atau buku-buku yang disusun oleh tim dari pengurus pusat Alkhairaat.

Dalam pendidikan formal, mata pelajaran pondok untuk madrasah Aliyah dan buku panduan yang digunakan sebagai berikut:

Al-Qur'anul Karim > Al-Qur'anul Karim

Tafsirulqur'an > Tafsir Jalâlain, Tafsir An-Nasafi

Ulumul Qur'an > Mabâhits fî Ulûmil Quran; Manna Khalil Qaththan

Hadits > Riyadushalihin; An-Nawawi

Mushtalahul Hadits > Kitab Musthalah Hadits

Fiqih > Attadzhib Syarh Matnil Ghayah wa At-Taqrib; Mushtafa Daib Al-Bigha, Al-Yaqutunnafis 'Ala Madzhabi ibni Idris

Ushul Fiqh > Ilmu Ushul FIqh; Abdul Wahhab Khallaf

Faraidh > Takmilatu Zubdatil Hadits fi Fiqhil Mawarits; Muhammad bin Salim Al-Husaini Attarimi

Tauhid dan Akhlak > Al-Hushunul Hamidiyah

Tarikh Tasyri' > Tarikhuttasyri'; Abdul Wahab Khallaf

Nahwu > Al-Kawakib Addurriyyah Syarh Mutammimatil Ajrumiyah

Balaghah > Al-Balaghatul Wadhihah, Al Mukhtashar fi ‘Ilmil Balâghah

Pendidikan Non Formal
Ada beberapa pendidikan nonformal yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan santri. Pendidikan tersebut antara lain:

1. Latihan Pidato Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengasah kemampuan santri berbicara di depan umum. Bentuknya ada dua macam:
a. Harian
Setiap hari ada 4 orang santri yang ditugaskan secara bergilir untuk menyampaikan ceramah dengan bahasa Indonesia. Satu santri setelah Shalat Shubuh, dua santri setelah Dhuhur dan satu lainnya setelah Shalat Asar

b. Mingguan
Kegiatan mingguan ini biasanya dilaksanakan setelah Shalat Maghrib. Pidato bahasa Indonesia setiap malam Senin dan pidato bahasa Arab dan Bahasa Daerah Gorontalo dan Tomini dilaksanakan setiap malam Rabu. Dalam setiap pertemuan ada sekitar 10 pembicara. Setiap orang mewakili kelasnya masing-masing dan diatur secara bergilir.

2. Baca Kitab Barzanji
Kegiatan ini biasa dilaksanakan setiap malam Jumat seusai shalat Maghrib. Kegiatan ini dimaksudkan agar para santri mengenal Nabinya dan menanamkan rasa cinta kepadanya, sekaligus sarana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sering mengadakan acara baca barzanji ini dalam acara tasyakuran, pesta pernikahan dan peringatan maulid nabi.

3. Talaqqi Kitab Kuning
Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam penguasaan kitab turats. Kitab-kitab yang dikaji diluar jam formal antara lain Mutammimah Al-Ajrumiah; Syamsuddin Ar-Ra'ini, Al-Kafrawi, Mulhatul I'rab, Risatul Mu'awanah; Habib Abdullah Al-Haddad, Nashaihuddiniyah; Habib Abdullah Al-Haddad, Nashaihul 'ibad; Imam Nawawi Al-Bantani, Kifayatul Akhyar, Tafsir Ibni Katsir dan kitab lainnya. Disamping itu ada beberapa kitab Matan yang wajib dihapal oleh seluruh santri antara lain; Matan Abi Syuja', Matan Bina wal Asas, Matan Ajrumiyah dan Hadits Arba'in Nawawiyah.

Kegiatan membaca kitab kuning ini dilakukan biasanya pada pagi hari sebelum apel pagi, setelah Shalat Dhuhur sebelum makan siang dan setelah Shalat Isya.

4. Belajar di kelas malam hari
Kegiatan belajar mengajar formal di siang hari juga di mantapkan pada belajar di kelas pada malam hari. Pelajaran-pelajaran yang tidak cukup waktu untuk diajarkan formal di kelas diajarkan pada malam hari setelah Magrib atau Isya dengan menggunakan ruang kelas atau mesjid.

Kehidupan Asrama
'Kehidupan asrama' dimulai sejak terbitnya fajar shadiq mendekati shubuh. Setiap santri bergegas menuju bak mandi dan tempat wudhu untuk mempersiapkan diri melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah. Yang menjadi imam biasanya adalah para Ustadz atau para santri senior. Setiap hari Jumat biasanya dilaksanakan jamaah Shubuh dengan membaca Surat Alif laam Tanzil dan Surat Al-Insan dan melakukan sujud tilawah. Setelah shalat santri membaca zikir bersama dilanjutkan dengan penyampaian kuliah Shubuh dari 2 orang santri yang dijadwal secara bergiliran. Setelah itu santri mendengarkan wejangan dan nasehat dari pak Kiai. Bila ada tamu yang datang ke pondok, biasanya diperkenalkan dan diminta untuk memberikan sedikit ceramah setelah Shalat Shubuh ini.

Para santri kemudian bersiap untuk ke sekolah menjalani pendidikan formal. Antara waktu keluar dari mesjid (pkl. 06.00( hingga jam masuk (pkl. 07.00) pak Kiai biasanya memberi kesempatan kepada santri yang ingin mendalami pelajaran nahwu-sharaf dan sulûk. Sistem belajarnya adalah baca langsung. Pak Kiai memperbaiki bacaan dan menjelaskan hal-hal penting yang belum dipahami. Kitab yang dipakai untuk Qira'ah-- begitu kami biasa menyebutnya--antara lain Kitab mukhtashar jiddan, Al-Kafrawi, Kawakibuddurriyyah, Risatul Mu'awanah, Nashaihuddiniyah, Nashaihul 'ibad dan Nashaihuddiniyah.

Pukul 12.00 dilaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah. Di awali dengan penampaian ceramah singkat oleh dua orang perwakilan santri putra dan putri, dan biasanya ada sedikit penyampaian dan pengumuman dari pak Kiai atau dari Asatidzah yang hadir. Setelah melaksanakan shalat, santri kembali masuk kedalam kelas hingga pukul 14.00. Untuk makan siang, para santri di sediakan makan bersama / catering. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat keakraban dan kebersamaan santri serta tukar informasi kegiatan belajar di kelas masing-masing. Waktu antara shalat Dhuhur dan Asar itu digunakan untuk makan juga untuk istirahat.

Shalat Asar berjamaah pkl. 16.00. Setiap selesai shalat santri membaca zikir setelah shalat dengan keras dan berjamaah. Dilanjutkan dengan kuliah Ashar yang disampaikan oleh santri secara bergilir. Setelah itu santri tilawah Al-Quran sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Misalnya; hari Senin Surat Al-Muzzammil, hari Selasa baca surat Al-Insan dan begitu seterunya. Khusus hari Jumat sore santri membaca tahlilan. Hal ini dimaksudkan selain sebagai hadiah pahala bagi orang-orang tua yang telah meninggal juga latihan sebelum terjun ke masyarakat. Setelah itu santri olahraga bersama, ada yang main sepak bola, latihan voli, sepak takraw, silat, ada yang main bulu tangkis dan lain sebagainya.

Pkl. 18.00 kembali berkumpul di Mesjid untuk melaksanakan Shalat Maghrib berjamaah. Pakaian yang digunakan pada saat Shalat Maghrib biasanya adalah kemeja koko putih, kopiah putih dan sarung. Acara setelah Maghrib ini terbagi beberapa macam sesuai jadwal; ada waktu untuk tilawah bersama, ada waktu untuk talaqqi, belajar riyadhusshâlihin, ada muhadharah Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia mewakili kelas masing-masing dan beberapa malam tertentu ada kegiatan belajar malam di kelas. Untuk belajar malam paling banyak santri belajar nahwu sharaf.

Setelah Isya, para santri masak untuk makan malam. Bagi yang sudah masak waktu sore hari bisa langsung belajar dan menghapal pelajaran besok hari. Setiap hari pasti ada pelajaran yang mesti dihapal. Bisa sampai 3-4 pelajaran. Yang tidak bisa menghapal dihukum berdiri di depan kelas. Kecuali malam Jumat, santri dibebankan kegiatan ekstra kurikuler tambahan, latihan beladiri (karate/silat) untuk mengasah kekuatan dan ketrampilan beladiri, latihan seni tari (samrah) untuk kelenturan, seni budaya. Para santri wajib masuk asrama dan tidur sekitar pukul 10.00. Khusus malam Jumat, santri dibangunkan lebih awal, pukul 02.30 untuk melaksanakan shalat tahajjud berjamaah.

Pengabdian Kepada Masyarakat
Kegiatan-kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dimaksudkan juga sebagai sarana pendidikan non formal terhadap santri dan melatih mereka untuk mudah berbaur dengan warga masyarakat. Diantara kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang sering dilakukan adalah;

1. Menghadiri Shalat Jenazah
Setiap ada anggota masyarakat yang meninggal, biasanya para santri diundang untuk menyolatkan. Kadang santri dijemput dengan mobil atau berjalan kaki. Di satu sisi, hal ini menguntungkan santri karena lebih bisa mengamalkan ilmu, bisa akrab dengan masyarakat dan lebih mengingatkan santri kepada kematian. Tapi disisi lain banyak jam pelajaran yang terpakai untuk pelaksanaan pelayatan jamaah ini.

2. Mengahadiri acara tahlilan
Kehadiran Pesantren di kalangan masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Disaat ada kematian, selain di undang untuk menyalatkan, para santri juga biasa diundang untuk turut mendoakan dalam acara tahlilan yang biasanya diadakan pada hari ke-7 hari ke-40 dan hari ke-100 setelah meninggalnya mayit. Undangan ini biasanya ba'da maghrib dan diikuti oleh 5-10 orang santri. Sebelum acara tahlilan itu biasanya didahului dengan khataman al-quran lebih dahulu.

Para santri rata-rata hapal dengan bacaan tahlil itu sebab selain langsung berkecimpung dalam masyarakat, setiap jumat ba'da Ashar diadakan acara tahlilan berjamaah di mesjid.

3. Mengisi ceramah-ceramah dan takziah
Dalam setiap acara-acara takziah, para santri biasa diundang untuk memberikan ceramah agama. Demikian pula dalam acara peringatan hari-hari besar Islam.

4. Menjadi khatib jumat di mesjid-mesjid
Para santri biasanya sudah ditugaskan untuk menjadi khatib di mesjid-mesjid sejak kelas I Tsanawiah. Pembinaan untuk menjadi khatib dan penceramah yang baik juga terus dilakukan melalui latihan pidato dan lain sebagainya.

5. Menjadi Imam mesjid saat bulan ramadhan
Pihak pondok meliburkan santrinya setiap bulan Ramadan untuk memenuhi permintaan masyarakat, yang kerap kali meminta para santri untuk menjadi imam Shalat Tarawih dan memberikan ceramah selama Bulan Ramadan sekaligus menyampaikan khutbah saat Idul Fitri.

6. Melaksanakan kerja bakti dan aktifitas social kemasyarakatan
Diantara kegiatan sosial yang rutin dilaksakan adalah membantu membersihkan jalan dan daerah sekitar lokasi pesantren, membantu masyarakat di wilayah bencana alam sekitar pesantren seperti kebakaran, banjir dsb., bahkan ikut berpartisipasi dalam pembangunan jalan dan jembatan desa.

Kurikulum Ideal
a) Ilmu Agama:
Dalam hal ini penguasaan santri terhadap buku buku turâts/literatur klasik yang berkenaan dengan tajwid, tafsir, tauhid, fiqih, usul fiqih, faraidh, perbandingan agama, tarikh Islam dan terjemah Al Quran harus lebih ditingkatkan. Kemampuan Bahasa Arab secara aktif perlu terus mantapkan. Para santri juga perlu terus di dorong dan dibina untuk mengahapal Al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum Islam.
b) Ilmu Umum:
Penguasaan santri terhadap mata pelajaran ilmu umum terasa masih kurang. Para santri paling tidak dibekali dengan penguasan konsep-konsep dasar mata pelajaran ilmu bumi, sejarah Indonesia, matematika, fisika, biologi, antropologi, ilmu jiwa, bahasa Indonesia dan lainnya. Peningkatan bahasa, terutama Bahasa Arab dan Bahasa Inggris merupakan bagian penting dalam kurikulum ilmu umum.

c) Ekstrakurikuler:
Program kegiatan dan pelajaran ekstrakurikuler merupakan bagian penting sekali bagi setiap pranata pendidikan,

Selain dari perannya sebagai bagian pelajaran yang memperluas pengetahuan dan ketrampilan para santri, program ekstrakurikuler juga merupakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan santai. Kegiatan semacam ini penting sekali dalam perkembangan mental dan fisik seorang pemuda. Memang sudah banyak penelitian mengenai cara pemuda-pemudi belajar dengan baik dan ternyata tidak cukup bagi para pemuda kalau hanya diberi pelajaran di dalam ruang kelas dengan buku-buku.

Kegiatan ekstra yang bagus untuk dikembangkan adalah kegiatan yang bersifat praktis seperti jurnalistik santri, pelatihan komputer, latihan beladiri, olah raga umum, lomba pidato, bertani, mendaki gunung saat liburan dan lain sebagainya. Para santri pun perlu dididik untuk bagaimana bermuamalah dan bergaul yang baik dengan masyarakat.

Amat sangat bagus bila pesantren bisa mengusahakan klub belajar intensif Bahasa Arab dan Inggris, retorika, pidato, logika dan lain-lain, disamping menyiapkan ruang-ruang praktikum, laboratorium Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Perpustakaan, Koperasi, Kursus komputer yang disertai para guru yang mampu di bidang tersebut.

Demikianlah. Kehidupan pondok pesantren tentu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Banyak hal yang mesti harus kita benahi kembali dari Al Khairaat kita. Yang paling utama barangkali adalah perapian manajemen dan pengelolaannya secara profesional. Target-target ideal demi pencapaian kualitas pendidikan juga harus terus diusahakan. Profesionalisme tenaga pendidik dibarengi dengan keikhlasan pengabdian membina Al Khairaat sebagai amanah umat, amanah Islam, dan amanah pendiri utamanya; Guru Tua, Al-'Âlimul ‘Allamah Al Habîb As Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri dan Guru Besar Alkhairaat Tilamuta, Alm. KH. Muhammad Abubakar. Tidak sedikit alumni Al Khairaat Tilamuta yang telah berhasil dari luar yang siap mengabdikan ilmunya. Mereka hanya perlu diajak bekerjasama, difasilitasi dan diajak berdialog tentang manajemen pondok pesantren. Sebab pendidikan dan pengalaman yang mereka pelajari dari luar sedikit banyak bermanfaat bagi pengembangan Al Khairaat di masa mendatang.

Semoga seluruh usaha kita diberkahi oleh Allah Swt. Amîn.

Cairo, November 2008
Dari catatan: Mengenang Hari di Alkhairaat Tilamuta
Umarulfaruq Abubakar – Luqmanul Hakim Abubakar





Aku, di Idul Fitri Ketujuh

(Catatan harian seorang Abnaul Khairaat di Univ. Al Azhar Kairo)




"Engkau mau kakak bercerita tentang apa, dek?"

Wajah-wajah baru penuh semangat itu kini berada di hadapanku. Mereka adalah adik-adik sealmamater di HIKMAT (Himpunan Keluarga Mahasiswa Alkhairaat). Ada sesuatu yang lain saat berhadapan dengan mereka. Wajah mereka masih penuh keluguan, sorot mata mereka masih penuh ketulusan, tawa mereka lepas tanpa beban, semangat mereka masih seratus watt, pandangan mereka menyimpan kekaguman dan pengharapan yang besar ketika melihat dunia baru yang terpampang di depan mata. Semua itu tampak dalam diam dan gerak mereka. Adik-adik yang juga kelihatan masih lugu, lucu dan culun ini kelak yang akan turun memberi warna di dunia masisir paling tidak di dua tahun ke depan dan menjadi titik kebanggaan bagi warga kampung mereka ketika pulang.

Sebab aku tahu benar adik-adik ini bukanlah berasal dari kelurga metropolitan. Mereka adalah utusan masyarakat mikropedesaan yang datang dengan sebuah harapan menjunjung Singgalang dan menggalang Sijunjung, mewakili anak-anak laut yang berada di pesisir, atas nama asa yang kuat dan keinginan yang menggelora. Tak usah engkau ajak dulu mereka untuk berpikir yang rumit-rumit, bercerita tentang globalisasi, westernisasi, humanisme, student goverment sistem atau lainnya. Tidak perlu engkau bawa mereka kepada khilafat fiqhiyyah atau kerumitan ilmu kalam, filsafat, dan ushul fqh, atau engkau ajak bicara tentang gempa tektonik, pergerakan lempengan bumi, tata cara pengukuran gempa dan lainnya yang sulit-sulit (yang aku pun gak paham).

Cukup engkau ajak mereka bicara, engkau ajari berbahasa Indonesia yang baik dan benar, engkau ajari dia ungkapan Bahasa Arab sehari-hari, engkau beritahu dia bagaimana membaca Al-Quran yang baik, engkau ajak dia ke mesjid, atau engkau bagi sebagian cerita hidupmu kepada mereka. Mereka itu adalah Alwin, Rauf, Yahya, Oji, Juandi, Muslim, Samsir, Sudirman, Ijtihad, Hajija, Aisyah dan Jannah.

Engkau tahu kawan, mereka memanggilku kakak. Itu sebuah kebahagiaan bagiku. Namun dari itu aku menjadi lebih bahagia karena disini aku punya banyak adik yang cerdas; aku bisa mendengar kisah-kisah mereka, menemukan semangat baru, ilmu baru, pengalaman baru dan hal-hal lainnya. Mereka juga masih sangat penurut, semangat diajak kepada hal-hal yang berifat keilmuan dan gembira luar biasa ketika dibawa bertualang dan menemukan hal yang baru. Mereka juga masih senang mendengar cerita, berbagi pengalaman, dan bertukar kehidupan masa silam. Seperti dulu aku juga senang ketika diajak bercerita oleh Amu Basri dan Amu Husni ketika masih tinggal di Zahra. Kalau engkau ingin melihat semangat dan ketulusan itu, atau sekedar ingin dipanggil kakak oleh mereka, datanglah kesini. Engkau bisa jumpai mereka di kawasan Thub Ramli.

Dan kali ini, mereka ingin aku kembali bercerita. Maukah engkau menemaniku, kawan? Paling tidak dirimu memberi masukan di sela-sela ceritaku ini. Kuingin bercerita sepotong kisah dari serial kembara yang masih terus berkelana ini. Mungkin kisah hidupku ini biasa-biasa saja dan kurang istimewa, tapi kuharap adik-adikku itu bisa bahagia dan terhibur ketika mendengarkannya. Dengan kehadiranmu ini, mungkin engkau bisa mengingatkanku dan mengembangkan kisah ini sehingga menjadi lebih berarti.

Ketika aku bertanya seperti tadi kepada mereka, jawabannya sudah bisa kuduga.. “Apa aja deh, kak”. Dan jawabanku juga sudah bisa mereka duga “Meeeesyi….”

*****

Aku ingin mengawali cerita ini tentang pengalaman meniti kuliah di Universitas Al-Azhar.

Siang hari empat belas Desember 2003, itulah pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi para nabi. Alhamdulillah aku melewati studi di tahun pertama ini dengan nilai Jayyid dan bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Fakultas Syariah Islamiyah adalah pilihanku. Pilihan ini didorong oleh keinginanku mendalami Hukum Islam dan berkenalan dengan dosen-dosenku di kuliah. Aku ingin mengetahui makna, sebab dan hikmah dibalik ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Alhamdulillah aku bisa najah dan melewati setiap tingkat tanpa membawah hutang maddah ke tingkat selanjutnya, walaupun dengan nilai pas-pasan, hingga akhirnya lulus di tahun 2007. Melihat wajah adik-adikku ini, aku jadi merasa ingin kembali lagi ke masa silam agar bisa kembali belajar lebih giat. Aku tahu itu tidak mungkin. Yang mungkin aku lakukan adalah mengambil pelajaran dan berpacu dengan waktu memanimalisir banyak kekurangan yang ada.

Aku merasakan saat mengikuti muhadharah di kuliang adalah waktu yang menyenangkan. Para dosen yang semuanya telah mencapai predikat akademis tertinggi itu mencurahkan sederas-derasnya ilmu yang beliau miliki berkaitan dengan maddah yang sedang dipelajari. Sebaiknya sebelum datang ke kuliah, muqarrar sudah engkau baca lebih dulu di rumah walaupun hanya sekilas, supaya cepat nyambungnya saat muhadharah. Ketika sudah nyambung, maka kuliah yang diberikan oleh doktor tersebut terasa menjadi lebih menarik, walaupun beliau menggunakan bahasa ammiyah. Ilmu-ilmu yang disampaikan menjadi terserap lebih banyak. Setiap kali muhadharah, ruangan kuliah selalu saja membludak oleh murid-murid dari berbagai negara, terutama ketika mendekati ujian. Seringkali ada yang harus menyimak muhadharah itu sambil berdiri.

Dosen-dosenku yang mengisi muhadharah itu adalah manusia-manusia luar biasa. Beliau-beliau adalah orang-orang yang dalam ilmunya dan sangat bersahaja. Ketika menyampaikan materi kuliahnya, engkau akan melihat mutiara ilmu dan hikmah itu tak pernah berhenti mengalir dari mulutnya, sambung-menyambung membentuk sebuah ikatan ilmu pengetahuan yang utuh. Bahkan banyak dosen yang buta, namun hapalan mereka sungguh luar biasa. Nyaris sama persis dengan apa yang ada di buku. Para dosen itu kebanyakan adalah guru-guru besar senior dan sudah berpengalaman mengajar di universitas di berbagai negara. Selain mengajar di kuliah, mereka biasanya memiliki majlis pengajian di mesjid yang ada.

Sungguh aku tak bisa melupakan Syekh Ahmad Mahmud Karimah (Fiqh Muqarin), Syekh Thaha Rayyan (Fiqh Muqarin), Dr. Abdussalam (dosen Ushul Fiqh), Dr. Abdul Fattah Syekh (dosen Ushul Fiqh), Dr. Umar Hasyim (dosen Mushtalahul Hadits) dan guru-guruku yang lain. Namun jangan kaget kawan, kalau orang yang menuggu bis menuju Hay ‘Asyir di sampingmu adalah doktor yang tadi mengajar di kelas. Atau orang tua berjas rapi yang di bis tadi engkau biarkan berdiri, ternyata beliau yang memberikan muhadharah. Aku sendiri pernah menanti bis bersama dosen mata kuliah Qadhaya Mu’ashirah dan berkali-kali menunggu bis bersama dosesn Ushul Fiqh Hanafi menuju bawwabah dua-Nasr City.

Saat ikut muhadharah memang enak. Yang tidak begitu enak ialah saat datang dan pergi. Di pagi hari harus berjuang melawan serangan kantuk dan hawa dingin yang menerpa. Menunggu bis lumayan lama, kecuali disiplin mengikuti waktu lewatnya bis ke kuliah. Bisnya tidak banyak. Di bis, sering tidak mendapatkan tempat duduk, suasananya pun sempit dan berdesak-desakan. Padahal jarak antara tempat tinggal (bagi yang di Nasr City) lumayan jauh, sekitar 45 menit sampai satu jam. Kalau masih pagi enak. Masih ada sisa sisa aroma wangi parfum yang bercampur baur baunya. Lain rasanya kembali kembali dari kuliah jam 2 siang. Kondisinya sama seperti tadi, tumpah ruah dalam bis yang sempit. Namun ada aura lain yang berbeda, baik yang bisa diindera oleh mata dan telinga, atau hanya bisa dirasakan oleh ketajaman indera penciuman.

Inilah salah satu alasannya kenapa banyak kawan-kawan yang lebih memilih di rumah dan tidak ke kuliah. Ada yang masih menitipkan rekaman untuk nanti didengarkannya di rumah atau meminta salinan dan informasi materi kuliah kepada kawannya, namun ada juga yang sibuk dengan organisasi dan pekerjaannya; melupakan kuliahnya, untuk diingat kembali ketika waktu ujian telah menjelang. Maka menjadi mahasiswa yang komitmen untuk selalu hadir menjadi sebuah prestasi tersendiri. Sebab itu membutuhkan kesabaran, ketahanan, manajemen diri dan pengatura waktu hidup yang baik. Tapi engkau tidak perlu risau, kawan. Orang-orang yang komitmen dan sabar seperti itu masih banyak disini. Bahkan masih terlalu banyak. Kuharap engkau adalah salah satu dari mereka.

Dengan senantiasa hadir di kuliah, engkau akan bisa berkenalan dengan ragam dan corak mahasiswa yang berbeda-beda, sesuai dengan negara masing-masing. Ada mahasiswa dari negara-negara teluk yang perawakannya putih, tinggi, dengan jenggot dan cambang yang menghiasai pipinya. Ada dari negara-negara Afrika persemakmuran Prancis yang kebanyakan berkulit hitam, dengan rambut keriting tipis di kepalanya dan kadang-kadang botak. Ada yang dari Asia Timur dengan mata sipit dan perawakan pendeknya. Ada dari negara-negara pecahan Uni Sovyet dengan mata biru, perawakan tinggi dan kulit putihnya. Mahasiswa Asia Selatan juga ada dengan kulit hitam dan jenggota lebat mereka, memakai peci dan pakaian khas seperti Jama’ah Tabligh. Tak ketinggalan dari Asia Tenggara yang kecil-kecil (dibandingkan dengan perawakan teman-teman Arab dan Eropa), ramah-ramah, suka tersenyum kepada siapa saja, selalu membawa tas kemana-mana dan kadang-kadang ada yang datang ke kuliah dengan baju koko dan peci putihnya, dengan baju batik dan celana hitamnya, atau dengan celana jeans, kaos oblong dan sandal jepitnya. Sungguh amat banyak macam dan bentuknya.

*****

Namun jujur, kawan. Sesungguhnya aku merasa gagal dalam pendidikan ini. Ah, tak perlu aku menyalahkan waktu. Enam tahun yang lalu, pengharapan yang kuat begitu memenuhi dada. Segala obsesi tertancap untuk selalu menjadi yang terbaik. Segala sesuatu ingin diraih untuk memaksimalkan potensi. Barangkali aku termasuk orang yang beruntung namun tak pandai bersyukur. Beragam kenikmatan terbuka lebar di depan mata untuk menebar benih amal tersiakan begitu saja. Aku merasa tidak bisa memanfaatkan kesempatan belajar dan menguasai aneka ilmu yang sangat kaya di Mesir ini. Pelajaran di kuliah saja tidak aku kuasai dengan baik dan seksama. Kebiasaan melalaikan muqarrar dan jarang kuliah terus terlestarikan dari awal tahun hingga ke penghujung. Maka input pengetahuan tentang materi dan perkuliahan sangatlah minim, pengenalan kepada guru-guruku di kuliah pun sangat sedikit. Mengikut talaqqi dan pelajaran tambahan di pun jarang, walaupun tidak sampai tidak sama sekali.

Kuharap adik-adikku tidak jadi seperti itu. Mereka mesti rajin dan bersemangat untuk mewujudkan semua pengharapan mereka yang sudah kuat tertancap. Bagiku, semua ini sama sekali bukan untuk kusesali, tetapi perlu kuingat selalu agar di hati tumbuh kesadaran bahwa diri ini sudah sangat terlambat dan tertinggal. Aku harus berusaha untuk mengejar keterlambatan dan ketertinggalan ini. Aku ingin katakan pada jiwa bahwa dia harus berpacu terus dan terus. Kukatakan padanya selalu dan selalu: bahwa pemberhentian itu bukan di sini. Bahwa istirahat itu tidak di sini. Tapi di sana, di puncak obsesi kemuliaan kita.

Kalaupun najah, aku merasa semua kenajahan ini lebih berkat doa-doa kawan-kawan dan orang-orang yang berada di dekat aku, terutama Umi dan Aba. Kedua orang tercinta itu tak henti-hentinya memberi semangat dalam perjuangan menempuh pendidikan dan memanjatkan selaksa doa di keheningan malam. Begitu selalu setiap waktu. Dan aku pun sangat berharap kepada doa-doa itu. Sebab bila hanya mengandalkan usaha dan kecerdasan, aku tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Masih terlalu banyak kekurangan, keaalpaan dan kelalaianku. Juga betapa banyak orang yang cerdas namun jalan studinya tak sebanding dengan keenceran otaknya. Maka selalu yang kupinta kepada orang tuaku, guru-guruku dan kawan-kawan adalah: tolong doakan aku. Siapa tahu diantara diantara sekian pinta itu ada mustika doa yang mampu mengetuk pintu langit dan menarik perhatian Allah untuk mengabulkannya.

Aku juga berharap dari doa-doa malaikat. Caranya adalah dengan mendoakan orang lain, dan pada saat itu malaikat akan menjawab "wa laka bimitslihi". Seperti Bang Hikmatullah, setiap mau ujian dia selalu mendoakan kenajahan untuk semua kawan yang ia kenal. Semuanya. Dan barangkali itu juga yang menjadi salah satu rahasia kenajahan beliau di Al-Azhar dengan hasil yang memuaskan setiap tahun. Sekarang abang ini sedang menulis tesis di Fakultas Bahasa Arab. Tak pernah ia kenal rasib sepanjang sejarah pendidikannya.

Di tahun kedua kuliah, tahun 2004, alhamdulillah aku berkesempatan untuk melaksanakan umrah di Bulan Ramadhan 1425 H. Riuh rendah keharuan begitu memuncak di dada saat menginjakkan kaki di tanah suci. Menara Mesjidil Haram kelihatan demikian megah dan perkasa. Bersinar menebarkan kegemilangan. Suara Syekh Sudais dan Syuraim begitu merdunya, menggetarkan dinding hati yang dalam. Demi Allah, hari-hari iktikaf di Mesjidil Haram saat Ramadhan adalah saat terindah dalam hidupku yang suka aku kenangkan dan selalu kurindukan. Demikian juga saat di Raudhah, dekat makam junjungan Rasulullah, di Mesjid Nabawi di Madinah. Barangkali diantara sekian kawan yang umrah pada saat itu, ada dua orang kawan yang tak kan pernah kulupa. Mereka berdua itu adalah M. Hidayatulloh dari Malang, Jawa Timur dan M. Izzul Islam asal Gorontalo, yang saat ini hampir selesai studinya di Universitas Islam Madinah. Aku juga tak kan pernah melupakan jasa Ust. Sudarman Larama yang mau menampung kami bertiga di rumah beliau di Madinah. Bukan hanya memberi tempat tidur yang empuk, tapi juga memberikan kami makanan yang enak, menemani kami bercerita dan mengajak kami jalan-jalan ke tempat bersejarah bersama para tamu dari Indonesia. Ust. Sudarman ini berasal dari Sulawesi Tengah dan istrinya berasal dari Gorontalo. Kedua beliau ini adalah kawan Aba dan Umiku saat di Aliyah dulu.

Di tahun berikutnya, tahun 2005, alhamdulillah aku kembali bisa mengunjungi tanah suci Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji, musim haji 1426H. Untuk melaksanakan haji ini aku harus nekat. Sebab saat itu masih ujian termin kedua tingkat ketiga. Transportasi laut sudah tidak ada lagi. Penerbangan ke Saudi mau ditutup. Aku minta berangkat setelah ujian rampung semuanya. Namun tidak ada lagi sit kosong. Aku harus mengambil keputusan berani, harus meninggalkan dua mata ujian. Inilah pilihan hidup yang mesti aku putuskan. Artinya, kalau dalam maddah sebelumnya ada satu saja yang tidak najah, maka rasiblah aku dan tinggal kelas di tingkat tiga. Dan aku pun terbang tanggal 2 Januari 2004 dengan armada udara Mesir menuju bandara Jeddah, meniggalkan kawan-kawan yang sedang ujian. Labbaikallahumma labbaik..labbaika la syarika laka labbaik...

Sebenarnya selain menemui Allah di rumah-Nya, ada agenda besar lainnya yang ingin aku laksanakan. Agenda itu adalah menemui Umiku yang haji tahun itu juga. Maka alangkah suka citanya hatiku saat itu. Sejak di bandara mathar qadim, tak tahan aku menahan luapan bahagia. Aku suka senyum-senyum sendiri bila membayangkan pelaksanaan ibadah haji nanti dan saat-saat bertemu dengan Umiku yang sudah aku tinggalkan sejak tiga tahun yang lalu. Apakah beliau masih secantik dulu? :-). Dan dua saat indah itu pula, tibalah. Layar bahagia terkembang di langit Mekah. Tak terasa lagi teriknya matahari yang menyengat saat Umi memelukku dengan tiba-tiba di depan Bab As-Salam, salah satu pintu di Mesjidil Haram, seusai shalat dhuhur. Itu terjadi beberapa hari setelah selesai melaksanakan thawaf qudum. Aku menjalani haji ini dengan berusaha memaksimalkan ibadah kepada Allah dan menyempurnakan bakti kepada Umiku. Besar harapan hati, mudah-mudahan Allah berkenan menerima.

Itulah salah satu pernik yang pernah kualami dalam masa pendidikan di negeri para nabi ini.

*****

Terkait dengan organisasi, aku suka bercabang kemana-mana. Sebab aku ingin banyak ilmu, banyak pengalaman dan banyak kawan. Aku ingat pesan Aba: “Nak, perbanyak kawan dimana pun engkau berada. Sebab semakin banyak kawan, hidup akan semakin mudah.” Abaku juga pernah bilang: “Organisasi itu membuat orang siap pakai." Seorang yang biasa berorganisasi akan segera tau apa yang harus dia lakukan ketika berada di tengah masyarakat. Selain itu, karena abang-abang dan kawan-kawan yang berada di sekitarku adalah para aktifis organasasi. Hebatnya lagi, di semua organisasi itu mereka menjadi petinggi dan penentu keputusan. Kalau bukan ketua, jadi wakil atau sekretaris. Atau jadi di divisi kajian, pimred dan kaderisasi. Sebutlah diantara mereka adalah Bang Nidlol dan Bang Abu Dzar.

Aku jadi termotivasi. Aku sempat aktif di Forum Diskusi kekeluargaan KKS, di almamater HIKMAT, di organisasi angkatan Revival El-Mahbub, di Forum Telaah Literatur (FTL) ICMI, di Badan Waqaf dan Amal Kesejahteraan Mahasiswa (BWAKM), di kajian spiritual ABDIKA, di Majelis Ilmu Kalam (MASIKA) ICMI, Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK), dan Studi Informasi Alam Islami (SINAI). Aku juga aktif menjadi redaksi di beberapa buletin yang ada, ditambah jadi anggota di beberapa kepanitiaan kegiatan mahasiswa. Capek juga aktif di organisasi-organisasi itu. Tapi bahagia. Sebab bukan hanya capek yang didapatkan, ada ilmu, pengalaman, wawasan, kawan, kenalan dan banyak manfaat lainnya. Hingga saat ini ada tiga yang paling aktif yaitu di SINAI, ICMI dan PMIK.

Di Kampus Kehidupan; Sinai

Diantara sekian organisasi itu, aku harus mengakui bahwa Sinai telah memberikan banyak hal yang berarti bagiku. Engkau kenal Sinai, kawan? Studi Informasi Alam Islami, atau disingkat Sinai adalah sebuah lembaga kajian yang didirikan oleh mahasiswa Indonesia di Mesir di hari pahlawan tahun 1994. Kepedulian terhadap kemanusiaan yang membuat organisasi ini lahir dan merentas dunia luas. Analisa Informasi, itulah misi yang merekat anggota Sinai dalam bergerak dan berdinamika. Aktualitas dan objektivitas senantiasa mereka usung dalam setiap karya. Bagi mereka, menguak fakta sejarah yang tersembunyi, mengolah peristiwa menjadi berita, dan menganalisa data menjadi warta adalah kewajiban setiap muslim. Mereka senantiasa menggores pena lantangkan kebenaran suarakan informasi umat islam. Ada secercah harapan, semoga goresan pena itu dapat menerbitkan asa dan menghapuskan air mata, melahirkan suka dan membabat duka di tubuh umat ini, sambil terus menanti fajar-Nya lahir kembali dan tersenyum melihat kebangkitan umat Islam.

Di sini menjadi pusat studi dan kajian strategis negara-negara di dunia untuk kalangan Masisir. Paling tidak ada lima macam kajian yang ada di sana yaitu kajian sejarah Islam, studi kawasan, kajian politik, kajian informasi dan kajian pemikiran Islam. Kegiatannya banyak, antara lain: diskusi pekanan dunia Islam, aksi solidaritas alam islami, penerbitan majalah, buletin dan buku, kontribusi analisa Dunia Islam di media nasional di tanah air dan up date pemberitaan dan tulisan di website. Aku sudah jatuh cinta sejak mengenalnya pertama kali tahun 2004.

Namun dibanding profil organisasinya, aku lebih tertarik lagi kepada orang-orang yang menggerakannya; para kader, kru dan pengurusnya. Di sini aku bertemu banyak orang hebat, paling tidak menurutku. Tapi aku kira penilaian itu tidak salah, sebab mereka berprestasi di bidang akademik, banyak memberi kontribusi penulisan di media mahasiswa dan juga nasional, juga banyak berkiprah dalam lapisan ozon aktifitas mahasiswa. Di awal-awal keberadaanku di Sinai, aku senang datang ke markasnya. Selalu saja ada yang berbeda sebelum dan sesudah dari Sinai. Ada yang berbeda ketika datang dan pulang ke rumah, baik dari segi ilmu, wawasan, ataupun semangat.

Apalagi ketika rapat dan kajian. Orang-orang keren di luar yang suka jadi pembicara utama di forum-forum, penulis favorit di media mahasiswa dan ketua di organisasi yang ada, kini berkumpul di satu majlis, bercerita, bercanda, dan tertawa bebas dan lepas. Di sini semua sama. Mau membanggakan apa? Di sini semua ketua, di sini semua penulis terbaik, di sini semua aktifis dan paling penting semua adalah orang terpelajar. Nyaman rasanya berada di dekat abang-abangku di Sinai itu. Kawan-kawan yang ada juga adalah sahabat yang membanggakan. Aku merasa kecil sendiri diantara mereka, disamping memang aku yang terkecil usianya dalam angkatanku.

Semoga engkau tidak menganggapku ta'ashub kawan. Aku hanya ingin bercerita apa adanya dan mengungkapkan apa yang aku rasakan.

Aku banyak sekali bercermin kepada kawan-kawanku di Sinai ini. Dari kepribadian dan akhlak mereka aku menjadi tau bahwa ternyata banyak kekhilafan dalam diri ini yang sudah menjadi kebiasaan. Abang-abangku di Sinai mempunyai Izzah yang begitu tinggi. Sekedar melihat mereka saja, ada sebuah makna lain yang menjalar ke dalam jiwa. Sebutlah diantara mereka itu adalah Bang Tono, Bang Iswan, Bang Salman, Bang Hikmat, Bang Adin, Bang Aji, Bang Abu Zar, Bang Nidlol dan Bang Irsyad Azizi.

Di awal masuk, banyak pengharapan yang aku tumpukan ke Sinai. Maka kekecewaan kadang muncul karena ternyata banyak harapan yang tidak terkabul. Tapi terus terang, aku mendapatkan lebih banyak dari daripada yang tidak kudapatkan. Aku baru sadar, bahwa Sinai bukanlah tempat untuk mengharap terlalu banyak, namun di sini adalah tempat berkarya dan mempersembahkan amal kepada umat. Yang paling penting adalah kebahagiaan. Sungguh bila engkau merasakan bagaimana besarnya kebahagiaan yang kurasakan ketika berada di tengah kawan-kawan Sinai, engkau akan membelinya dengan harga mahal.

Maka segala tugas, semua tanggungjawab, semua amanah tidak lagi menjadi sebuah beban yang harus ditunaikan, tapi menjadi fase-fase untuk melangkah kepada kebahagiaan selanjutnya. Seperti kata Edison, seorang penemu produktif, ketika ia ditanya, “Apakah anda tidak merasa lelah melakukan percobaan rumit ini berkali-kali?”. “Apakah Anda menyangka aku ini sedang bekerja?” tanya Edison. “Tidak! Aku bahkan sedang melakukan kenikmatan demi kenikmatan” tegasnya.

Di Sinai pun begitu. Tak ada susah dan lelah. Suasana rapat para aktifis itu menjadi saat berkumpul yang indah. Rapatnya serius, namun dipenuhi dengan canda dan tawa. Hasilnya pun memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan. Gojlok-gojlokan, saling iseng disusul oleh tawa lepas kayak anak-anak menjadi pelekat hubungan menjadi semakin akrab. Di sini abang-abangku yang keren itu diperlakukan dengan apa adanya. Tapi ada saatnya pula mereka menitikkan air mata. Mereka bukan orang yang suka lupa diri. Mereka pandai menempatkan diri dimana mereka berada. Engkau bisa melihat wajah mereka merah dengan mendung menggantung di peluk mata dalam sebuah suasana hening, saat mereka bermuhasabah diri atau di tengah pekatnya malam, usai melaksanakan shalat tahajjud.

Itu tentang abang-abangku. Kawan-kawan seangkatanku juga tidak kalah membanggakan. Mungkin engkau mengenal mereka, sebab mereka adalah orang yang aktif dalam kegiataan mahasiswa. Mereka adalah Ardiansyah, Hendri Susanto, M. Syarief, Khairul Ashdiq, Jamaludin Junaid, Budi Indrawan, Kukuh Sulisman dan Ali Bata. Diantara mereka banyak juga yang sudah balik ke Indonesia. Demikian pula dengan adik-adik angkatanku setelah itu. Ah, nikmatnya dikelilingi kawan yang baik dan shaleh. Aku bisa menambah wawasan nusantara dengan berkenalan dan bergaul dengan kawan-kawan dari segenap penjuru negeri di Indonesia. Kami bisa bertukar budaya dan bahasa, mengenal karakter dan kebiasaan juga bertukar resep makanan, walaupun bumbu dan bahannya itu-itu saja.

Manusia Langka dan Lelaki Akhirat
Selama di Mesir, aku sudah melewati generasi tiga direktur. Setiap kawanku di Sinai mempunyai corak karakter berbeda dan istimewa. Banyak yang serba bisa, tapi tetap saja ada yang menonjol darinya, yang menjadi ciri khasnya. Mereka senantiasa membagikan pengetahuan, rasa persahabatan dan juga ketulusan. Ingin aku bercerita kepadamu, kawan, tentang mereka satu persatu seperti yang kukenal. Hanya saja itu memakan waktu yang terlalu lama. Waktumu bisa habis di sini, dan waktuku juga. Daripada tidak sama sekali, baiklah aku ceritakan kepadamu tentang dua kawan terbaik yang pernah kutemui. Mereka adalah manusia langka dan lelaki akhirat. Tak perlu kusebut nama mereka ya, sebab mereka juga tidak ingin dibangga-banggakan seperti ini. Kedua mereka berasal dari Jawa Timur.

Mereka berdua adalah guruku. Mereka sudah menjalankan fungsi lebih dari teman. Makanya aku agak canggung menganggap mereka 'sekedar' sebagai teman, kawan atau pun sahabat walaupun usia mereka tidak terpaut jauh dariku. Hanya dua tahun. Tapi mereka sungguh lebih dewasa dari usia sebenarnya (cuma belum nikah saja). Aku banyak belajar dari keseharian mereka yang bersahaja, penuh produktifitas, gesit, lincah, cekatan, profesional, dan bersahabat.

Keinginan untuk berbagi dan memberi, dan kemauan untuk mendengarkan dan memberi solusi membuat mereka dicintai dan selalu dinanti. Manusia Langka dan Lelaki Akhirat benar benar telah memberiku banyak pelajaran kehidupan. Mereka mempunyai tempat istimewa di hatiku.

Lelaki Akhirat
Julukan ini bukan tidak beralasan. Barangkali ia mendapatkan sebutan ‘Lelaki Akhirat’ ini karena pribadinya yang ringan tangan dan senang membantu orang lain, kapan pun dimana pun. Selagi ia bisa ia akan senantiasa siap memberi bantuan. Istimewanya, ia tidak hanya sekedar bisa. Ia punya banyak keahlian, terutama dalam bidang perkomputeran. Dan ciri kerjanya sudah dikenal; prefesional (walaupun tak dibayar), tuntas dan memuaskan.

Darinya aku belajar kelembutan. Ia memang selalu bisa menjaga perasaan orang lain. Bicaranya lembut. Gerak geriknya juga. Ia terlihat selalu hati-hati dalam segala hal. Katanya itu adalah bagian dari nasihat ibunya.

Selain itu, tak pernah terlihat ada mendung di wajahnya. Selalu saja ia ceria dengan senyum khasnya. Ia punya banyak kawan. Ia selalu bisa menempatkan diri dan menjaga sikap serta ucapan. Semua kawannya itu merasa akrab dan sungkan kepada dirinya. Hal ini barangkali disebakan oleh sikapnya yang dewasa dalam menyikapi berbagai keadaan yang ada. Kepercayaan diri yang melekat begitu kuat membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja. Ia adalah tipe orang yang mau mendengarkan orang lain dan berusaha memberi solusi yang terbaik yang ia punya.

Ia selalu bersemangat dengan langkah pasti menyelesaikan segudang tugas dan amanah serta permohonan tolong yang diberikan kepadanya. Dalam banyak kesempatan, seringkali ia membatalkan kegiatan yang sudah ia rencanakan sebelumnya untuk memenuhi permintaan orang. Hidupnya untuk orang banyak. Entah kapan waktu khusus untuk dirinya sendiri.

Namun sepertinya dia mempunyai pilihan waktu yang lain. Kesempatan untuk bersenandung munajat di tengah malam dan khusyu berdoa dalam setiap shalat menjadi pilihan terbaiknya. Dalam dua waktu itu aku biasa melihatnya duduk khusyu bersimpuh penuh seluruh.

Begitulah kesehariannya sebagaimana yang aku lihat. Semoga kubisa mengambil manfaat lebih banyak lagi.

Manusia Langka
Si Manusia langka, begitu kawan lainnya menggelari beliau, memang mempunyai banyak kemampuan lebih dari yang lain. Orang sepertinya memang langka. Potensi-potensi umat yang berserakan bisa dikumpulkan dengan baik dalam dirinya.

Dalam hal kecerdasan, sebelumnya aku belum dapat memahami bagaimana sih orang yang jenius itu, sampai aku berkesempatan untuk bertemu dengannya. Kini aku paham, rupanya inilah gambaran nyata orang cerdas dan jenius itu. Dan hal ini diakui oleh teman teman lainnya. Saat baca buku ia seakan bisa langsung menguasai dengan baik dengan sekali baca. Ia pun seakan akan sudah membaca dan menguasai banyak buku dengan paripurna. Analisa, ocehan-ocehan ringan, ide dan masukannya yang brilian bahkan candanya menjadi bukti akan hal itu dan selalu menjadi bahan pertimbangan dan perenungan.

Dalam akitifitas organisasi, entah sudah berapa organisasi yang ia ikuti. Ia begitu akrab dengan berbagai aktivitas kajian yang ada di Mesir dan tentunya mempunyai banyak kawan yang ingin turut mendapatkan manfaat darinya. Tidak sekedar ikut, tapi menjadi orang terbaik di organisasi itu, baik dari keikutsertaan, keaktifan maupun kontribusi. Hampir di semua organisasi yang ia ikuti, ia menjadi ketua disana. Kalau bukan ketua, ya penasehat atau masuk dalam majlis pertimbangan.

Di bidang tulis menulis, juga tidak diragukan. Bahasanya lincah dan mengalir, tulisannya pun berbobot. Hanya saja sampai saat ini belum menghasilkan sebuah buku. Tulisannya masih banyak berserakan dimana mana. Kalau dikumpulkan, tentu bisa diambil manfaatnya lebih luas. Selain di buletin buletin Masisir, tulisannya banyak tersebar di milis Evolusi, Insisnet dan Interdisiplin. Itu yang aku ketahui. Yang tidak kuketahui mungkin lebih banyak lagi.

Di bidang komputer dan internet..? Dia serba bisa. Dia menguasai banyak sekali program aplikasi, terutama yang berkaitan dengan tulis menulis dan desain gambar. Dia sudah melanglang buana di internet. Saat acara PKS Expo dia mendapat anugerah sebagai tokoh masisir di dunia maya.

Namun lebih dari itu semua, yang paling aku teladani darinya ialah semangat keberislamannya yang tinggi. Ia punya konsep hidup yang jelas. Ia juga punya semangat belajar dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Ia punya keinginan untuk selalu membagi dan berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain. Semangatnya tak pernah surut, keceriaan dalam dirinya selalu hadir, senyumnya selalu mengembang. Ia juga suka menyebar virus semangat ini dan selalu mendorong orang lain untuk mempersembahkan yang terbaik.

*****

Kawan, ternyata sudah banyak yang episode kehidupan yang telah aku lalui hingga Idul Fitri ke tujuh ini. Tidak terasa, ternyata aku sudah meninggalkan rumah terlalu lama. Sudah tujuh kali Idul Fitri, sejak 1424-1430 ini, aku tidak mencium tangan kedua orang tua dalam sebuah suasana syahdu. Dan baru di Idul Fitri yang ketujuh ini aku bisa bertemu dengan adik-adikku dari Ternate dan sekitarnya itu, yang suka memintaku bercerita dan mengisahkan perjalanan hidup.

Demikianlah hidup ini telah memberikan pelajaran yang berarti bagiku. Pengalaman-pengalaman yang ada membentuk gugusan gagasan dan menambah keindahan seni arsitektur kehidupan sehingga menjadi lebih bernilai. Aku masih belum puas. Ada banyak cita-cita yang masih ingin kuwujudkan dan harapan yang ingin kupenuhi. Semoga hari-hari ini bisa menjadi lebih baik dan bernilai ibadah di sisi Allah. Doakan aku ya.. Aku juga akan selalu mendoakanmu. Kullu sanah wa anta illahi aqrab.

Dari Catatan Harian Pejuang: Umarulfaruq Abubakar, 1430 H / 2009 M

Thursday, June 7, 2012

Biografi KH. Muhammad Abubakar, Guru Besar Alkhairaat Tilamuta, Gorontalo


Kenalkan, Ini Aba Saya
(Oleh: Abdurrahman Abubakar, dalam buku: Ada Cinta di Mata Aba, In Memeoriam KH. Muhammad Abubakar)

Tepat tanggal 8 Februari 1957, di Desa Bunuyo Kec. Bumbulan, lahirlah putra pertama dari pasangan Igris Abubakar dan Syarifah Jaini yang diberi nama Muhammad. Ketika anak kecil ini berusia tujuh tahun, ayahnya kembali berpulang ke hadirat Ilahi. Sejak saat itu sang anak tumbuh sebagai anak yatim menemani ibu dan seorang saudara laki-lakinya, yang biasa kami panggil dengan nama Ami Ale. Dari usia yang sangat dini, sebagai saudara tertua, dia merasa bertanggungjawab untuk menggantikan posisi ayahnya menghidupi ibu dan adiknya. Ia bukan dari keluarga kaya, jadi harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Masa Kecil
Sejak kelas 4 SD ia sudah mulai bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ia seringkali harus tidur di kebun untuk menjaga jangan sampai ada hewan masuk merusak tanaman. Sejak kecil ia sudah biasa hidup mandiri. Di kalangan kawan-kawannya, ia dikenal sebagai seorang yang ulet, terampil dan pekerja keras. Kawan-kawannya sering memuji hasil kerjanya dengan mengatakan “te Tuu uwito wanu mokaraja beresi daa” atau “wanu masalah mobala te Tuu ta jago liyo.”

Tekanan kehidupan yang sangat miskin itu tidak pernah membuatnya meminta-minta kepada orang lain, dalam keadaan apapun. Ia sangat menjaga diri dan melarang keras anak-anaknya untuk melakukan hal itu (minta-minta).
Kerja keras yang ia lakukan tidak sampai membuatnya kehilangan kebahagiaan masa kecil. Permainan yang paling ia sukai adalah main alanggaya (layang-layang) dan pa’i (gasing). Ia selalu unggul dalam dua jenis permainan ini. Kesibukan di kebun tak membuatnya lupa dengan sekolahnya. Ia tetap menjadi siswa yang berprestasi dalam masa-masa di sekolah itu.

Masa Remaja
Setelah lulus SD, ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia memberanikan diri menuturkan hal ini kepada ibunya. Niat mulia ini beroleh tanggapan yang luar biasa dari sang ibu. Ibunya hanya mampu menjawab dengan linangan air mata, sambil berujar Hiyambola bopotaliyala bo’o diya’a uty“ (Untuk beli baju saja tidak ada Nak, bagaimana mau sekolah?)

Sebagai seorang anak berbakti, ia paham akan arti tangisan itu. Ia mengerti bahwa ibunya ingin ia tetap sekolah tapi tidak mampu untuk membiayayinya. Seusai mendengar kata-kata itu, tanpa banyak bicara, ia langsung ke dapur mengambil parang dan pacul. Ia menuju kebun melanjutkan profesi sebagai seorang petani. Selain bertani, ia mendalami satu keterampilan lainnya yaitu membuat batu bata merah (batu tela).

Walaupun hidup bergelut dalam dunia penuh kerja keras ini, dalam hatinya masih ada perasaan cinta ilmu. Ia suka menghadiri ceramah-ceramah agama yang diadakan di kampung . Tak jarang ia menempuh jarak 10 km pulang pergi, dari Bunuyo ke Soginti, untuk menghadiri ceramah-ceramah itu. Perjalanan sejauh ini baginya sudah biasa. Sebab sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD ia sudah menempuh perjalanan ke sekolah yang berjarak delapan kilometer dari rumah dengan menggunakan sandal atau tanpa alas kaki sama sekali.

Ia juga banyak belajar dari Pak Ki’o, guru agama yang ada di Desa Bumbulan saat itu. Ia belajar Nahwu, Sharaf, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ia juga belajar memahami isi Al-Qur’an yang diajarkan oleh Pak Ki’o. Semua pelajaran ini menggunakan Bahasa Gorontalo. Pelajaran menerjemah Al-Quran bisa diselesaikan hingga juz delapan belas. Ia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar saat itu. Ia cuma paham dua bahasa yang ada di dunia, yaitu Bahasa Gorontalo dan sedikit-sedikit Bahasa Arab.

Selain belajar, ia juga mengajar anak-anak kampung mengaji. Dari mengajarkan mereka huruf hijaiyah, a ba ta tsa, sampai benar-benar bisa mengaji dengan baik. Kegiatan mengajar mengaji, belajar Nahwu-Sharaf, membuat batu bata, menemani ibu di rumah, dan bekerja menjaga tanaman di kebun menjadi kombinasi tertata dari sebuah siklus kehidupan anak manusia. Di dalam gelapnya Bumbulan saat itu, di pelosok desa yang belum terjangkau listrik, di tengah kesunyian suasana kampung yang masih menghijau, ia mengukir kisah hidupnya.

Kembali Sekolah
Enam tahun putus sekolah—dari usia 12 tahun sampai usia 18 tahun—tidak membuat semangatnya untuk menuntut ilmu menjadi luntur. Peristiwa di hari itu telah memberinya seberkas cahaya terang yang menyinari hidupnya. Saat ia belajar pada Pak Ki’o, datang Hal Umar Al-Amri, menemui Pak Ki’o. Saat itu Hal Umar sedang mengajar di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Hal Umar mengatakan akan membawanya untuk belajar di Tilamuta. Mulanya ibunya tidak mengizinkan karena tidak ada lagi yang akan membantunya dalam bekerja mencari nafkah. Namun Allah membukakan hati sang ibu untuk berbesar hati dan mengizinkan anak tercinta pergi belajar.

Di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta ia masuk Madrasah Ibtidaiyah. Tapi tak lama, hanya empat bulan. Setelah itu langsung naik ke kelas I Tsanawiyah. Tidak lama berselang, ia dipindahkan ke Madrasah Tsanawiyah Al Huda Kota Gorontalo dan langsung dimasukkan ke kelas II MTs. Tidak lama di kelas II, ia langsung dipindahkan ke kelas III MTs dan akhirnya lulus pada tahun itu juga dengan nilai yang sangat memuaskan.

Melihat prestasi gemilang yang ia tunjukkan, maka guru-guru di Madrasah Al Huda saat itu mengirimnya ke Madrasah Aliyah Alkhairaat Pusat Palu. Hanya sebentar saja berada di kelas I, ia langsung diloncatkan ke kelas III Madrasah Aliyah dan ikut ujian pada tahun itu. Walaupun statusnya sebagai santri baru, ia bisa melalui ujian akhir kelas III dengan baik dan lulus dengan nilai terbaik.

Di kota Palu, ia tidak hanya mengikuti pelajaran formal saja. Ia rajin berkunjung ke rumah Habib Saqqaf Aljufri, Habib Abdillah, Ust. Mahfudh Godal, KH. Rustam Arsyad, dan banyak guru-guru senior Al Khairaat murid dari Guru Tua, Habib Idrus bin Salim Aljufri, untuk talaqqi dan qira’ah, baca kitab secara langsung di hadapan mereka. Kemampuannya dalam Nahwu meningkat pesat dibanding kawan-kawannya yang lain. Akibat dari suhbatul ustadz ini juga, akhirnya ia sering diajak oleh Habib Saqqaf ketika ada perjalanan keluar kota.

Setelah lulus Madrasah Aliyah, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan ke Mesir. Namun karena persoalan biaya dan belum mendapatkan izin dari Ketua Utama Alkhairaat, HS Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri, keinginan mulia itu belum bisa terwujud. Ia tidak berkata apa apa. Dalam hati ia hanya berdoa agar kelak ada keturunannya yang bisa melanjutkan cita-citanya melanjutkan pendidikan ke Mesir. Doanya terkabul. Tiga orang anaknya akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Kota Seribu Menara, Kairo-Mesir.

Pengabdian
Setelah tidak mendapat izin dari Habib Saqqaf, ia kembali ke pekerjaan semula, yaitu mengabdikan diri di Alkhairaat untuk mengajar. Jiwa kealkhairaatan sudah mendarah daging dalam dirinya. Kepada anak-anaknya ia pernah berwasiat “Di manapun kamu berada, Nak, jangan pernah lupakan Alkhairaat. Kamu harus menghidupkan Alkhairaat dan bukan mencari kehidupan di Alkhairaat!

Pernah sekali waktu ada pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia ingin ikut masuk dalam pengangkatan itu. Tapi setelah berkonsultasi ke Habib Saqqaf Aljufri, ternyata Beliau belum mengizinkan. “Muhammad Ente tidak usah jadi pegawai negeri!” kata Habib. Karena Habib sudah bertitah, akhirnya setelah itu ia tidak pernah lagi ikut pengangkatan dan tetap dalam profesinya sebagai guru. Jiwa keta’atan dan kepatuhan kepada guru inilah salah satu yang —barangkali—membuat hidupnya menjadi lebih berkah.

Pindah ke Tilamuta
Tahun 1984 Hal Umar datang ke Palu untuk meminta guru, karena pada waktu itu Tilamuta kekurangan tenaga pengajar. Ia pun terpilih untuk diutus ke Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta.

Mulanya ia agak berat meninggalkan kota Palu. Sebab itu berarti ia akan berada jauh dari guru-gurunya. Ia pun sudah bisa beradaptasi dengan masyarakat di sana. Apalagi ketika itu Tilamuta masih sebuah kecamatan yang terpencil. Akhirnya, ia dipanggil oleh salah seorang gurunya yang bernama Ust. Muhammad Lationo (mantan Sekjen Alkhairaat), menyemangatinya untuk kembali pulang ke kampung halaman. Ust. Muhammad Lationo sendiri yang mengantarnya ke Tilamuta, melalui perjalanan darat yang sangat melelahkan.

Satu hal yang paling disyukurinya ketika berada di Tilamuta adalah ia bisa kembali berkebun. Tilamuta masih sangat rimbun dan menghijau. Ia bisa kembali akrab dengan pisang, jagung, kelapa, dan berbagai tanaman lainnya. Sebab memang aslinya ia adalah seorang petani. Petani yang sempat sekolah. Ia juga aslinya adalah seorang pembuat batu bata dan tukang kayu. Tukang yang tidak punya alat dan perkakas.

Di usia yang sudah matang itu, 27 tahun, ia masih saja membujang. Hingga tibalah saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa, takdir Allah mengantarkan dirinya ke depan pintu gerbang kebahagiaan selanjutnya, Guru-gurunya menawarkannya menikah dengan seorang bidadari dari Marisa, dari Abdullah Bamu, seorang tokoh masyarakat yang ada di sana. Gadis itu bernama Sa’diyah. Ia terima tawaran itu dengan ucapan alhamdulillah karena ternyata orang yang ditawarkan itu adalah kakak kelasnya sewaktu di kota Palu, namun akhirnya menjadi adik kelas ketika ia loncat kelas. Satu hal lain yang ia syukuri sebab ternyata gadis itu adalah orang yang ia cintai jauh sebelumnya. Tahun 1984 menjadi tahun yang tak terlupa. Di tahun itu ia menamatkan bagian terakhir dari Bab Bujangan, untuk pindah ke bab selanjutnya dari buku kehidupannya.

Hadirnya sang istri adalah salah satu karunia yang terindah dalam hidupnya. Istri tercinta ini menjadi pendamping hidupnya yang sangat setia di saat suka maupun duka, sedih dan gembira. Seorang istri yang beriman dan senantiasa menjadi teman. Dalam setiap kesusahan, selalu jadi hiburan. Seorang istri yang shalehah, yang punya cinta sejati. Dan akan tetap setia dari hidup sampai mati. Bahkan sampai hidup lagi…. (petikan lagu Bang Rhoma Irama). Seorang istri yang sampai akhir menemaninya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang sampai hayat.

Dari pernikahan ini, ia menghasilkan tujuh orang keturunan. Dua diantaranya meninggal saat masih bayi yaitu Mutiah dan Idrus. Yang masih berumur panjang dan hidup hingga saat ini adalah Umarulfaruq, Luqmanul Hakim, Abdurrahman, Hamzatusysyahid, dan Fathimatuzzahra.

Sembilan tahun di Pondok Pesantren Alkhairaat Pusat Palu, dua puluh empat tahun mengajar aktif di Tilamuta, dan di tambah dua tahun mengajar di rumah, total tiga puluh lima tahun pengabdiannya di Alkhairaat, semoga tidaklah sia-sia. Ia banyak melahirkan murid dengan berbagai profesi, banyak mencetak kader-kader umat dan tokoh pendidikan. Ia tidak bosan-bosannya mengatakan pada anak-anaknya agar jangan pernah hidup kecuali menyerukan da’wah ilallah. Menyeru orang ke jalan kebaikan.

Da’wah Ilallah
Aktifitasnya bukan hanya guru saja, tapi juga sebagai da’i dan penceramah. Semua ini ia lakukan dengan sebuah keyakinan bahwa menyeru umat ke jalan Allah adalah sebuah kewajiban dan hanya dengan adanya da’wah ini Islam akan kembali kepada kejayaan. Semangat ini terus ia bawa di dalam dadanya hingga menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 14 Februari 2010 dalam usia 53 tahun. Ia dimakamkan di pekuburan keluarga yang berada tidak jauh dari rumah.

***

Sifat yang paling menonjol dari kehidupan Aba
Inilah beberapa sifat terpuji yang sempat saya lihat dalam kehidupan Aba, selama proses interaksi yang tak singkat. Semoga saya bisa meneladani aneka sifat terpuji ini.

Yakin kepada Allah
Dalam menjalani hidupnya saya melihat Aba sangat memperhatikan urusan akhiratnya. Itu karena adanya keyakinan bahwa urusan rezeki, kehidupan, dan kematian, semuanya sudah selesai sejak zaman azali. Tidak perlu risau dengan semua itu. Allah sudah menjamin hal-hal tersebut dengan sempurna.

Perasaan yakin ini membuat Aba selalu menyerahkan urusan kepada Allah, tanpa melalaikan usaha ikhtiar. Aba sangat menghindari segala amalan atau praktek yang mengganggu tauhid, seperti jampi-jampi, mantra-mantra, doa-doa peninggalan turun temurun yang tidak diketahui maknanya, ilmu kanuragan yang dibantu jin atau berbagai praktek sisa peninggalan animisme dan dinamisme yang ternyata masih kuat di kalangan sebagian masyarakat. Aba lebih memilih amalan-amalan yang ada landasannya Al-Qur’an dan Sunnah. Kami pun diajarkan untuk selalu minta bantuan Allah dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap urusan.

Cinta Ilmu
Aba sangat mencintai ilmu pengetahuan. Sejak mudanya, ia senang membaca, menghadiri majlis ilmu, dan membagi pengetahuan yang ia miliki. Saat sakit sudah semakin parah pun, Aba tidak berpisah dengan buku-bukunya. Di atas kepalanya, tergeletak bermacam-macam buku yang dilahapnya kapan ia suka. Kepada anak-anaknya ia berpesan agar jangan pernah bosan untuk belajar, karena hidup yang kita hadapi hari ini tidak akan sama dengan hidup yang akan datang.

Senang Berkebun
Awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ujung-ujungnya menjadi sebuah hobi dan kegemaran yang sangat ia nikmati. Sebuah kegemaran yang produktif. Sebab hasil kebun yang ada bisa untuk menjadi makanan di rumah, memenuhi beberapa kebutuhan dan juga bisa berbagi dengan para tetangga.

Kebunnya yang ada Tilamuta sangat mudah dikenali karena mempunyai ciri khas tersendiri. Bukan karena pakai pagar tembok yang kokoh atau pagar besi yang tinggi, tapi karena penataan kebun yang sangat bagus; mulai dari pagar, tanaman dan juga kebersihan.

Disiplin dan Bersih
Disiplin dan mencintai kebersihan, merupakan sifat yang sudah tertanam pada dirinya. Kedua sifat ini muncul sejak kecil, seperti penuturan dari beberapa teman masa kecilnya.

Setiap masuk kamar mandi, ia pasti meluangkan waktu untuk menggosok dinding kamar mandi dengan sikat kamar mandi yang sudah disiapkan. Ketika di rumah, persoalan kebersihan jadi persoalan utama. Ketika ke kebun, kebersihan kebun menjadi hal pertama yang paling diperhatikan. “Nak, kita itu harus peka terhadap kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman,” demikian di antara nasehatnya.

Teliti dan Terampil
Teliti dan terampil merupakan karakternya. Teliti memeriksa berkas, membaca sebuah tulisan, menandatangani surat, dalam mengambil keputusan dan hal-hal lainnya. Saya ingat ada seorang petugas dari Pemda yang harus beberapa kali bolak-balik rumah dan kantor karena ada saja koreksi yang diberikan pada khutbah Idul Fitri. Ketika itu khutbah Idul Fitri tersebut harus disetujui oleh beberapa pemuka agama, dan Aba belum mau tandatangan sebelum beberapa koreksiannya diperbaiki.

Ia juga teliti dalam menyampaikan materi pelajaran dan memilih ayat, hadits, atau dalil lain yang akan disampaikan. Ia teliti dan selalu terampil dalam bekerja sebab itulah kunci agar sebuah pekerjaan itu bisa selesai dengan hasil yang memuaskan.

Saat saya mempersiapkan berkas untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, saat itu Aba sedang terbaring lemah di atas ranjang. Terdengar suaranya yang sedikit parau, “Man, perhatikan baik baik jangan sampai ada yang terlupa!” Setelah berkas saya masukkan ke dalam amplop, ia bertanya lagi, “Sudah diperiksa dengan baik-baik, sayang?”
“Iya Aba sudah,” jawab saya.

Setelah semuanya beres, Aba kembali berkata “Coba Man tulis nama di satu kertas, terus direkatkan di amplop, supaya terlihat bagus!” Saya lakukan apa yang ia perintahkan. Tapi waktu itu saya merasa agak kesulitan, tampilannya jadi tidak bagus dan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ternyata Aba memperhatikan saya yang kesulitan melakukan hal itu. Aba bangkit dari tidurnya dan berkata, “Mana sayang, biar Aba saja yang kerjakan?” Subhanallah! Saya merasa takjub. Untuk pekerjaan sekecil itu, Aba mengerjakan dengan sabar, terampil dan itqan.

Memperhatikan barang-barang yang ada di rumah
Darimana dan kemana, itu pertanyaan yang selalu Aba lontarkan terkait barang-barang yang ada di rumah. Barang apapun yang ada rumah harus jelas keluar masuknya. Kalau ada barang yang tidak dikenal langsung bertanya, “Ini punya siapa? Kenapa ada di sini?” Jika kami mengetahui asal barang itu, ia tidak akan berkata apa apa lagi. Tapi jika kami tidak tahu, ia langsung bilang, “Keluarkan barang itu dari sini. Itu bukan punya kita!” Atau kalau seandainya itu milik sekolah ia akan mengatakan, “Segera kembalikan ke sekolah itu, Nak!” atau bertanya tentang barang milik orang lain, “Barang ini apakah sudah di pinjam dari tuannya?” dan masih banyak lagi pertanyaan proteksi lainnya. “Nak, apapun milik kalian, kalian harus tau darimana asalnya dan mau kemana kita gunakan!” demikian nasehatnya.

Sangat Menghormati Orang Lain
Setiap ketemu orang ia selalu tersenyum ramah. Ia sangat menghormati orang lain, baik kenal ataupun tidak. “Hormati orang lain. Jangan minder, tapi jangan pula sombong. Kalau ketemu orang baru, anggap saja ia kawan lama tak jumpa. Dengan begitu, kita bisa lebih cepat akrab!” pesan Aba.

Memuliakan Tamu
Aba senang sekali kalau ada orang yang datang berkunjung ke rumah. Sifatnya yang suka memuliakan tamu itu terlihat dalam kehidupannya sehari-hari. Aba juga senang membangun silaturahmi dengan siapa pun. Saat ia sakit, banyak orang yang datang menjenguk. Namun banyak orang yang datang menjenguk ketika itu merasa heran, sebab tidak ada satupun tanda-tanda ia sedang sakit. Ia selalu menanti kedatangan tamunya dengan senyum mengembang di bibir, meskipun menahan sakit dan derita yang sengaja tidak ia tampakkan.

Kepada kerabat dan handai tolan yang merawat dan mendoakannya selama sakit ia banyak berpesan agar disampaikan rasa terimakasihnya. Sebab masa-masa sakit tersebut adalah di antara fase terberat dalam hidupnya. Kehadiran kerabat di sekitar telah menguatkan dan menyemangatinya.

Diktat Mata Pelajaran Balaghah di Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta


المختصر فى علم البلاغة

تأليف: السيد سقاف بن محمد الجفرى

بسم الله الرحمن الرحيم

علم البيان
المبحث الأول: في تعريف علم البيان
معناه لغة الكشف الإيضاح والظهور واصطلاحا: علم يعرف به إيراد المعني الواحد في تراكيب مختلفة في وضوح الدلالة عليه.
 فالمعني الواحد "كالجود" مثلا يمكنك اذا كنت ملما بمسائل هذا الفن وأصوله وقواعده أن تؤديه بأساليب مختلفة في وضوح الدلالة. فتارة من طريق التشبيه فتقول "محمد كالبحر في الإفاضة" فتشبه محمدا بالبحر. وتارة من طريق الإستعارة فتقول "رأيت بحرا علي فرس". وتارة من طريق الكناية فتقول "محمد كثير الرماد" فإن كثرة الرماد تدل علي احراق الحطب الدالة علي كثرة الطبخ, وهذه تدل علي كثرة الأكلة وهذا دليل الجود. فكثرة الرماد كناية عن الجود.
فهذه التراكيب الثلاثة تؤدي معني واحدا هو الجود كما رأيت. وأول هذه التراكيب أوضح من الثاني في تأدية هذا المعني, والثاني أوضح من الثالث.
ومثل الجود الشجاعه. فتارة يعبر عنها من طريق التشبيه, فيقال: محمد كالأسد في الشجاعة. وتارة من طريق الإستعارة فيقال: رأيت أسدا يخطب القوم علي المنبر, وتارة من طريق الكناية فيقال: زارنا أبو الحرب, فإن أبوته لها كناية عن ملازمته إياها كما يلزم الأب ابنه. وهذا كناية عن شجاعته. وأوضح التراكيب دلالة علي هذا المعني هو الأول ويليه الثاني ثم الثالث.
المبحث الثاني: فى التشبيه
تعريفه: هو إلحاق أمر بأمر في معني مشترك بينهما بإحدي أدوات التشبية لفظا أوتقديرا لغرض.
ويسمي الأمر الأول "مشبها" والثاني "مشبها به" والمعني المشترك "وجه شبه" كالتشبيه في قولك "العلم كالنور في الهداية" "عليّ مثل الأسد في الإقدام" "هند شبه البدر في الإشراق" " كأن محمدا بحر في الإمداد".
ويصح حذف الأداة ووجه الشبه, فيقال في الأمثلة السابقة: العلم نور, وعليّ أسد, و محمد بحر, ويسمي تشبيها بليغا.
أركان التشبيه
أركانه أربعه: 1- المشبه     2- المشبه به     3- وجه الشبه      4- أداة التشبيه.
"فالعلم" في المثال المتقدم هو المشبه و"النور" هو المشبه به و"الهداية" وجه الشبه و"الكاف" أداة التشبية.
-       وفيه أربعة مباحث
(أ) مبحث الطرفين   (ب) مبحث وجه الشبه (جـ) مبحث الأداة (د) مبحث الأغراض
وإليك بيانها علي هذا الترتيب.
مبحث الطرفين
الطرفان هما المشبه والمشبه به كما في قولك: "هند كالبدر"
الطرفان هما هند وبدر. والأول مشبة والثاني مشبه به.  وللتشبيه باعتبار الطرفين تقسيمات ثلاث:
التقسيم الأول:
     ينقسم التشبية بهذا الإعتبار إلي أربعة أقسام:
-   أن يكون الطرفان حسيّين مدركين بإحدي الحواس الخمس. مثال ذلك: وجه هند كالبدر وشعرها كالليل, أسمع صوتا كتغريد الحمام, رائحته كرائحة المسك, لها شعر كالحرير, شراب كالحنظل.
-       أن يكون طرفاه عقليين أي مدركين بالعقل, الأمثلة: العلم كالحياة والجهل كالموت.
-       أن يكون المشبه عقليا والمشبه به حسيا, الأمثلة :العلم كالنور, حظ كالليل, رأي كفلق الصبح.
-       أن يكون المشبه حسيا والمشبه به عقليا, مثل: طبيب السوء كالموت.
التقسيم الثاني
فى تقسيم طرفي التشبيه باعتبار الأفراد والتركيب إلي أربعة أقسام:
1. مفردان "مطلقان" مثل: ضوءه كالشمس وخده كالورد, أو مقيدان مثل: الساعي بغير طائل كالراقم علي الماء, أو مختلفان مثل: ثغره كاللؤلؤ المنظوم, العينان الزرقاء كالسنان.
2. مركبان. مثل قول الشاعر:
كأن سهيلا والنجوم وراءه  #  صفوف صلاة قام فيها إمامها
يريد تشبيه سهيل والنجوم مصطفة وراءه بهيئة إمام قائم يصلي والناس خلفه صفوف متراصة. فالمشبه مركب من سهيل والنجوم وراءه, والمشبه به مركب كذلك من إمام قائم في محرابه ومن صفوف المصلين خلفه.
ومثله قول الشاعر:
وكأن إجرام النجوم لوامعا  #  درر نثرن علي بساط أزرق
3. أن يكون المشبه مفردا والمشبه به مركبا, مثل: كأنه علم في رأسه نار.
4. أن يكون المشبه مركبا والمشبه به مفردا, مثل:
لا تعجبوا من خاله في خده  #  كل الشقيق بنقطة سوداء
فالمشبه مركب من "الخال والخد" والمشبه به مفردا وهو الشقيق
التقسيم الثالث
ينقسم طرفا التشبيه باعتبار تعددهما أو تعدد أحدهما إلي أربعة أقسام:
ملفوف ومفروق وتسوية وجمع.
1. فالتشبيه الملفوف: أن يتعدد طرفاه ويجمع كل طرف مع مثله. مثاله: كالقمرين هند وبدر, ومثله قول الشاعر:
ليل وبدر وغصن  #  شعر ووجه وقد
خمر ودر وورد  #     ريق وثغر وخد
2. التشبيه المفروق: أن يتعدد طرفاه ويجمع كل طرف منهما مع صاحبه بأن يجمع كل مشبه مع مشبه به.
كقول الشاعر:
الخد ورد والصدغ غالية  #    والريق خمر والثغر كالدرر
3. تشبيه التسوية: أن يتعدد المشبه دون المشبه به.
كما في قول الشاعر:
صدغ الحبيب وحالي  #  كلاهما كالليالي
وثغره في صفاء  #    واد معي كاللآلي
4. تشبيه الجمع: ان يتعدد المشبه به دون المشبه.
كقول الشاعر:
ذات حسن لو استزادت من الحـ  #  سن لما أصابت مزيدا
فهي الشمس بهجة والقضيب اللد  #  ن قدا والريم طرفا وجيدا
مبحث وجه الشبه:
وجه الشبه: هو المعني الذي اشترك الطرفان فيه. كما تقول: محمد كأخيه في الكرم.
فوجه الشبه هو الكرم لأنه المعنى الذي اشترك فيه محمد وأخوه.
للتشبيه بإعتبار الوجه تقسيمات عدة:
التقسيم الاول:
ينقسم التشبيه بإعتبار الوجه إلي قسمين: تحقيقي وتخييلي.
فالتحقيقي: أن يكون وجه الشبه فيه قائما بالطرفين حقيقة, كما تقول: وجه هند كالبدر وشعر كالليل. فوجه الشبه بين الطرفين هو "الأشراق" في الأول, و"السواد" في الثاني, وكلا المعنيين قائم بالطرفين حقيقة.
والتخييلي: ألا يكون الوجه قائما بالطرفين أو بأحدهما الا تخيلا وهو أن يشبه الخيال بجعل غير المحقق محققا. كقول الشاعر:
يا من له شعر كحظي أسود  #  جسمي نحيل من فراقك أصفر
فوجه الشبه بين الشعر والحظ هو "السواد" وليس موجودا في المشبه به حقيقة بل تخيلا. لأن الحظ ليس من ذوات الألوان.
التقسيم الثاني:
ينقسم التشبيه بإعتبار الوجه إلي قسمين: تمثيل وغير تمثيل
تشبيه تمثيل: هو ما كان وجه الشبه فيه هيئة مركبة من عدة أمور.
مثل: والبدر في كبد السماء كدرهم  #  ملقي علي ديباجة زرقاء
تشبيه غير تمثيل: ما لم يكن الوجه فيه هيئة منتزعة من متعدد
مثل: وجهه كالبدر.
التقسيم الثالث:
تشبيه مفصل: ما صرح فيه بذكر وجه الشبه علي طريقته.
مثل: طبع فؤاد كالنسيم رقة أو في رقته  #     ويده كالبحر سخاء أو في سخائه
تشبيه مجمل: ما لم يصرح فيه بذكر وجه الشبه علي طريقته .
مثل: النحو في الكلام كالملح في الطعام.
ملاحظة:
قوله "على طريقته" هي أن يذكر الوجه مجرورا "بفي" أو منصوبا علي التمييز علي معني "في" وأحترز به عن نحو قولهم: يد فؤاد كالنهر تفيض. وجه هند كالبدر يضيء.
فليس ذلك من قبيل المفصل لعدم ذكر وجه الشبه على طريقته المذكورة.
التقسيم الرابع:
قريب مبتذل: ما ينتقل الذهن من المشبه إلي المشبه به من غير تأمل ولا نظر بسبب وضوح وجه الشبه فيهما كتشبيه الخد باالورد في الحمرة.
بعيد غريب: هو ما لا ينتقل فيه من المشبه إلي المشبه به بعد أعمال فكر ودقة نظر بسبب خفاء وجه الشبه فيهما. كقوله:
والشمس كالمرآة في كف الأشل.
مبحث الأداة:
الاداة لفظ يدل علي معني التشبيه, كالكاف. تقول: محمد كالبدر. فالكاف في قولك "كالبدر" اداة تشبيه لأنها دالة عليه. ومثل الكاف كل ما يفيد معني المشابهة. كلفظ "مثل وشبه" وكأسماء الفاعل المشتقة مما يفيد معني التشبيه كمماثل ومشابه ومضاه، تقول: هند مثل الغزال ومحمد شبه الغمام، وتقول: هي مماثلة الغزال وهو مشابه الغمام ومحاكي الغيث ومضاهي النجم بالإضافة في جميعهما.
والأصل في "الكاف" وما شاكلها من الاسماء المضافة لما بعدها أن يليها المشبه به لفظا في الأمثلة السابقة, أو تقديرا كقوله تعالي: "أو كصيب من السماء فيه ظلمات ورعد وبرق يجعلون أصابعهم في آذانهم" بعد قوله تعالي : "مثلهم كمثل الذي استوقد نارا" فالمشبه به في الآية قد ولي الكاف تقديرا. والأصل:" اوكمثل ذوي صيب" أما تقدير "ذوي" فلإن الضمائر الثلاثة في "يجعلون أصابعهم في آذانهم" للمنافقين وهم ليسوا مذكورين في الآية. فبقيت الضمائر بلا مرجع. ولابد لها منه كما هو الشأن فيها. وأما تقدير "مثل" فلا جل أن يشاكل المعطوف عليه وهو قوله: كمثل الذي استوقد نارا.
والاصل في "كأن" الدالة علي التشبيه ان يليها المشبه عكس الكاف وأخواتها.
تقول كأن عنترة أسد، فعنترة هو المشبه وقد ولي "كأن". ومثل "كأن" في هذا الحكم كل ما له معمولان من الأفعال والأوصاف المفيدة لمعني التشبيه, تقول ماثل أو يماثل خالد أسدا, وشابه أو يشابه علي حاتما، و حاكي أو يحاكي شوقي أبا الطيب. فالذى ولى الأفعال فى هذه الأمثلة هو المشبه, وتقول: خالد ماثل او يماثل الأسد، وعليّ شابه او يشابه حاتما، وشوقي حاكى أو يحاكى أبا الطيب، وتقول: خالد مماثل أسدا، وعليّ مشابه حاتما، وشوقي محاك او مضاه أبا الطيب. فالضمائر المستكنة في هذه الأفعال والأوصاف هي المشبهات وقد وليتها لأنها فواعل. والفاعل مرتبته بعد الفعل.
تقسيم التشبيه بإعتبار الأداة:
ينقسم التشبيه بهذا الإعتبار إلي قسمين: مرسل ومؤكد.
فالمرسل: ما ذكرت فيه الأداة لفظا أو تقديرا. مثال الأول قولك: سجعه كسجع الحمام. ومثال الثاني قولك: سجعه سجع الحمام، اذا قدرت في نفسك أنه على معني الكاف. وأن المشبه مثل المشبه به لا عينه.
والمؤكد: ما تركت فيه الأداة لفظا وتقديرا. أي ترك التصريح بها وتنوسي تقديرها في نظم الكلام أيضا اشعارا بان المشبه عين المشبه به مبالغة. مثل سجعه سجع الحمام.
ولو فرض تقدير الكاف في الكلام لكان تشبيها مرسلا.
في تعريف المجاز وأنواعه:
المجاز هو اللفظ المستعمل في غير ما وضع له لعلاقة مع قرينة مانعة من إرادة المعني الوضعي.
والعلاقة هي المناسبة بين المعني الحقيقى والمعني المجازي.
والقرينة هي الأمر الذي يجعله المتكلم دليلا علي أنه أراد باللفظ غير المعني الموضوع له.
تقسيم المجاز المفرد:
ينقسم المجاز المفرد باعتبار العلاقة إلي قسمين: استعارة ومجاز مرسل.
فإن كانت العلاقة بين المعنيين المشابهة سمي اللفظ "استعارة" كما في لفظ "الأسد" المستعار للجرئ في قولك "رأيت أسدا علي فرس" وان كانت العلاقة بينهما غير المشابهة سمي اللفظ مجازا مرسلا كما في لفظ " النبات" المستعمل في الماء "في قولك " أمطرت السماء نباتا"
1.    الإستعارة :
هي الكلمة المستعملة في غير المعني الذي وضعت له العلاقة المشابهة مع قرينة مانعة من إرادة المعي الموضوع له . كقولك :رأيت قمرا يتكلم.
أركان الإستعارة :
ثلاثة :
1.    مستعار منه ... وهو المشبه به .
2.    مستعار له .... وهو المشبه .
3.    مستعار .... وهو اللفظ المنقول .
ما لابد منه لتحقيق الإستعارة :
لابد لتحقيق الغستعارة من امور أربعة :
1.    أن يتناسي التشبيه .
2.    أن يدعي ان المشبه فرد من أفراد المشبه به.
3.    ألا يذكر وجه الشبه ولا اداته لفظا ولا تقديرا .
4.    ألا يجمع فيها بين الطرفين أصلا .
تقسيم الإستعارة بإعتبار أحد الطرفين :
تنقسم الإستعارة بهذا الإعتبار إلي قسمين : تصريحية – ومكنية .
فإن كان المذكور هو المشبه به دون المشبه سميت الإستعارة تصريحية . وإن كان العكس سميت مكنية .
الإستعارة التصريحية :
هي لفظ المشبه به المستعار للمشبه . كقولك : زارني بحر في منزلي .
وإجراؤها أن يقال : شبهنا الجواد بالبحر في الإمداد ثم تناسينا التشبيه وأدعينا أن المشبه فرد من أفراد المشبه به ثم استعرنا لفظ المشبه به وهو بحر للمشبه استعارة تصريحية . وسميت بذلك للتصريح فيها بلفظ الشبه به . كما في المثال المذكور .


قرينة الإستعارة التصريحية :
القرينة هي كما سبق . الأمر الذي يجعله المتكلم دليلا علي أنه اراد باللفظ غير معناه الأصلي : وهي لفظية وغير لفظية .
فاللفظية : لفظ يلائم المشبه يذكر في الكلام ليصرفه عن إرادة باللفظ غير معناه الاصلي.
مثال ذلك : كلمني بحر ، فبحر مستعار للرجل العالم أو الكريم . وقرينتها لفظ كلمني لأن البحر الحقيقي لا يتكلم .
وغير اللفظية : أمرخارج عن اللفظ يصرف الكلام عن إرادة  معناه الحقيقي كدلالة الحال أو إستحالة المعني .
فمثال ما قرينته حالية " أري قمرا " والسامع يري فتاة حسناء مقبلة " فالقمر مستعار للفتاة الجميلة وقرينتها دلالة الحال .
ومثال ما قرينته الإستحالة قوله تعالي : " إنا لما طغي الماء حملناكم في الجارية " شبه كثرة الماء كثرة جاوزت الحد بالطغيان بجامع تجاوز الحد في كل ثم استعير الطغيان للكثرة . والقرينة استحالة صدور الطغيان من الماء إذ هو من شأن الإنسان .
الإستعارة المكنية ::
هي لفظ المشبه به المستعار في النفس للمشبه والمحذوف المدلول عليه بذكر لازمة .
كقول الشاعر :
وإذا المنية انشبت أظفارها              الفيت كل تمية لا تنفع .
وأجراؤها : شبهت المنية بالأسد في إغتيال النفوس ثم استعير لفظ الاسد للمنية بعد تناسي التشبيه وإدعاء ان المشبه فرد من أفراد المشبه به ثم حذف المشبه به ودل عليه بذكر لازمة وهو "الأظفار" علي سبيل الإستعارة المكنية . وقرينتها لفظة "أظفار" .
قرينة المكنية :
هي اثبات لازم المشبه به المحذوف للمشبه المذكور كإثبات الأظفار للمنية في بيت الشاعر المتقدم ، فإن إثباتها لها قرينة علي أنها مشبهة بماله أظفار كالأسد ، وغن لفظ الأسد مستعار في النفس للمنية .
3. المجاز المرسل
هو الكلمة المستعملة في غيرالمعني الذي وضعت له لعلاقة غير المشابهة مع قرينة مانعة من إرادة المعني الموضوع له . كقولك : "رعت الإبل الغيث " ففي الغيث مجاز مرسل لأنه كلمة نقلت من معناها الأصلي وهو الماء إلي معني آخر هو النبات بقرينة " رعت " فإن الغيث لا يرعي. وليست العلاقة بين النبات والماء المشابهة . وإنما العلاقة بينهما هي : أن أحدهما سبب في الآخر ولا شك أن الغيث سبب في النبات وسمي مجازا مرسلا أنه أرسل أي أطلق عن التقييد بعلاقة واحدة وإن له علاقات سيأتي بيانها بعد.
من علاقات المجاز المرسل :
-   السببية : وذلك فيما أذا ذكر لفظ السبب وأريد منه المسبب نحو : رعت الماشية الغيث أي النبات . لأن الغيث أي المطر سبب فيها وقرينة لفظية "رعت" ونحو : لفلان عليّ يد تريد باليد النعمة لأنها سبب فيها.
-   المسببه : وذلك فيما إذا ذكر لفظ المسبب وأريد منه السبب . نحو : وينزل عليكم من السماء رزقا أي مطر يسبب الرزق .
-   الكلية : وذلك فيما اذا ذكر لفظ الكل وأريد منه الجزء. نحو : يجعلون أصابعهم في آذانهم " أي أناملهم والقرينة حالية وهي استحالة إدخال الأصبع كله في الأذن . ونحو : شربت ماء النيل . والمراد بعضه بقرينة شربت .
-       الجزئية : وذلك فيما إذا ذكر لفظ الجزء وأريد منه الكل . كقوله تعالي : فتحرير رقبة مؤمنة . والقرينة الأستحالة .
-   اللازمية : هي كون الشيء يجب وجودة عند وجود شيء آخر ، نحو : طالع الضوء أي الشمس . فالضوء مجاز مرسل علاقته " اللازمية" لأنه يوجد عند وجود الشمس . والمعتبر من هنا اللزوم الخاص وهو عدم الإنفكاك .
-   الملزومية : هي كون الشيء يجب عند وجوده وجود شيء آخر ، نحو : ملأت الشمس المكان . أي الضوء . فالشمس مجاز مرسل ، علاقته "الملزومية" لأنها متي وجدت وجد الضوء. والقرينة ملأت.
-       اعتبار ما كان "هو النظر الي الماضي أي تسمية الشيء باسم ما كان عليه نحو : وآتوا اليتامي اموالهم إي الذين كانوا يتامي ثم بغلوا فاليتامي مجاز مرسل . علاقته "اعتبار ما كان " .
-       اعتبار ما يكون : هو النظر الي المستقبل كقوله تعالي : أني آراني أعصر خمرا أي عنبا يؤؤل امره الي خمر .
-   الحالية : هي كون الشيء حالا في غيره وذلك فيما اذا ذكر لفظ الحال وأريد المحل ، نحو : ففي رحمة الله هم فيها خالدون " فالمراد من الرحمة "الجنة" التي تحل فيه الرحمة . فهم في جنة تحل فيه رحمة الله وكقوله تعالي : " خذوا زينتكم عند كل مسجد أي لباسكم لحلول الزينة فيه . فالزينة حال واللباس محلها .
-   المحلية : هي كون الشيء يحل فيه غيره . وذلك فيما اذا ذكر لفظ المحل وأريد به الحال فيه . كقوله تعالي : فليدع ناديه " أي اهل النادي ، وكقوله تعالي : وأسأل القرية : أي أهلها . والقرينة استحالة سؤال القرية .
المجاز العقلي :
المجاز العقلي هو إسناد الفعل أو ما في معناه إلي غير ما حقه أن يسند إليه لعلاقة مع قرينة صارفة عن أن يكون الإسناد الي ما حوله .
من علاقات المجاز العقلي :
-   الأسناد الي الزمان ، نحو : " من سره زمن ساءته أزمان " أسند الإساءة والسرور الي الزمن وهم لم يفعلها بل كانا واقعين فيه علي سبيل المجاز . ونحو : صام نهاره وقام ليله.
-   الإسناد إلي المكان : نحو " وجعلنا الأنهار تجري من تحتهم " فقد أسند الجري إلي الأنهار وهي أمكنة للمياه وليست جارية بل الجاري ماؤها .
-   الإسناد الي السبب : نحو : بني الأمير القصر . وكان حقه أن يسند الفاعل الحقيقي وهم العمال ، فيقال : بني العمال القصر بأمر الأمير لكنه أسند الي السبب الباعث الذي هو الأمير اسنادا مجازيا .
-   الإسناد الي المصدر ، نحو : جد جده وكان حقه أن يسند الفاعل الحقيقي الذي هو الإنسان فيقال جد الإنسان جدا . لكنه أسند غلي المصدر اسنادا مجازيا .
-   إسناد ما بني الفاعل إلي المفعول ، نحو : في عيشة راضية . فقد أسند فيه اسم الفاعل الي ضمير " العيشة" اسنادا مجازيا .
-       اسناد ما بني للمفعول الي الفاعل : نحو : جعلت بيني وبينك حجابا مستورا أي ساترا.

الكناية :
الكناية هي في اللغة : ان تتكلم بالشيء وتريد غيره .
معناها اصطلاحا : لفظ اطلق وأريد به لازم معناه الحقيقي مع قرينة مانعة من إرادة لذا المعني ، كما تقول : محمد طويلة النجاد . فالمعني الحقيقي لهذا اللفظ : هو ان نجاد محمد طويلة . ليس هذا مرادا إنما المراد لازم هذا المعني وهو ان محمدا طويل القامة . اذ يلزم عادة من طول نجاد أن تكون القامة طويلة . ويصح مع هذا إرادة المعني الحقيقي أيضا بان يراد المعنيان بها : طول النجاد وطول القامة .
بهذا تخالف الكتابة المجاز : فقرينة المجاز مانعة من إرادة المعني الحقيقي وقرينة الكناية ومانعة من إرادة المعني الحقيقي .
علم المعاني
تعريف علم المعاني :
هو علم به أحوال الكلام العربي التي يكون بها مطابقا لمقتضي الحال . فذكاء المخاطب حال تقتضي إيجاز القول ، فإذا أو جزت في خطابه كان كلامك مطابقا لمقتضي الحال . وغباوته حال تقتضي الأطناب والإطالة ، فإذا جاء كلامك في مخاطبته مطنيا فهو ميطابق لمقتضي الحال . ويكون كلامك في الحالين بليغا ولو انك عكست لانتفت من كلامك صفة البلاغة .
وتتلخص مباحث علم المعاني في امرين :
1.    أنه يبين لك وجوب مطابقة الكلام لحال السامعين والمواطن التي يقال فيها .
2.  دراسة ما يفهم من الكلام ضمنا بمعرفة القرائن . فإنه يريك أن الكلام يفيد بأصل وضعه ولكنه قد يؤدي إليك معني جديدا يفهم من السياق . كالأمر قد يفيد التعجيز والنهي قد يفيد الدعاء إلي غير ذلك .

تقسيم الكلام :
الكلام قسمان : خبر وإنشاء
فالخبر : ما يصح أن يقال لقائله أنه صادق فيد أو كاذب . فإن كان الكلام مطابقا للواقع قائله صادقا وإن كان غير مطابق له كان قائله كاذبا .
الأمثلة : العلم نافع – نجح المجتهد .
والإنشاء ما لا يصح أن يقال لقائله أنه صادق فيه او كاذب
الأمثلة : قل خيرا أو اصمت . لا تنه عن خلق وتأتي بمثله .
ولكل جملة من جمل الخبر والإنشاء ركنان : مسند ومسند إليه . وما زاد علي المسند والمسند إليه فهو قيد زائد علي تكوينها الآصلة الموصول والمضاف إليه .
القيود هي : أدوات الشرط والنفي والتوابع والمفاعيل والحال والتمييز وكان وأخواتها وإن واخواتها وظن وأخواتها .
مواضع المسند ثمانية :
1.    خبر المبتدأ – نحو " قادر " من قولك : الله قادر .
2.    الفعل التام – نحو " حضر " من قولك : حضر الأمير .
3.    اسم الفعل – نحو : هيهات – آمين ز
4.    المبتدأ الوصف المستغني عن الخبر بمرفوعه – نحو " عارف " من قولك : أعارف أخوك قدر العلم .
5.    أخبار النواسخ " كان وأخواتها " و " أن واخواتها "
6.    المفعول الثاني لظن واخواتها .
7.    المفعول الثالث – لأري واخواتها .
8.    المصدر النائب عن فعل الأمر – نحو سعياً في الخير .

ومواضع المسند إليه ستة :
1.    الفاعل للفعل التام أو شبهه نحو " فؤاد وأبوه " من قولك : حضر فؤاد اعالم أبوه .
2.  أسماء النواسخ : كان وأخواتها وإن وأخواتها نحو " المطر " من قولك " كان المطر غزيرا" و "نحو إن المطر غزير " .
3.    المبتدأ له خبر نحو العلم من قولك " العلم نافع "
4.    المفعول الأول لظن واخواتها .
5.    المفعول الثاني – لأري واخواتها .
6.    نائب الفاعل – كقوله تعالي " ووضع الكتاب " .

ثم إن المسند والمسند إليه يتنوعان إلي اربعة أقسام :
-       إما أن كونا كلمتين حقيقة – كما في الأمثلة السابقة .
-       وإما أن يكونا كلمتين حكما – نحو : لا إله إلا الله – نحو قائلها من النار أي توحيد الإله نجاة من النار .
-   وأما ان يكون المسند اليه كلمة حكما والمسند كلمة حقيقة نحو : تسمع بالمعيدي خير من أن تراه أي : سماعك بالعيدي خير من رؤيته .
-       واما بالعكس : نحو : الأمير قرب قدومه أي الأمير قريب قدومه .
ويسمي المسند والمسند اليه ركني الجملة وكل ما عداهما يعتبر قيدا زائدا عليعا كما سبق الكلام عليه .

الغرض من إلقاء الخبر :
الأصل في الخبر أن يلقي لأحد غرضين :
1.    إفادة المخاطب الحكم الذي تضمنته الجملة ويسمي ذلك الحكم فائدة الخبر .
2.    إفادة المخاطب أن المتكلم عالم بالحكم . ويسمي ذلك لازم الفائدة .
وقد يخرج الخبر عن الغرضين السابقين إلي أغراض أخري تفهم من سياق الكلام منها :
1.    الاسترحام والاسترجاع نحو : أني فقير الي عفو ربي .
2.    اظهار الضعف نحو : رب أني وهن العظم مني .
3.    اظهار التحسر علي شيء محبوب : نحو : ربي أني وضعتها أنثي .
4.    الفخر نحو : قوله (ص) أن الله اصطفاني من قريش .
5.    التحذير نحو : أبغض الحلال إلي الله الطلاق .
6.    المدح : كقول الشاعر :
كأنك شمس والملوك كواكب                        اذا طلعت لم يبد منهن كوكب
7.    الحث علي السعي والجد : كقول الشاعر
وليس أخو الحاجات من بات نائما                 ولكن أخوها من بيت علي وجل

في كيفية القاء المتكلم الخبر للمخاطب :
للمخاطب ثلاث حالات :
1.  ان يكون المخاطب خالي الذهن من الخبر غير متردد فيه ولا منكر له . وفي هذه الحال لا يؤكد له الكلام لعدم الحاجة الي التوكيد نحو قوله تعالي " المال والبنون زينة الحياة الدنيا " ويسمي هذا الضرب من الخبر ابتدائيا .
2.  أن يكون المخاطب مترددا في الخبر طالبا الوصول الي اليقين في معرفته وفي هذه الحال يستحسن تأكيد الكلام الملقي اليه ليتمكن من نفسه نحو : أن أخاك ناجح . ويسمي هذا الضرب من الخبر طلبا.
3.  أن يكون المخاطب للخبر . وفي هذه الحال يجب تأكيد الكلام له بمؤكد أو مؤكدين أو أكثر حسب حالة من الإنكار قوة وضعفا نحو : إن أخاك قادم – أو أنه قادم أو والله أنه لقادم . ويسمي هذه الضرب من الخبر إنكاريا .
توكيد الخبر :
لتوكيد الخبر ادوات كثيرة منها : إن وأن ولام الإبتداء وأحرف التنبيه والقسم ونونا التوكيد والحروف الزائدة (كتفضل واستفصل ) والتكرار وقد واما الشرطية وإنما وضمير الفصل إذا ألقي الخبر خاليا من التوكيد لخالي الذهن ومؤكد استحسانا للسائل المتردد ومؤكدا وجوبا للمنكر كان ذلك الخبر جاريا علي مقتضي الظاهر .
وقد يجري الخبر علي خلاف ما يقتضيه الظاهر لاعتبارات يلحظها المتكلم .
ومن ذلك ما يأتي :
1.  أن ينزل خالي الذهن منزلة السائل المتردد اذا تقدم في الكلام ما يشير الي حكم الخبر مثل قوله تعالي " ولا تخاطبني في الذين ظلموا أنهم مغرقون" أن الله لما نهي نوحا عن مخاطبته في شأن مخالفيه دفعه ذلك الي التطلع الي ما سيصيبهم فينزل لذلك منزلة السائل المتردد الحكم عليهم بالإغراق أم لا . فأجيب بقوله : أنهم مغرقون .
2.    أن يجعل غير المنكر كالمنكر لظهور أمارات الإنكار عليه كقوله تعالي : ثم أنكم بعد ذلك لميتون .
3.  أن يجعل المنكر كغير المنكر ان كان لديه دلائل وشواهد لو تأملها لارتدع عن إنكاره كقوله تعالي مخاطبا منكري وحدانيته : وإلاهكم إله واحد .

الإنشاء
الإنشاء لغة : الإيجاد واصطلاحا : ما لايصح أن يقال لقائله أنه صادق فيه او كاذب
وهو قسمان : طلبي وغير طلبي .
فالطلبي : ما يستدعي مطلوبا غير حاصل وقت الطلب وانواعه خمسة : الأمر – النهي – الاستفهام – التمني – النداء .
الأمر :
هو طلب الفعل علي وجه الإستعلاء وله أربع صيغ :
1.    فعل الأمر كقوله تعالي : يا يحي خذ الكتاب بقوة .
2.    والمضارع المجزوم بلام الأمر : كقوله تعالي : لينفق ذو سعة من سعته .
3.    واسم فعل الأمر – نحو : عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل اذا اهتديتم .
4.    والمصدر النائب عن فعل الأمر – نحو : سعيا في سبيل الخير .
وقد تخرج صيغ الأمر عن معناها الأصلي وهو الإيجاب والإلزام الي معان أخري تستفاد من سياق الكلام .
1.    الدعاء – كما في قوله تعالي : رب أوزعني أن أشكر نعمتك عليّ .
2.    الالتماس : كقولك لمن يساويك : أعطني القلم أيا الأخ .
3.    الإرشاد – كقوله تعالي :" اذا تداينت بدين إلي أجل مسمي فامتبوه وليكتب بينكم كاتب العدل".
4.    التهديد – كقوله تعالي :" اعملوا ما شئتم أنه بما تعملون بصير " .
5.    التعجيز : كقوله تعالي : " فأتوا بثورة من مثله ".
6.    الإباحة – كقوله تعالي " وكلوا واشربوا ".
7.    التسوية – كقوله تعالي " اصبرو ولا تصبروا "
8.    الإكرام – كقوله تعالي " ادخلوها بسلام آمنين ".
9.    الأهانة – كقوله تعالي " كونوا حجارة او حديدا ".
10.     الدوام – كقوله تعالي " يا أيها الذين آمنوا آمنوا " .
11.     الإذن – كقولك لمن طرق الباب : أدخل ز
12.     التخيير : نحو " تزوج هندا أو أختها .
13.     التأديب – نحو : كل مما يليك .
14.     التعجب كقوله تعالي " انظر كيف ضربوا لك الأمثال .

النهي :
النهي هو طلب الكف عن شيء علي وجه الاستعلاء . وله صيغة واحدة وهي المضارع المقرون بلا الناهية . كقوله تعالي " ولا تفسدوا في الارض بعد إصلاحها ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا ".
وقد تخرج هذه الصيغة عن اصل معناها الي معان اخري تفهم من سياق الكلام .
1.    كالدعاء – كقوله تعالي " ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطانا "
2.    الالتماس – كقولك لمن يساويك : أيها الاخ لا تكسل .
3.    الارشاد – كقوله تعالي " لا تسألوا عن أشياء إن تبد لكم تسؤكم ".
4.    التمني نحو : يا ليلة الأنس لا تنقضي .
5.    التهديد : كقولك لخادمك : لا تطع أمري .
6.    التوبيخ – نحو : لا تنه عن خلق وتأتي بمثله .
7.    التحقير – كقول الشاعر :
لا تطلب المجد غن المجد سُلمه           صعب وعش مستريحا ناعم البال

الاستفهام :
الاستفهام هو طلب العلم بشيء لم يكن معلوما من قبل . وله أدوات كثيرة منه وهي الهمزة وهل ومن وما ومتي وأيان وكيف وأين وأني وكم وأي
يطلب بالهمزة أحد أمرين :
1.    التصور – وهو إدراك المفردة وفي هذه الحال تأتي الهمزة متلوة بالمسئول عنه ويذكر له في الغالب معادل بعد أم
نحو :
أأنت المسافر أم اخوك ؟           أمشتر أنت أم بائع ؟           أراكبا جيئت أم ماشيا؟
2.    التصديق وهو إدراك النسبة وفي هذه الحال يمتنع ذكر المعادل :
نحو :
أيصدأ الذهب ؟            أتتحرك الأرض ؟              أيسير الغمام ؟
يطلب بهل التصديق ليس غير ويمتنع معها ذكر المعادل ، نحو : هل يعقل الحيوان ، هل يحس النبات ، هل ينمو الجماد .

وتنقسم أدوات الاستفهام بحسب الطلب الي ثلاثة أقسام :
1.    ما يطلب به التصور تارة والتصديق تارة أخري وهو الهمزة .
2.    ما يطلب به التصديق فقط وهو "هل".
3.    ما يطلب به التصور فقط وهو بقية ألفاظ الاستفهام الآتية :
          من – ويطلب بها تعيين العقلاء ، نحو : من مؤسس مدارس الخيرات؟
          ما – ويطلب بها شرح الاسم أو حقيقة المسمي ، نحو : ما المسجد؟ ما الشمس؟
          متي – ويطلب بها تعيين الزمان ماضيا كان أو مستقبلا ،
                نحو : متي تولي الخلافة عمر؟ ، متي يعود المسافرون ؟
          أيان – ويطلب بها تعيين الزمان المستقبل خاصة ويكون في موضع التهويل
                نحو : يسأل أيان يوم القيامة ؟
          كيف – ويطلب بها تعيين الحال ، نحو كيف حالك ؟
          أين – ويطلب بها تعيين المكان ، نحو : أين بيتك ؟
          أني – وتأتي لمعان عدة فتكون بمعني كيف وبمعني من اين وبمعني متي .
          كم – ويطلب بها تعيين العدد ، نحو : كم يوما في الأسبوع ؟
          أي – ويطلب بها تعيين احد المشاركين في أمر يهمهما ويسأل بها عن الزمان
          والحال والعدد والعاقل وغير العاقل علي حسب ما تضاف اليه .
وقد تخرج ألفاظ الاستفهام عن معناها الأصلي (وهو طلب العلم بالمجهول) فيستفهم بها عن الشيء مع العلم به لأغراض أخري تفهم من سياق الكلام ودلالته .
ومن أهم ذلك :
1.    الأمر – كقوله تعالي : " فهل أنتم منتهون أي انتهوا ".
2.    النهي – كقوله تعالي : "اتخشونهم فالله أحق أن تخشاه" " أي لا تخشوهم "
3.    التسوية – كقوله تعالي : "سواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون "
4.    النفي – كقوله تعالي : "هل جزاء الإحسان إلا الإحسان "
5.    الإنكار – كقوله تعالي : "أغير الله تدهون "
6.    التحقير – كقول الشاعر  :
          فدع اليتيم فما وعيدك ضائري        أطنيني أجنحة الذباب يضير
7.    التعظيم – كقوله تعالي : " من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه "
8.    التقرير – كقول البحتري :
      الست أعمهم جودا واركــا     هم عودا وأمضاهم حساما

التمني :
هو أمر محبوب لا يرجي حصوله
1.    أما لكونه مستحيلا كقوله :
ألا ليت الشباب يعود يوما          فأخبره بما فعل المشيب
2.    وإما لكونه ممكنا غير مطموع في نيله – كقوله تعالي : " يا ليت مثل ما أوتي قارون"
واذا كان الأمر المحبوب مما يرجي حصوله كان طلبه " ترجيا" . ويعبر فيه " بعسي ولعل "  – كقوله تعالي : " لعل الله يحدث بعد ذلك أمرا وعسي الله أن يأتي" أن يأتي بالفتح وقد تستعمل في الترجي " ليت " لغرض بلاغي ، وهو إبراز المرجو في صورة المستحيل مبالغة في بعد نيله .
وللتمني أربع أدوات واحدة اصلية وهي "ليت " وثلاث غير أصلية نائبة عنها ويتمني بها لغرض بلاغي وهي :
1.    هل – كقوله تعالي : " فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا "
2.    و لو – كقوله تعالي : "فلو أن لنا كرة فنكون من المؤمنين "
3.    و لعل كقوله لا:
أسرب القطا هل من يعبر جناحه          لعل الي من قد هويت أطير

النداء :
النداء هو طلب المتكلم إقبال المخاطب عليه بحرف نائب مناب " أنادي"
وأدواته ثمانية : الهمزة وأي و آ و يا و آي و ايا وهيا و وا . وهي في كيفية الاستعمال نوعان :
1.    الهمزة واي لنداء القريب .
2.    باقي الأدوات لنداء البعيد .
وقد ينزل البعيد منزلة القريب فينادي بالهمزة وأي إشارة إلي انه لشدة استحضاره في ذهن المتلكم صار كالحاضر معه لا يغيب به عن القلب .
كقول الشاعر :
اسُكّان نعمان العاق تيقندا              بأنكم في ربع قلبي سكان
وقد ينزل القريب منزلة البعيد فينادي بغير " الهمزة" واي :
1.    إشارة إيل علو مرتبته فيجعل بُعد المنزلة مأنه بُعد في المكان ، كقولك : أيا مولاي  وانت معه للدلالة علي أن المنادي عظيم القدر.
2.    ا و إشارة الي انحطاط منزلته ودرجته كقولك " ا يهذا " لمن هو معك .
3.    ا و إشارة الي ان السامع لغفلته وشرود ذهنه كأنه غير حاضر كقولك
للساهي : "ايا فلان"
وقد تخرج الفاظ النداء عن معناها الأصلي الي معان أخري تفهم من السياق ومن أهم ذلك :
1.    الأغراء : نحو قولك لمن يتظلم  : يا مظلوم .
2.    التحسر – كقوله تعالي : ياليتني كنت ترابا

القصر :
القصر هو : تخصيص أمر بأمر بطريق مخصوص . مثاله :
ما شاعر إلا شوقى . فمعناه تخصيص شوقى بالشعر .
طرق القصر:
للقصر طرق كثيرة – واشهرها فى الاستعمال اربعة وهى :
1-   النفى والاستثناء نحو : ما شوقى إلا شاعر او ما شاعر إلا شوقى
2-   إنما – نحو : إنما يخشى الله من عباده العلماء
3-   العطف بلا و بل ولكن نحو : الارض متحركة لا ثابتة . ما الارض ثابتة بل متحركة ما الارض ثابتة لكن متحركة
4-   تقديم ما حقه التأخير ، نحو : اياك نعبد واياك نستعين
                                     على الرجال العاملين نشنى
لكل قصر طرفان : مقصور ومقصور عليه
1-    فالمقصور عليه فى النفى و الاستثناء  هو المذكور بعد اداة الاستثناء .            نحو : وما توفيقى الا بالله .
2-    والمقصور عليه مع "انما" هو المذكور بعدها ويكون مؤخرا فى الجملة وجوبا      نحو : انما الدنيا غرور .
3-  والمقصور عليه مع  لا  العاطفة هو المذكور قبلها والقابل لما بعدها              نحو : الفخر بالعمل لا بالمال .
4-  والمقصور عليه مع  بل ولكن العاطفتين هو المذكور ما بعدهما                    نحو : ما الفخر بالمال بل بالعمل ، ونحو : ما الفخر بالنسب لكن بالتقوى
5-    و المقصور عليه فى تقديم ما حقه التأخير هو المذكور المتقدم نحو : على الله توكلنا
فى تقسيم القصر باعتبار طرفيه
ينقسم القصر باعتبار طرفيه الى قسمين :
1- قصر صفة على موصوف – هو ان تحبس الصفة على موصفها وتختص به فلا يتصف بها غيره . وقد يتصف هذا الموصوف بغيرها من الصفات .    
مثل : لا رازق الا الله . لا جواد الا علىّ .
2- قصر موصوف على صفة – و هو ان يحبس الموصوف على الصفة ويختص بها دون غيرها وقد يشاركه غيره فيها . مثل : انما حسن شجاع – انما شوقى شاعر .

فى تقسيم القصر باعتبار الحقيقة و الواقع
ينقسم القصر باعتبار الحقيقة و الواقع الى قسمين :
1- قصر حقيقى – و هو ان يختص المقصور عليه بحسب الحقيقة والواقع بألا يتعداه الى غيره اصلا نحو : لا اله الا الله ، لا يروى ارض مصر الا النيل
2- قصر إضافى – و هو ان يختص المقصور بالمقصور عليه بحسن الاضافة الى شئ آخر معين لا لجميع ما عداه . نحو ها سافر الا خليل . فانك تقصد قصر السفر عليه بالنسبة لشخص غيره كمحمود مثلا وليس قصدك انه لا يوجد مسافرا سواه . اذا لو اتبع يشهد ببطلانه

في تقسيم القصر الاضافى
تقسيم القصر الاضافى على حسب حال المخاطب الى ثلاثة انواع :
1-    قصر افراد – اذا اعتقد المخاطب الشركة نحو : انما الله اله و احد – ردا على من اعتقد ان الله ثالث ثلاثة .
2-  قصر قلب – اذا اعتقد المخاطب عكس الحكم الذى تثبته نحو : ما سافر الا على – ردا على من اعتقد ان المسافر خليل لا على
3-  قصر تعيين – اذا كان المخاطب يتردد فى الحكم . كما اذا كان متردد فى كون الارض متحركة او ثابتة فتقول له : الارض متحركة لا ثابتة ردا على من شك وتردد فى ذلك الحكم .
الإيجاز و الاطناب و المساوة
يختار البليغ للتعبير عما فى نفسه طريقا من طرق ثلاث . فهو تارة يوجز وتارة يسهب وتارة يأتى بالعبارة بين بين على حسب ما تقتضيه حال المخاطب .
المساوة
هى ان تكون المعانى بقدر الالفاظ و الالفاظ بقدر المعانى لا يزيد بعضها على بعض .

الامثلة :
قال تعالى : وما تقدمو الا نفسكم من خير تجدوه عند الله .
قال طرفة بن العبد : سنبدى لك الايام ما كنت جاهلا
ويأتيك بالاخبار من لم تزود
الايجار
وضع المعانى الكثيرة فى الفاظ اقل منها مع الابانة و الافضاح .
الامثلة :
قال تعالى : خذ العفو وأمر بالمعروف واعرض عن الجاهلين .
قال تعالى : الاله الخلق و الامر .
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الضعيف امير الركب .
والايجاز نوعان : ايجاز قصر وايجاز حذف
1- ايجاز قصر – بتضمين العبارات القصيرة معانى كثيرة من غير حذف كما فى الامثلة المتقدمة ، وكقوله تعالى : ولكم فى القصاص حياة .
2-  ايجاز حذف – ويكون بحذف حرف 1 وكلمه او جملة او اكثر مع قرينة تعين المحذوف .
الامثلة :
أ‌-     قال تعالى : ولم اك بغيا ، اصله : ولم اكن
ب‌-       قال تعالى : وجاهدو فى الله حق جهادة . اى فى سبيل الله .
ج- قال تعالى : كان الناس امة واحدة فبعث الله النبيين ,اى فاختلفوا
د- قال تعالى فى حكايه موسى مع ابنتى شعيب : فسقى لهما ثم تولى الى الظل – فقال ربى انى لما لنزلت الى من خير فقيز فجائته احداهما تمشى على استحياء قالت : إن ابى يدعوك ليجزيك اجر ما سقيت لنا .
ونظم الكلام من غير حذف ان يقال : فذهبنا الى ابيهما وقصتا عليه ما كان من امر موسى فارسل اليه . فجائته احداهما تمشى على استحياء .
الاطناب
 الاطناب – زيادة اللفظ على المعنى لفئدة . ويكون بإمور عدة ، منها :
أ‌-  ذكر الخاص بعد العام كقوله تعالى : حافظوا على الصلوات و الصلاة الوسطى وفائدته التنبيه على فضل الخاص
ب‌-   ذكر العام بعد الخاص . كقوله تعالى : رب اغفر لى ولوالدى ولمن دخل بيتى مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات . وفائدته شمول بقية الافراد مع العناية بشأن الخاص
ج- الايضاح بعد الابهام ، كقوله تعالى : يا ايها الذين آمنوا هل ادلكم على تجارة تنجيكم من عذاب اليم تؤمنون بالله ورسوله وتجاهدون فى سبيل الله  باموالكم وانفسكم
د- التكرار – وهو ذكر الشئ مرتين او اكثر :
      الاول : للتأكيد كقوله تعالى : فان مع العسر يسرا إن مع العسر يسرا
  الثانى : طول الفصل , كقوله تعالى : انى رايت احد عشر كوكبا والشمس والقمر
        رأيتهم لى ساجدين . فكرر رايت  لطول الفصل .
      الثالث : قصد الاستيعاب نحو : قرأت الكتاب بأبأ وفهمته كلمة كلمة
      الرابع : التلذذ بذكره ، كقول الشاعر :
         سقى الله نجدا والسلام على نجد *  ويا حبذا نجد على القرب والمجد
والله اعلم

علم البديع :
علم البديع هو علم يعرف به وجوه تحسين الكلام المطابق لمقتضي الحال .
تقسيم وجوه التحسين :
ينقسم المحسنات البديعية الي قسمين : محسنات لفظية ومحسنات معنوية .
فاللفظية : هي التي يكون التحسين بها راجعا الي أصالة وإن تبعه تحسين المعني وكنه غير مراد .
والمعنوية : هي التي كون التحسين بها راجعا الي المعني أصالة .
المحسنات اللفظية :
1-   الجناس : الجناس هو ان يتشابه اللفظان في النطق ويختلفا في المعني . وهو نوعان:
1)    تام : وهو ما اتفق فيه اللفظان في أمور اربعة هي نوع الحروف وشكلها وعددها وترتيبها . الأمثلة :
قال تعالي : ووم تقوم الساعة يقسم المجرمون ما لبثوا غير ساعة
قال الشاعر :
فدارهم ما دمت في دارهم                 وارضهم ما دمت في ارضهم
وكقولك :
ارع الجار ولو جار
2)    غير تام : ما اختلف فه اللفظان في واحد من الأمور الأربعة المتقدمة
الأمثلة :
قال تعالي : وهم ينهون عنه ويناون عنه .
قال تعالي : فأما التيم فلا تقهر وأما السائل فلا تنهر .
قال الشاعر : هلا نهاك عن لوام أمري .
قال الشاعر : إن البكاء هو الشفا                ء من الجوي بين الجوانح
قال تعالي حكاة عن هارون يخاطب موسي : "خشيت أن تقول فرقت بين بني إسرائيل ".
2-   السجع : والسجع هو توافق الفاصلتين في الحرف الأخير . الأمثلة :
قال صلي الله عله وسلم : اللهم اعط منفقا خلفا واعط ممسكا تلفا .
وقال اعربي ذهب بابنه السيل : اللهم ان كنت قد أبلي فإنك طاما د عافيت .
قال بعض البلغاء : الإنسان بأدابه لا بزه وثيابه .
والسجع موطنه النثر . وقد يجيء في الشعر كقو أبي الطيب :
فنحن في جدل والروم في وحل                والبر في شغل والبحر في خجل
3-   الاقتباس : وهو تضمين النثر والشعر شيئا من القرآن الكريم والحديث الشريف من غير دلالة علي انه منهما . ويجوز أن يغبر في الاثر المقتبس قليلا . الأمثلة :
قال عبد الؤمن الأصفهاني :
لا تغرنك من الظلمة كثرة الجيوش والأنصار *إنما نؤخرهم ليوم تشخص فيه الأبصار
قال أبو جعفر الأندلسي :
لا تعاد الناس في اوطانهم             قلما يرعي غريب الوطن
واذا ما شت عيشا بينهم               خالق الناس بخلق حسن
4-   رد العجز علي الصدر
1)    رد العجز علي الصدر " في النثر " هو أن جع أحد اللفظين المكررين أو المتجانسين في اللفظ دن المعني في أول الفقرة والآخر في آخرها .
فمثال المكررين قوله " ولا تخشي الناسوالله أحق ان تخشاه
فقد جعل أحد اللفظين المكررين أي المتفقين لفظا ومعني في أول الفقرة والثاني في آخرها .
ومثال المتجانسين قوه : سائل اللئيم مرجع ودمعه سائل
فالأول مأخوذ من السؤال والثاني من السيلان .
2)    رد العجز علي الصدر في النظم : هو أن يجعل أحد اللفظين أو المتجانسين في اللفظ دون المعني في آخر البيت والآخر في صدر المصراع الاول أو في حشوه أو في آخره . واما صدر المصراع الثاني . الأمثة :
1.    سريع الي ان العم يطم وجهه            وليس الي داعي الندي بسريع
2.    تمتع من شميم عرار نجد                فما بعد العشية من عرار
العرار : وردة ناعمة طيبة الرائحة .
3.    ومن كان بالبيض الكواعب مغرما       فما زت البيض القواضب مغرما
الكواعب جمع كاعب وهي الجارية والبيض القواضب السيوف القواطع.
5-   العكس :
وهو أن يقدم جزء من الكلام علي آخر ثم يعكس فيؤخر ما قدّم ويقدم ما آخر . كما تقول : قو الموك موك القول .
ويقع العكس علي وجوه :
1.    أن تقع بين أحد طرفي جملة وما أضيف اليه ذلك كما تقدم في المثال السابق " قول الإمام امام القول ".
2.    أن يقع بين متعلقين فعلين في جملتين ، كقوله تعالي " يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي " فالحي والميت متعلقان " بيخرج " في الجملتين .وقدم أولا الحي علي الميت م عكس فقدم الميت علي الحي .
3.    أن يقع بين لفظين في طرفي جملتين ، كقوله تعالي " لا هن ح لهم ولا هم حل لهن " .
المحسنات المعنوية :
1-   الطباق : هو الجمع بين لفظين متقابلين في المعني أو هو الجمع بين اللفظ وضده ف الكلام . الأمثلة :
1)    قال تعالي : ( هو الأول والآخر والظاهر والباطن ) .
2)    قال تعالي : ( وتحسبهم أيقاظا وهو رقود ) .
3)    قال تعالي : ( ثم لا يموت فيها ولا يحيا ).
الطباق نوعان :
1)    طبق الإيجاب : وهو ما ما يختلف فيه الضدان ايجابا وسلبا .
مقل قوله صلي الله عليه وسلم : خير المال عين ساهرة لعين نائمة .
2)    طباق السلب : هو ما اختلف فيه الضدان ايجابا وسلبا
كقوله تعالي : يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله .
وقول الشاعر :
وننكران شيئا علي الناس قولهم   ولا ينكرون القول حين نقول
2-   المقابلة :
هي أن يؤتي بمعنيين أو أكثر ثم يؤتي بما يقابل ذلك علي الترتيب .
الأمثلة :
1)    قال تعالي :" فأما من أعطي وإتقي وصدّق الحسني فسنيسره لليسري وأما من بخل وإستغني وكذب بالحسني فسنيسره للعسري .
2)    قال صلي الله عليه وسلم : أنكم لتكثرون عند الفزع وتقلون عند الطمع
3)    قال الشاعر : ما أحسن الدين والدنيا اذا اجتمعا  وأقبح الكفر والإفلاس بالرجل



3-   التورية :
هي أن يذكر المتكلم لفظا مفردا له معنيان أحدهما قريب ظاهر غير مراد وبعيد خفي هو المراد . الأمثلة
لحاظ ابراهيم :
يقولون أن الشوق نار ولوعة فما بال " شوقي " الآن أصبح باردا
لأحمد شوقي :
واودعت إنسانا وكلبا وديــعة                فضيعها الإنسان والكلب " حافظا "

4-   حسن التعليل :
هو أن يذكر الأديب صراحة او ضمنا علة الشيء المعروفة ويأتي بعة أخري ظريفة تناسب الغرض الذي يقد إليه .
كقول الشاعر في قلة المطر بمصر :
ما قصر الغيت بمصر وتربتها                 طبعا ولكن تداكم من الخجل
وكقول الشاعر :
ما زلزت مصر من كد أم بهـا          لكنها رقصت من عدلكم طربا

5-   تأكيد المدح بما يشبه الذم :
وهي ضربان :
1)    أن يستثني من صفة ذم منفية صفة مدح . كقو ابن الرومي :
ليس به عيب سوي أنه         لا تقع العين علي شبهه
وقال آخر
ولا عيب في معروفهم غير أنه         يبين عجز الشاكرين عن الشكر
2)    أن يثبت لشيء صفة مدح ويؤتي بعدها بأداة إستثناء تليها صفة مدح أخري .
كقوله صلي الله عليه وسلم : " أنا أفصح العرب بيدا أني من قريش ".
وكقول النابغة الجعدي :
فتي كملت أخلاقه غير أنــه     جواد فما يبقي علي المال باقيا

6-   تأكيد الذم بما يشبه المدح :
وهي ضربان :
1)    أن يستثني من صفة مدح منفية صفة ذم . كقولك :
لا جمال في الخطبة إلا انها طويلة في غير فائدة .
2)    أن يثبت لشيء صفة ذم ويؤتي بعدها بأداة إستثناء تليها صفة ذمأخري .
كقولك : القوم شحاح إلا أنهم جبناء

7-   أسلوب الحكيم .
هو تلقي المخاطب بغير ما ترقبه أما بترك سؤاله والإجابة عن سؤال لم يسأله وأما بحمل كلامه علي غير ما كان بقصد إشارة إلي أنه كان ينبغي له أن يسأل هذا السؤال ويقصد هذا المعني .
الأمثلة :
قال تعالي : يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج .
قيل لشيخ هرم : كم سنك ، فقال : أني أنعم بالعافية .
قيل لتاجر : كم رأس مالك ، فقال : أني أمين وثقة الناس بي عظيمة .


والله اعلم